Bagikan!

Catatan Pertunjukan Komunitas Seni Hitam Putih di Pekan Nan Tumpah 2017

Oleh Maya Sandita

Tiang gantungan dengan tali berwarna merah telah siap di atas panggung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat. Kotak-kotak kayu dan tomat berserakan di panggung. Artistik ini kemudian dieksplorasi oleh aktor dan menghasilkan ciri khas teater Hitam-Putih, yakni mencoba menjadikan benda-benda yang disebut teater material sebagai gagasan utama. Komunitas Hitam-Putih yang didirikan pada tahun 1993 ini dalam pementasan Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang mencoba kembali pada konsep teater verbal yang sudah lama mereka tinggalkan. Konsep tersebut merupakan teater yang berisikan dialog. Sutradara karya mengakui bahwa ini adalah sebuah tantangan dan malam itu (27/9) Hitam-Putih berhasil mempersembahkan pertunjukan luar  biasa di hari kelima helat Pekan Nan Tumpah 2017.

Keempat aktor yang memerankan tokoh-tokoh dalam lakon Bulan Bujur Sangkar adalah aktor kompeten yang mampu bermain teater tubuh dilengkapi dengan dialog bahkan bermain musik. Penampilan seperti demikian dapat mereka suguhkan setelah melewati proses yang cukup panjang. Mereka berlatih sejak Februari 2017. Latihan yang dilakukan tentu saja mencakup segala aspek yang dibutuhkan yakninya tubuh, vokal, dan rasa. Erik Novriwandi sebagai seorang tokoh dalam pementasan mengatakan, “Gerak yang kami lakukan adalah hasil dari eksplorasi, sebab menurut sutradara aktor adalah kreator, maka harus mampu menciptakan sesuatu untuk ditampilkan di panggung. Kami mencoba melakukan itu dan inilah hasilnya.”

Perasaan bangga dan senang dirasakan oleh para aktor dalam mementaskan Bulan Bujur Sangkar dengan sutradara Yusril ini. Jumlah penonton dan ukuran lokasi pementasan membuat mereka sangat bersemangat. “Pertama kali nampil di acara sebesar Pekan Nan Tumpah, saya sedikit gugup,” aku Putri Julita diikuti anggukan pemeran lain, Alba Sani.

Aspek musik juga menjadi bagian penting dalam pementasan. Irama musik yang chaos menjadi pilihan sutradara sebagai konsep. Iwan dan Dewa sebagai pemusik menambahkan, “Untuk musik suasana, sutradara menyerahkan kepada kami, di luar pilihan konsep beliau yang chaos.

Setelah dua kali dipentaskan, para aktor mengaku masih belum puas untuk kembali memainkan lakon Bulan Bujur Sangkar garapan Yusril. Ketika ditanyakan soal keinginan tempat pementasan selanjutnya, mereka mengakui tidak punya target, “Tapi kami ingin terus berproses,” tutup Erik usai wawancara.

Helat Pekan Nan Tumpah masih akan berlangsung hingga 29 September 2017. Setelah banyak pementasan yang berlangsung dari tanggal 23 September lalu, malam ini akan ada sebuah pementasan teater-tari dari komunitas Sherililab Padangpanjang dengan judul “Hah… Hih… Huh” dengan sutradara Saaduddin.*

Padang, 27 September 2017

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *