Direktur Festival

Mahatma Muhammad

Mahatma Muhammad adalah seniman teater yang sejak 2003 telah bermain dan menyutradarai puluhan pertunjukan di berbagai kota Indonesia. Pernah aktif di komunitas seni budaya Yogyakarta (2003–2010) dan mengikuti program residensi serta pertukaran budaya di Selandia Baru (2016). Ia bergiat sebagai sutradara, dramaturg, kurator seni pertunjukan, penulis naskah, instruktur, serta pengajar di sekolah dan perguruan tinggi di Sumatra Barat.
Ia menggagas festival seni dwitahunan “Pekan Nan Tumpah” bersama Komunitas Seni Nan Tumpah dan terlibat sebagai kurator maupun direktur artistik di berbagai festival, seperti Festival Merawat Ingatan, Jejak Virtual Aktor 2021, Festival Pusako, Festival Anak 2023, Galanggang Arang 2023 & 2024, Kaba Rupa 2023, serta program seni di nagari-nagari Sumatra Barat. Karya terbarunya berjudul Indomiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik. Saat ini ia te-
ngah menyelesaikan disertasi studi doktoral di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.


Direktur Artistik

Yusuf Fadly Aser

Yusuf Fadly Aser, lahir di Padang, Sumatera Barat, merupakan Ketua Komunitas Rumah Ada Seni (RAS). Sejak 2008, ia aktif dalam kegiatan seni rupa, baik sebagai peserta pameran, kurator, juri, penulis, narasumber, maupun penggagas kegiatan seni berbasis komunitas di Sumatera Barat dan berbagai kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta dan Jakarta, serta pada 2024 karyanya tampil di Galeri Nasional Malaysia. Keterlibatannya meliputi puluhan pameran, seperti “Labirin II” (2008), “Realita ke 3” (2013), “MAESTRO” (2015), “TROPIS” (2016), “Manifesto Pandemi” (2020), hingga “Festival Galanggang Arang” (2023–2024) yang dilaksanakan di berbagai titik strategis seperti Stasiun Kereta Api Kayutanam dan BIM. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua HMJ Seni Rupa FBS UNP (2010–2011) dan turut aktif dalam berbagai simposium, proyek seni kolaboratif, serta kegiatan edukatif dan sosial. Ia tercatat sebagai penggagas dan direktur artistik berbagai festival seni lintas disiplin, termasuk yang bertema warisan budaya, seni anak, dan eksplorasi ruang publik.


Kurator

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca (Tjoa Sian Hui), lahir di Padang, merupakan pendiri Pelita Padang, sebuah organisasi yang berfokus pada isu perdamaian dan keberagaman sejak 2019. Ia aktif dalam kerja-kerja kebudayaan, antara lain sebagai Koordinator Pameran Foto Ragam Penutup Kepala Perempuan Sumatera Barat pada Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2021, Kurator Festival Pusako pada Pekan Kebudayaan Nasional (2023), Penulis dan Social Media Officer di berbagai proyek Galanggang Arang (2023), Co-Kurator Galanggang Arang 2024, serta Tim Redaksi platform digital Ombilin Heritage. Ia juga menjadi jurnalis isu budaya di sumbarsatu.com dan kurator Pekan Nan Tumpah 2025. Prestasi yang pernah diraihnya antara lain Juara 3 Sayembara Esai Menjadi Gusdurian (2022), penerima Grand Fellowship dari Peace Innovation Academy (2022), Narative Journalism Tour-Pekanbaru (2022), dan Asia Justice and Rights (AJAR) pada 2024. Ia juga merupakan penerima dana Indonesiana 2023 untuk kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK), serta berkontribusi sebagai penulis biografi ulama perempuan di Kupipedia.id.


Kurator

Jumaidil Firdaus

Jumaidil Firdaus adalah seorang seniman yang berdomisili di Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi di ISI Padangpanjang untuk jenjang sarjana (2008–2012) dan pascasarjana (2021–2023). Karya-karyanya mencakup berbagai bidang seni, antara lain musik, tari, film, dan teater. Dalam seni musik, ia dikenal lewat komposisi seperti “Basilang Bakaja-kaja”, trilogi “Alek Kapalo Banda”, dan “Transformation of Minangkabau Bamboo Flute” yang telah dipentaskan di berbagai festival di Sumatera, Jawa, dan Kanada. Ia juga menciptakan musik untuk karya tari kolaboratif bersama koreografer Hartati dan lainnya, tampil di berbagai ajang seperti Festival Budaya Matrilineal, Jakarta International Contemporary Dance Festival, dan Indonesia Bertutur. Dalam bidang film, ia menata musik untuk film “Salisiah Adaik” (pemenang Festival Piala Maya 2014) dan “Pakasiah Biola” (nominasi 2020). Ia juga aktif di teater dengan karya seperti “Legaran Svarnadvipa” (2024), serta memiliki dua album musik bersama Orkes Taman Bunga. Selain berkarya, Jumaidil juga aktif sebagai narasumber dan pelatih dalam berbagai program pengembangan seni, baik lokal maupun nasional. Ia dapat dijangkau melalui email jumaidilfirdaus@gmail.com dan media sosial @jumaidilfirdaus.


Kurator

Nessya Fitryona

Nessya Fitryona, S.Pd., M.Sn., adalah seorang dosen di Departemen Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di UNP pada tahun 2009 dan melanjutkan studi magister di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2013. Aktif berpameran sejak 2011, Nessya terlibat dalam berbagai kegiatan seni rupa di Padang, Yogyakarta, Semarang, dan kota lainnya, termasuk Pameran “Lingkar Rupa” (2014), “Sandi” oleh Tambo Art Center (2016), serta “World Tiger Day 2024” oleh SINTAS Indonesia. Selain sebagai perupa, ia juga berperan sebagai penulis dan kurator, antara lain untuk Pameran “Recall Memory” (2015), “Dialog Dua Sisi” (2020), serta Kuratorial Pameran “Pusako” dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Dalam bidang akademik, Nessya meneliti isu-isu pendidikan seni, ikonografi seni rupa, hingga kajian hermeneutika, yang dipublikasikan di berbagai jurnal seperti Invensi, IJCA, Gorga, dan Komposisi. Ia dapat dihubungi melalui email nessyafitryona@gmail.com.


Supervisor

Nasrul Azwar

Nasrul Azwar adalah seorang jurnalis, penulis, dan editor. Ia aktif dalam kerja kebudayaan, pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat selama dua periode (2001–2003 dan 2004–2007), serta terlibat sebagai kurator dalam berbagai kegiatan budaya seperti Pekan Nan Tumpah 2019, Pekan Kebudayaan Daerah 2022, dan dua edisi Festival Pamenan Minangkabau (2022 dan 2023). Ia juga pernah menjadi supervisi dan pengamat dalam program Yayasan Kelola, serta aktif menulis berbagai catatan pertunjukan seni dan kegiatan budaya lainnya. Selain itu, Nasrul berperan sebagai editor di penerbit KABARITA dan VISIGRAF. Beberapa karya bukunya antara lain Memunggungi Panggung Seni – Catatan dari Kursi Penonton (2023), Sekebat Artikel: Minangkabau dalam Tanda Seru (2019), serta menjadi kontributor dalam antologi 121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang (2018) dan Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang (2022). Ia dapat dihubungi melalui email nasrulazwar@yahoo.com.