PANGGILAN TERBUKA PAMERAN SENI

Pekan Nan Tumpah 2025

Festival: 24–30 Agustus 2025
Fabriek Padang, Sumatera Barat

Batas Akhir Pengajuan: 12 Juli 2025


Gagasan Pekan Nan Tumpah 2025

Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah:

Kalo Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham

Mari jujur sebentar: apa yang lebih sulit dari merancang festival seni? Menjelaskannya dengan jujur. Itu yang coba kami lakukan di Komunitas Seni Nan Tumpah saat kembali menggelar Pekan Nan Tumpah 2025 ini. Kami tahu sejak awal bahwa gelaran ini bukan ruang pameran atau pertunjukan yang rapi. Bukan ruang tempel atau etalase karya saja, bukan tempat menyusun nama-nama besar atau kecil dalam seni, dan jelas bukan perayaan keteraturan.

Festival yang sudah kami gelar sejak 2011 ini lahir tidak dari niat ingin mendidik publik, mengubah wacana seni nasional, atau mengemas lokalitas sebagai komoditas pariwisata. Festival ini hadir dari sesuatu yang lebih sederhana, tapi lebih langka: keinginan untuk bertemu. Dan dari pertemuan itulah lahir ruang-ruang lain untuk cipta, galeri, dan panggung yang selalu terbuka bagi gagasan yang belum matang, bentuk yang belum sah, dan ekspresi yang kadang tak tahu atau tak yakin dirinya sedang jadi seni. Sebagaimana semua hal yang tumpah, festival ini tidak pernah bisa dirapikan sepenuhnya.

Tema tahun ini: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah. Ini bukan trilogi. Ini bukan konsep besar atau tesis. Ini batuk panjang dan suara serak dari mulut seni yang bosan diklasifikasi. Tema ini muncul karena siapapun yang melihat praktik seni hari ini tahu: disiplin itu sudah berantakan. 

Ada yang menari dengan (membawa) kamera, melukis dengan seluruh anggota tubuh, membacakan arsip seperti pembacaan puisi, dan ada yang menyulap koran bekas serta surat hutang jadi performans. Mereka menjadikan pos ronda, gang-gang perumahan, sawah atau lapau kopi sebagai galeri dan panggung terbuka sekaligus arena untuk membuat konten. Bahkan pada satu karya pertunjukan atau pameran seni, bisa muncul puisi, gamad, video mapping, games, kotbah absurd, turuk laggai, hingga iklan dagang sala lauak sekaligus. 

Begitulah. Dalam dunia yang serba tercerai-berai, kami tak percaya pada satu definisi seni yang tunggal. Seni telah sampai di titik di mana batas-batasnya tak lagi jelas, keasliannya terus diragukan, eksistensinya tidak lagi sakral, tapi justru banal atau sengaja dibanalkan. Maka kami tumpah-silangkan saja semuanya: gagasan, bentuk, narasi, cara kerja. Semua boleh menyeberang, menyimpang, dan bertabrakan. Ini bisa jadi semacam pengingat bahwa seni tidak saja perkara satu-dua bentuk mapan, tapi juga keberanian untuk merobek label, mencampur hal-hal yang dulu dianggap tak pantas bertemu. 

Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah adalah tiga jalan yang berpotongan di tengah simpang bingung seni kontemporer. Kami tidak sedang bermaksud menyederhanakan. Justru sebaliknya, kami ingin mengajak pengunjung menyelami kompleksitas seni hari ini, yang tak bisa lagi dibingkai dengan dikotomi lama. Kami tidak sedang bekerja untuk memberi arah, tapi membuka banyak celah. Kami justru mengundang orang lain tersesat bersama, karena mungkin di sanalah seni hari ini paling hidup.

“Seni murni” kami sebut bukan karena kami percaya pada kemurnian. Tapi karena kami tahu: beberapa karya memang butuh ruang sunyi. Kadang, butuh jeda dan hening agar makna itu muncul ke permukaan. “Seni terapan” kami akomodir bukan karena tunduk pada fungsi, tapi karena fungsi tak pernah benar-benar menghapus makna. 

Estetika bisa muncul dalam desain kaos dan spanduk, dalam bentuk kemasan rendang, teaser, panggung modular, atau bahkan dalam sistem antrian festival. Dan “seni terserah” adalah tempat di mana yang tidak pas justru menemukan ritmenya sendiri, yang tak lulus akademi tapi paham betul bagaimana tubuh bicara. Seni Terserah adalah tempat bagi yang tidak bisa (atau tidak ingin) didefinisikan. Di sinilah eksperimen, humor, cime’eh, absurditas, atau kekacauan yang disengaja mengambil tempat. Di sini, “tidak jelas” bukan cela, tapi mungkin saja metode. 

