Catatan Pertunjukan Balega di Pekan Nan Tumpah 2017
Oleh Rio Rinaldi
Cinta/ tak datang dari barat/ tak datang dari Timur/ tak datang dari selatan/ atau utara
Cinta/tak tumbuh darii hijau/ tak tumbuh dari Biru/ tak tumbuh dari kuning/ atau pun merah
Cinta datangnya dari hati/ tumbuh subuh di Tanah jiwa// selamat datang di tanah cinta/ Selamat datang di negeri warna/ selamat datang Di negeriku Indonesia
Malam itu, hujan lebat sekali. Tapi tak menyurutkan semangat mereka yang sudah duduk diposisinya masing-masing. Setelah pembacaan puisi dari finalis ketiga, ada yang menarik dengan pertunjukan yang ditampilkan lewat empat lagu yang dimainkan oleh Ibrahin Lubis dan kawan-kawan malam itu. Dengan tetap mengedepankan unsur lokalitas, pertunjukan malam itu disajikan lewat lagu-lagu bernuansa kearifan lokal Minangkabau dan nasionalisme serta perkawinan nuansa Minangkabau dengan Bali. Komposisi musik yang memadupadankan antara instrument dari berbagai daerah (Bali, Sunda, Batak, dan Minang, mohon maaf kalau masih ada yang terlupa) sehingga Balega berhasil menciptakan harmonisasi pada empat lagu yang dibawakan. Tepuk tangan riuh rendah. Tapi sajian lagu belum selesai. Antara pemain yang satu dengan yang lain, berpindah posisi.
Lirik di atas merupakan kutipan puisi “Untuk Tanah Cinta dan Negeri Warna” yang dilagukan oleh kelompok seni Balega sebagai lagu penutup di malam keempat festival Pekan Nan Tumpah 2017. Balega merupakan kelompok seni yang didirikan tahun 2012 oleh Admiral bersama beberapa mahasiswa ISI Padangpanjang, yang menghadirkan karya musik dengan berlandaskan kesenian tradisional Minangkabau.
“Untuk Tanah Cinta dan Negeri Warna” pada lagu terakhir, lirik yang merupakan sebuah puisi yang diciptakan oleh Balega sendiri, telah memberikan kesan tersendiri dari segi makna. Pada dasarnya, lirik lagu merupakan puisi. Oleh sebab itu, sastra, dalam hal ini puisi, memiliki korelasi yang erat dengan bahasa sebagai medium utamanya. Pendeknya, bahasa dalam sastra merupakan alat dan tujuan. Sebagaimana yang dimaksud oleh Lotmann bahwa bahasa merupakan sistem model pertama dan sastra sebagai model kedua. Sebab itu pula, dalam berbagai penelitian, orientasi analisis sering didahului dengan pembicaraan kebahasaan, lalu dilanjutkan dengan analisis kesastraannya.
Antropologi linguistik berasal dari kata antropologi dan linguistik. Antropologi memfokuskan kajiannya pada ilmu tentang manusia, sedangkan linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Atropologi linguistik mengisyaratkan tentang ilmu bahasa yang kaitannya dengan manusia sebagai penggunanya. Penggunaan itu dapat berupa khas atau yang bersifat setempat, pilihan kata dengan mempertimbangkan simbol untuk maksud tertentu, tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai simbol tersendiri, dan lain sebagainya.
Di satu sisi, bila antropologi linguistik dikaitkan dengan ciri-ciri bahasa seperti dikemukakan melalui strukturalisme Saussurean sebagai langue dan parole, maka pembicaraan itu lebih banyak berkaitan dengan parole. Di sisi lain, bila dikaitkan dengan bahasa lisan dan tulis kaitannya lebih banyak pada bahasa lisan.
Kaitan yang paling konkret antara antropologi sastra dengan antropologi linguistik terletak pada pemanfaatan unsur-unsur kebudayaan oleh kedua disiplin untuk memperdalam pemahamannya. Persamaan tersebut tampak melalui definisi masing-masing yang sama-sama mempertimbangkan relevansi unsur-unsur kebudayaan. Dengan demikian, antropologi linguistik pada umumnya berhenti pada aspek bahasa, antropologi sastra melanjutkan pada aspek budaya. Sebab itu pula, antropologi sastra berkaitan dengan antropologi budaya dan kajian budaya. Lihatlah misalnya pada contoh analisis sederhana berikut ini.
Cinta/ tak datang dari barat/ tak datang dari Timur/ tak datang dari selatan/ atau utara
Sebagai analisis antropologi linguistik, kata barat, timur, selatan, dan utara, terbatas dalam menemukan ekuivalensi (kesederajatan) pilihan kata, seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, Papua, Aceh, dan lain sebagainya, sebagai semata kata adverbial. Pada analisis antropologi sastra, menelusuri lebih jauh untuk menemukan kaitannya dengan kata bangsa Indonesia atau Republik Indonesia sebagai sebuah kesatuan sehingga barat, timur, selatan, dan utara, sebetulnya yang dimaksudkan oleh kata-kata tersebut adalah Indonesia itu sendiri, terutama bagi bangsanya.
Lirik lagu ini mengisyaratkan adanya semangat untuk mencintai bangsa dan Negara yang sudah terlanjur rusak. Semangat untuk bangkit. Semangat untuk memperbaiki keadaan. Dan semua semangat itu dinazarkan pada hati yang disampaikan lewat lagu “Untuk Tanah Cinta dan Negeri Warna”, yakni dapat berarti cinta tanah air Indonesia yang terdiri atas beragam suku dan agama.
Akhirnya, tak sia-sia perjuangan Balega. Tepuk tengan semakin riuh rendah manakala lagu tersebut diiringi dengan pembacaan puisi dari seorang asing. Lantas, terbisik dalam hati saya kemudian, masih di tempat duduk deret nomor empat sebelah kanan itu, kalau orang asing saja bisa mendeklamasikan semangat nasionalisme, mengapa kita tidak lebih dari itu. Mengapa terus mencaci maki negara yang sudah jatuh tertimpa tangga dengan alasan subjektif. Seharusnya, kalau memang kita cinta dengan negeri ini, bangunkan ia, bangkitkan! Papah ia kalau benar kakinya sedang lumpuh. Dan malam itu, Balega sudah berusaha dan membuktikannya. Hujan telah berhenti!
Padang, 27 September 2017

Leave a Reply