Galuik-galuik dan Galiek dalam Gerakan
Oleh Alizar Tanjung
(Pernah diterbitkan di Padang Ekspres, 27 Desember 2015)
DI bawah asuhan koreografer Deslenda Puti Alam Suri, Komunitas Tari Galang, mempertunjukkan tari kontemporer “Galuik-galuik” dan “Galiek” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Kamis, 24 Desember 2015, jam 20.00 WIB. Pertunjukan ini pertunjukan ke-3 dari rentetan acara Festival Pekan Nan Tumpah 2015 yang berlangsung dari tanggal 22 s/d 26 Desember 2015. Sebelumnya Komunitas ini pernah menggelar karya “A Drama in Sirompak Raphsody” di University Malaya (2013), dan Festival Kebudayaan Mestermesse Basel-Swiss (MUBA) (2013).
Koreografer Deslenda menampilkan dua tari kontemporer dalam durasi 58 menit. Dimulai dengan pertunjukan “Galuik-galuik”. Kemudian disusul dengan “Galiek”. Galuik-galuik adalah istilah minang. Galuik-galuik biasa dimainkan anak-anak dalam keseharian. Galuik-galuik dimainkan tanpa beban, tanpa dosa, tanpa permusuhan. Dalam galuik ada saling diam, saling cemburu, saling menangis, saling menjahili, kemudian berbaikan lagi. Galuik adalah tahapan pertama dalam setiap kehidupan manusia. Pada tahap ini segala sesuatu dijalani dengan suka cita.
Kemudian segala sesuatu menjadi berubah. Galuik-galuik menjadi galiek. Di bawah bimbingan bundo kanduang anak-anak dibimbing dalam ber-galuik dan galiek. Galiek lebih bagaikan kupu-kupu yang mengubah wujud diri menjadi kepompong. Di sinilah kehidupan mulai ditempa. Bangkit mencari jati dirinya. Mulai mencari kebenaran yang dia inginkan. Mulai mengenali dirinya sendiri. Mulai mengarahkan dirinya ke jalan kehidupan mana dia harus melangkah.
Deslenda menggali filsafah Minangkabau menjadi tari kontemporer yang dapat dinikmati di atas panggung. Filsafah itu di antaranya anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampung dipatenggangkan. Ingat dengan kata yang empat; kato mandaki, kato mandata, kato manurun, kato maleriang. Falsafah yang selama ini didendangkan dan dipepatah-petitihkan di atas panggung adat, sekarang diolah dalam bentuk tari kontemporer.
Galuik-galuik dan Galiek dibawakan oleh penari Deslenda, Fauziah Damayanti, Dewi Fitriani Yendri, Rilla Mustika, Resky Rulianita, Ayang Sophia, Menthari Ashia.
Pada Galuik-galuik hanya ada dua orang penari kontemporer di atas panggung yang ber-galuik-galuik dengan pakaian tari serba putih. Mereka ber-galuik-galuik dengan suka ria. Satu sama lain saling meng- ganggu dan saling membutuhkan galuik. Adakala mereka saling dorong, adakala saling tarik. Gerakan tubuh: kaki, pinggang, irama pinggul, buah dada, mata, kepala, bergerak dengan seirama seperti ada sebuah komando yang menggerakkan mereka di dalam jiwa. Adakala gerakannya lambat, adakala gerakannya cepat, dan tetap terkontrol dalam satu irama. Gerakan yang dibawa adakala gerakan silat, adakala gerakan tari pasambahan, adakala seperti gerakan seperti gerakan taichi adakala gerakan acak tetapi tetap dilakukan seirama.
Begitu juga dengan Galiek. Galiek ditampilkan oleh lima orang penari, termasuk Deslenda di dalamnya dengan pakain serba hitam serta rambut terurai. Kemudian empat penari dengan pakain lebih bermotif, seperti songket bergaris-garis ungu, biru, merah. Dua rambut penari, terurai. Dua rambut penari lainnya dibuat seperti guntingan cina dengan adanya dua gundukan rambut di kiri dan kanan. Lagi- lagi kepiawaian koreografer dipertunjukkan di atas panggung, galuik sudah tidak tampak di sini, hal yang tampak lebih ke pencarian diri. Kecemburuan satu terhadap yang lainnya. Rasa berkuasa satu terhadap yang lainnya. Masing-masing ingin memiliki peran dalam kehidupan dan itu dipertunjukkan dalam bentuk gerakan tari yang berhasil memukai penonton.
Dalam Galuik, kata-kata Minang keluar dalam bentuk ucapan jelas, terkadang dalam bentuk ucapan yang sengaja dilatah-latahkan. Layaknya kehidupan manusia banyak yang dilatahkan oleh realitas kehidupan. “Salah” ucapan ini diujarkan pada saat tari sengaja disalahkan pada salah satu gerakannya seirama oleh dua orang penari. Ada lagi ucapan “tajilapak”, “takangkang”, “matilah, inyo tajatuah”, “indak”, “bisa jadi”. Kalimat-kalimat pendek ini diucapkan pada Galuik. Sedangkan pada Galiek suara lebih banyak diiringi dengan suara dendang oleh Susandra Jaya, Yurnalis, Leva Khudri Balty.
Galuik dan Galiek adalah pendalaman terhadap peran orang tua terhadap anak-anaknya, peran menjaga anak-anak, peran dalam membimbing kemenakan, peran dalam berinteraksi dengan kampung. Kesatuan dari tiga peran inilah yang digarap koreografer Deslenda dalam bentuk tari Galuik-galik dan Galiek. Kekuatan lokalitas keminangan dalam tarian kontemporer ini semakin dipertegas dengan dendang dalam bahasa minang, musik lokal, kalimat- kalimat minang yang dimasukkan di antara gerakan tari.[]

Leave a Reply