Maka jika kamu datang ke festival ini dan merasa langsung paham, mungkin kamu salah paham. Mungkin kamu perlu duduk lebih lama atau hadir kembali pada hari berikutnya. Karena di sini, kejelasan bukan tujuan. Bahkan, ia mungkin jebakan.

Ruang yang Tidak Pernah Selesai

Pekan Nan Tumpah kami sebut sebagai ruang temu. Kadang temu itu tak disengaja. Kadang tak diinginkan. Tapi justru karena itulah ia bertahan hidup. Di sini, diskusi bisa jadi rebutan mic, pertunjukan bisa berubah jadi pertengkaran atau jadi kritikan sosial yang disampaikan melalui sindiran, dan karya bisa memilih menatap balik penontonnya. Festival ini tidak menjanjikan tatanan yang mapan. Tapi ia percaya pada proses,  beragam perspektif, dan cara kerja yang campur aduk sebagai metode.

Campur aduk bukan berarti serampangan. Justru di sinilah kedewasaan artistik, kerja kolaborasi dan kecerdasan emosional diuji. Komposisi hanya mungkin jika tiap elemen tahu dirinya, tahu batasnya, dan tahu kapan harus diam. Serupa pertunjukan randai yang tidak menolak intervensi audio pedagang Es Walls, kacang rebus atau kepulan asap Sate Ajo Amaik yang berjualan di sekitarnya. 

Seperti pertunjukan yang memberi ruang bagi baliho anggota DPRD sebagai backdrop, karena begitulah realitas kita.  Sebab itu, kurasi pada festival ini kami namakan sebagai seni menyulam kekacauan. Kurasi bukan pagar, tapi adalah jaring. Yang menangkap bukan yang paling canggih, tapi yang paling mampu menyentuh yang lain.

Itulah kenapa dalam perkembangannya, Pekan Nan Tumpah tidak memilih jalur tunggal. Ia kemudian tidak ingin menjadi festival teater atau seni pertunjukan, festival seni rupa murni, festival desain, musik, seni media, atau festival sastra. Dari penyelenggaraan kelima di tahun 2019, ia memilih menjadi semua itu, atau tidak satu pun dari itu. Tapi justru dalam kekacauan itulah muncul logika baru. Seperti pepatah Minangkabau bilang, alam takambang jadi guru. Tapi guru macam apa kalau ruang belajarnya tak mau kotor? Kami ingin ruang itu penuh: dengan aksen, nada, kelakar, dan percakapan yang belum tentu masuk akal, tapi terasa penting. Karya yang baik tak selalu harus menjelaskan dirinya. Kadang ia cukup membuat orang berhenti sejenak, menoleh, lalu bilang: “Saya nggak tahu ini apa, tapi saya betah.”

Bahasa Lokal Sebagai Taktik, Bukan Dekorasi

Kami bicara tentang seni kontemporer bukan karena gaya, tapi karena keterdesakan waktu. Kami bicara tentang intermedia bukan karena tren, tapi karena sebelum dunia punya istilah itu, kami sudah melakukannya di halaman rumah. Intermedia karena memang tidak ada satu medium pun yang cukup sendirian. Kami bicara vernakular bukan karena nostalgia, tapi karena realitas. 


Karya seperti apa yang kami cari? 

Pekan Nan Tumpah kembali hadir, dan kami membuka satu ruang penting: ruang panggilan terbuka karya untuk seniman, kelompok atau kolektif seni dan bukan seni, komunitas, pengrajin, tukang desain, tukang kaba, pemantun, penari, pemain sandiwara, pembuat baliho, penyulam data, pelukis, tukang sablon, penjual ide, pembaca langit, atau siapapun yang merasa punya karya, hasrat, atau kekacauan untuk mengajukan karya dan gagasan yang bisa dibawa ke Pekan Nan Tumpah 2025. 

