Catatan Pertunjukan Teater Jengkal di Pekan Nan Tumpah 2017
Oleh Rio Rinaldi
Pada prinsipnya, teater merupakan seni mengeksploitasi atau memperkembangkan gerak sebagai inti hingga mencapai kualitas artistik yang sanggup mendukung serta menyuguhkan pengalaman dramatik pencipta. Dalam perkembangan teater lebih lanjut dikenal dengan antiteater, yakni seni pentas yang dengan sengaja menghindari pemakaian sarana teater konvensional, seperti klimaks dan leraian. Antiteater biasanya mengandung satire. Rendra pernah memanggungkan drama yang tergolong antiteater, yakni Teater Mini Kata (theatron, Yun).
Teater Minikata merupakan seni pertunjukan teater yang sedikit sekali menggunakan dialog. Istilah itu dilontarkan oleh Gunawan Mohammad dalam menanggapi pementasan teater Rendra (1968), “Bip Bop” dan “Rambate-Rate Rata”. Pementasan drama yang dilakukan W.S. Rendra dengan “Bengkel Teater”-nya pada nomor pementasan “Bip Bop” dan Rambate-Rate Rata” itu sedikit sekali menggunakan kata. Pementasan itu lebih banyak mempergunakan gerak atau improvisasi yang dilakukan secara spontan. Pendapat Goenawan Mohamad itu disampaikan dalam sebuah esai yang berjudul “Mengapa Minikata?” (Kompas, 28 Juni 1969). Istilah itu kemudian dikemukakan pula oleh Goenawan Mohamad dalam makalahnya yang berjudul “Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir” yang disampaikan pada acara diskusi sastra di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 27 November 1973, dan kemudian dimuat dalam buku Seks, Sastra, Kita (1980).
Di malam yang ketiga Pekan Seni Nan Tumpah 2017, kelompok Teater Jengkal yang disutradarai oleh Andika Eri Putra sekaligus penulis naskah mencoba menawarkan sesuatu yang tidak lazim. Secara struktur naratif, Kejei membingungkan. Sekaligus menjadi pertanyaan besar. Pada bagian manakah kekakuan atau ketegangan atau kekejangan yang dimaksud.
Di awal pertunjukan, dengan posisi pemain yang sudah dapat ditebak kehadirannya, beberapa pemain mengisi dan sekaligus berupaya memperebutkan bingkai-bingkai tergantung, ditafsirkan sebagai sketsa persoalan kondisi politik dan sosial yang saat ini. Sikap apatis sebagai reaksi direpresentasikan melalui permainan wajah, gerak tari, dan diwarnai dengan ungkapan-ungkapan yang bernuansa lokalitas.
Dengan memanfaatkan bahasa daerah sebagai media penyampaiannya, melalui Kejei, Teater Jengkal tampil sebagai produk lokal yang barangkali mengehendaki adanya respon penonton sebagai penafsir kedua. Semoga kebingungan yang barangkali tengah menggerogoti kepala para penonton malam itu, berhasil membuka mata yang selama ini pura-pura tak melihat, membuka telinga yang selama ini pura-pura tuli, mencoba ambil pusing dan merasakan betapa persoalan kemiskinan, korupsi, kamuflase ibadah haji, prostitusi dan perdagangan manusia, hegemoni politik, dan lain sebagainya, yang dapat ditanggapi dengan jalannya masing-masing.
Keterasingan yang ditimbulkan oleh struktur masyarakat yang ada merupakan motif dasar dari lahirnya Kejei. Alienasi penting dalam drama sebagai upaya pengarang memisahkan penonton dari realitas pentas sehingga ia dapat meninjau kembali kenyataan sehari-hari secara lebih kritis dan arif dari sudut pandang yang lain.
Upaya ini menimbulkan adanya efek alienasi yang menjadikan penonton tidak lagi menerima kenyataan seperti apa adanya. Dalam alienasi, yang “biasa” dijadikan “tidak biasa”. Ketidakbiasaan ini memiliki motif yang nonkonvensional. Alienasi juga menggugat pakem atau patokan yang sudah mapan.
Kejei memberikan sajian kisah yang hanya dapat dipahami oleh sebagian orang yang dapat menjangkau maksud dan misi penulis dan sutradaranya. Secara esoterik, Kejei merupakan karya yang tidak mudah dipahami khalayak dan bersifat terbatas pada sekelompok kecil yang memiliki minat dan pengetahuan khusus tentang hal itu. Kita butuh “darah segar“ untuk membaptis diri sendiri melalui kesenian.
Ketika menemukan dan berkehendak memberikan penafsiran terhadap karya itu sendiri, pertanyaan yang timbul kemudian adalah sejauh mana tingkat penafsiran terhadap karya yang sudah terlahir dari rahim ibu alam (kosmos). Jawabannya tentu terpulang kepada yang menilai, bahwa sejauh mana kedalaman analisis terhadap deskripsi persoalan itu sendiri, tergantung kepada pengalaman dan adanya sinergisitas ide. Apakah pembaca atau penonoton atau pengkaji mampu mengidentifikasikan dirinya, alam, dan lingkungannya melalui karya yang dikaji. Pemahaman dan penafsiran tentu tidak seragam.
Padang, 26 September 2017
1 Lebih lanjut, baca Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017

Leave a Reply