Catatan Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah di Pekan Nan Tumpah 2017
Oleh Rio Rinaldi
Pengarang bukan lagi bidan. Ia adalah ibu bagi kontan bagi anak- anaknya, karya itu sendiri. Mulai dari ibu moyang zaman ketumbar, sampai ibu moyang zaman royco, kelahiran anak itu masih terus bergulir hingga saat ini. Beranak-pinak. Bercucu bercicit. Dan kelahiran keturunannya selalu dirindukan oleh sebagian orang. Meski diam-diam, atau terang-terangan, banyak pula dari sebagian lagi yang coba-coba mencacinya. Banyak pula yang berniat membuangnya ke kali, ke jamban-jamban, atau ke halaman rumah yang masih bertalian darah dengannya.
Dengan cara apapun juga. Dengan “apa” yang bagaimanapun juga. Dari tradisi lisan hingga tulis, anak itu tak lekang dipanas tak lapuk dihujan. Meski sempat dihujani kata-kata. Dihujani sumpah serapah. Dihujani kutukan.
Di tepian pantai yang lengang itu, ia masih tetap di situ. Berhujan berpanas. Menunggu ibu.
Lantas kalau ada yang bertanya siapa bidan? Siapa dan apa saja yang bisa menjadi bidan? Jawabannya adalah ibunya sendiri. Ibu yang telah berpuluh-puluh bahkan beratus tahun lamanya mengejan dan pergi merantau di negeri yang asing bagi anaknya. Anaknya yang tercemar, lalu dibersihkan. Kasihan.
Dan sebutlah ia itu sebagai ibu-bidan. Persoalan sosiologis atau antropologis adalah indung telur yang dibuahi dalam rahimnya oleh kata-kata. Kata-kata yang memperlihatkan tata hubungan antara unsur pembangun, yang disusun sedemikian rupa. Dibungkus dengan berlapis-lapis kain bahasa agar ia tidak telanjang begitu saja.
Ia ‘terbuang ‘sejak kecil, tapi telah besar jadi senator. Ada sebuah panti yang sedia menampung dan mengasuhnya. Panti asuhan itu sendiri sedia
memberi tempat tinggal yang layak bagi ketiga malin malam itu. Juga bagi tiga ibu malin malam itu.
Ia akan dirawat. ‘Dimandikan’ dan disusui oleh Mahatma Muhammad di rumah bersalin Nan Tumpah. Ia bukanlah lagi sebagai anak jadah. Ia bertempat terlahir dan dari seorang ibu yang nyata. Ibu sekaligus bidan. Tercatat dalam akta sebagai karya: Alam Takambang Jadi Batu.
Malam itu, ia terlahir lagi untuk kesekiankalinya. Semua orang datang menjenguknya. Menyalami ibu-bidan yang sedang menimang sambil mencubit-cubit pipi bayi yang menggemaskan dan menangis keras sekali itu.
Jangan tanyakan lagi soal siapa “bapaknya”. Sebab bapak dalam garis keturunannya hanya sebagai ‘tampang’. Air mani yang dikeluarkan oleh surat kabar, televisi, radio, bahkan dari mulut ke mulut. Atau yang tampak di mata. Dan benar, air yang menjijikkan itu takkan lagi disebut-sebut ketika anak sudah lahir dan tersenyum dengan manisnya. Biarlah ia dan ibunya terus melanjutkan perjalanannya yang masih panjang itu. Biarlah ibu membesarkan ketiga Malinnya dengan caranya sendiri-sendiri. Biarlah.
Saya berharap dengan sangat, setelah Malin besar nanti, jangan biarkan lagi ia sulit memahami dan mengerti tentang “mengapa” ia dan “bagaimana” ia. Sampaikan ke telinga orang-orang kampung itu, jangan jadikan lagi Malin terasing di negerinya sendiri. Jangan mencari amanat kalau cuma untuk menggali persoalan moral atau untuk tujuan wisata. Jangan biarkan lagi ia tenggelam dalam ragam kutukan dan sumpah serapah. Jangan! Please dong ah!
Malin telah memiliki kampung. Tempat pulang dan berberita: di rumah Nan Tumpah. Ia tak sendirian. Kakak-kakaknya banyak yang akan merawatnya. Dan ibu-bidan tak perlu sedu sedan. Siapa tahu, tahun depan Malin betul-betul diajak merantau ke negeri orang. Ke Amerika, Eropa atau ke Asia Tenggara. Semoga!
Tapi kalau sepulang dari Amerika, Eropa atau Asia Tenggara nanti sempat Malin bertanya tentang siapa ibunya. Katakanlah dengan lapang dada, ibunya adalah tukang kaba. Mungkin juga tukang dusta. Sebab dari kedustaannya itu pula, “bukankah kau telah lahir dari rahimnya? Maka berterima kasihlah dengan kedustaannya itu. Dan tak ada yang lebih arif dari berlapang hati untuk menerimanya.” Katakan kepadanya demikian. Katakan! Harusnya ia berterima kasih kepada ibu-bidannya. Sebab karena dusta itu pula yang menjadikannya bisa besar dan menjadi anak yang masih banyak dibicarakan. Dan dari mulut janang (ibu) yang datang dari generasi Z itu, telah dititipkan pesan-pesan yang harus cerna. Selamat Teater Nan Tumpah!
Padang, 24 September 2017

Leave a Reply