Kami membuka panggilan karya untuk: Seniman individu, kolektif atau kelompok seni, komunitas kreatif lintas bidang yang berdomisili atau berbasis di Sumatera Barat, dengan karya sesuai tema: seni murni, seni terapan, seni terserah. Ada bentuk-bentuk karya yang tenang, hening, dan dianggap “serius” yang bisa kami akomodir. Ada juga karya yang bergulat dengan fungsi, desain, kemasan atau presentasi, juga kami akomodir. Sisanya adalah mungkin karya yang tidak takut dianggap berada di antara atau di luar kategori; karya yang eksperimental, seni media campuran, hibrid, atau interdisipliner. Karya yang berani menyentuh ranah sosial, publik, atau personal dengan cara yang tidak biasa. Karya yang bersifat eksperimental, cair, tidak konvensional atau “belum jadi sepenuhnya” justru sangat kami tunggu. Bisa berwujud visual, performans, suara, teks, partisipatif, instalasi, atau bentuk lain yang belum masuk klasifikasi tertentu. 

Syarat dan Ketentuan Umum:

  1. Terbuka bagi umum baik individu, kolektif, komunitas yang berdomisili atau berbasis di Sumatera Barat.
  2. Karya dapat digarap secara individual atau kolaboratif.
  3. Semua medium diterima: 
  1. Performans
  2. Karya 2 dimensi: lukisan, sketsa, kolase, drawing, komik, fotografi, dan sebagainya. Medium bebas seperti kertas, kanvas, kain, logam, kayu, dan lain-lain (ukuran karya minimal A3 atau 30 cm x 42 cm).
  3. Karya 3 dimensi: patung, instalasi, keramik, kriya, objek, anyaman, dan sebagainya (ukuran karya tidak dibatasi).
  4. Karya seni media: video, desain, film pendek, sound, bunyi, musik, animasi, games, dan lain-lain.
  5. Karya berbasis teks, karya tulis, arsip, objek lain atau gabungan poin ‘a’ sampai dengan  ‘d’.
  6. Karya dengan medium yang belum dituliskan pada poin ‘a’ sampai dengan ‘e’.
  7. Program interaktif berbasis komunitas.
  1. Karya boleh sudah pernah dipamerkan/dipresentasikan sebelumnya.  Boleh karya baru atau adaptasi karya lama sebelumnya, selama masih relevan,  sesuai dengan tema dan semangat festival dan ingin dipertemukan dengan penonton baru.
  2. Karya harus bisa dipamerkan/ditampilkan dalam bentuk yang layak untuk ruang terbuka publik.
  3. Setiap peserta hanya boleh mengajukan maksimal 2 karya.
  4. Karya tidak mengandung unsur atau pesan ujaran kebencian/diskriminasi terhadap satu golongan tertentu berdasarkan suku, agama, dan ras.
  5. Peserta harus bersedia hadir langsung di lokasi saat pen-display-an karya dan festival berlangsung.
  6. Peserta mengunggah data yang terdiri dari:
  1. Judul Karya
  2. Deskripsi Karya:  gagasan utama, bentuk presentasi, relevansi dengan tema festival (maksimal 500 kata).
  3. Penjelasan: karya baru/sedang proses, karya lama. (Jika karya lama, jelaskan kapan dibuat, sudah dipresentasikan/pameran di mana dan kenapa tetap relevan).
  4. Foto karya dengan kualitas gambar yang baik maksimal 10 MB, atau foto sketsa/visualisasi konsep (tidak harus rapi)/dokumentasi visual lainnya.
  5. Penjelasan Teknis Karya (estimasi ukuran, medium, durasi, kebutuhan listrik, area khusus,  kru dan lain-lain).
  6. Foto diri/kolektif (beserta logo) dengan kualitas gambar yang baik, maksimal 10 MB.
  7. Profil/portofolio singkat pengkarya/kolektif (maksimal 250 kata)
  8. Tautan dokumentasi karya sebelumnya (misalnya: tautan GDrive, Instagram, dan media sosial lain).
  1. Dokumen pada poin 9 dikirimkan secara digital melalui tautan berikut: Formulir.
  2. Paling lambat tanggal 12 Juli 2025 pukul 23.59 WIB.

Perlu dicatat:

  1. Tim Kurator akan menilai bukan hanya hasil, tapi juga proses. Kurasi bukan memilih karya yang paling hebat atau paling artistik, tapi karya yang paling sesuai dengan tema, karya yang paling mengganggu, menggelitik, menyentuh, atau memicu percakapan.
  2. Karya terpilih akan melalui proses asistensi kuratorial. Ini penting, karena bukan hanya karya yang kami buka, tapi juga proses dialog dan ruang temu. 
  3. Biaya pengiriman dan pengembalian karya fisik ditanggung panitia (mekanisme dan besaran biaya disampaikan pada saat technical meeting peserta yang dinyatakan lolos kurasi).
  4. Panitia memberikan apresiasi dalam bentuk sertifikat, katalog/buku acara, buku seri Diskusi Kelompok Terpumpun Pekan Nan Tumpah 2025, kaos festival, dan konsumsi selama pen-display-an karya dan festival berlangsung.

Tanggal-tanggal Penting

1-12 Juli 2025: Pendaftaran dan pengunggahan data karya.

13-17 Juli 2025: Proses Kurasi.

18 Juli 2025: Pengumuman Karya Terpilih.

19-25 Juli: Asistensi Karya (online/offline).

12- 17 Agustus: Pengiriman dan Instalasi/Display karya di Lokasi.

24-30 Agustus 2025: Festival Berlangsung.

1-3 September 2025: Pengambilan/Pengembalian Karya.


Kalau kamu merasa nggak tau ini festival seni macam apa, kamu mungkin perlu mengirim karya. Selamat mencalonkan karya, dan kalo ada hal-hal yang belum kamu yakin bisa hubungi kontak 0821-7130-5857 (Srikandi Putri).


Tentang Pekan Nan Tumpah

Pekan Nan Tumpah adalah program penyelenggaraan festival seni dwitahunan yang dilaksanakan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah sejak tahun 2011. Program ini digagas sebagai muara dari keseluruhan program yang telah diselenggarakan selama dua tahun sebelumnya dan juga sebagai ajang kolaborasi banyak pihak dari beragam bidang. Selain itu, festival ini juga digagas sebagai respon terhadap minimnya sebuah festival yang diselenggarakan secara kontinu oleh komunitas di Sumatera Barat. Festival seni yang digarap dan diselenggarakan dengan baik akan menciptakan iklim publik penonton festival yang loyal dan Pekan Nan Tumpah diselenggarakan dengan mempertimbangkan hal tersebut.

Bentuk kegiatan Pekan Nan Tumpah adalah pertunjukan seni (teater, tari, musik), pameran seni,  lokakarya, pergelaran seni tradisional, dan bazaar produk UMKM. Capaian akhir dari Pekan Nan Tumpah adalah terbangunnya ekosistem seni yang terintegrasi dengan banyak komunitas, pegiat seni, pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat umum.

Sejak 2011, Pekan Nan Tumpah telah diselenggarakan sebanyak 6 (enam) kali dan telah meilbatkan puluhan kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia, ratusan perupa, puluhan band lokal, puluhan pegiat UMKM, dan ratusan relawan dari berbagai komunitas, instansi, dan individu yang turut membantu pelaksanaan Pekan Nan Tumpah.

Pekan Nan Tumpah menjadi salah satu festival yang dikelola secara swadaya oleh komunitas yang mampu bertahan selama lebih dari 10 (sepuluh) tahun dan juga menjadi salah satu festival seni yang kehadirannya selalu dinanti oleh banyak publik penikmat. Pada pelaksanaan Pekan Nan Tumpah yang terakhir, tepatnya pada Pekan Nan Tumpah 2021, tidak kurang dari 7000 (tujuh ribu) pengunjung yang hadir ke Pekan Nan Tumpah selama 7 (tujuh) hari penyelenggaraan.

8 responses to “Panggilan Terbuka Pameran Seni Pekan Nan Tumpah 2025”

  1. Saska Benhard Avatar
    Saska Benhard

    Pikiran sudah lebih dahulu tiba di ruang temu (Pekan Nantumpah) dan ragaku tertinggal jauh oleh waktu 24-30 Agustus 2025 .

  2. andika bebano Avatar
    andika bebano

    Epic, realita (nyeni) dan seni dikalangan penikmat dan pembuat

  3. Gamal Avatar
    Gamal

    Sayang sekali aku di sumatra selatan di tanjung enim alumni etnomusikologi isi jogja.

    1. Admin Avatar

      Semoga di penyelenggaraan tahun selanjutnya Pekan Nan Tumpah bisa menjaring yang dari luar Sumatra Barat ya, Kak.

  4. Femmy Sutan Bandaro Avatar
    Femmy Sutan Bandaro

    Tidak paham-paham benar sebenarnya. Tapi dipaham-pahamkan saja. Segera menyelesaikan karya dan mengisi formulirnya. Mohon dibantu doa!

    1. Admin Avatar

      Didoakan, Pak.

      1. Femmy Sutan Bandaro Avatar
        Femmy Sutan Bandaro

        Terimakasih doanya

  5. fiksikiri Avatar
    fiksikiri

    TABIK!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *