Oleh Fatris M. Fais
(Pernah diterbitkan di Padang Ekspres, Minggu, 5 Juni 2011)
Minggu (29/5), Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat dipenuhi oleh tikus. Lebih dari seratus tikus memenuhi bangku penonton sambil tertawa-tawa. Sementara itu, petugas Taman Budaya tidak mengambil tindakan apa pun, bahkan membiarkan tikus-tikus tersebut duduk dengan nyaman.
Di dalam ruangan yang sama, terdapat hampir dua puluh ekor kucing. Namun, kucing-kucing itu juga tidak melakukan tindakan apa pun selain mengeong dari atas panggung. Tikus-tikus justru tertawa menyaksikan kucing-kucing yang asyik bermain “kucing-kucingan” di atas panggung.
Pertunjukan ini bertujuan untuk mengkritik koruptor yang diibaratkan sebagai tikus yang semakin bebas berkeliaran di negeri ini. Sementara itu, aparat hukum digambarkan berperilaku seperti tikus-tikus tersebut.
Tentu saja, tikus dalam pertunjukan ini bukanlah binatang sesungguhnya, melainkan para penonton yang akan menyaksikan pementasan Opera Pekerja dan Cerita Kanak-Kanak dari Dunia Kucing oleh Kelompok Teater Nan Tumpah, Padang. Setiap penonton diberikan topeng tikus oleh panitia untuk dikenakan selama menyaksikan pementasan. Dengan begitu, para penonton secara langsung berperan sebagai tikus dalam Gedung Teater Utama tersebut.
Awalnya acara bertitel “Malam Puncak Pesta Puisi,” yang sempat molor satu jam dari jadwal, dibuka dengan penampilan musikal puisi oleh Teater Noktah Padang. Setelah itu, pementasan Opera Pekerja dan Cerita Kanak-Kanak dari Dunia Kucing, yang diadaptasi dari puisi Widji Thukul dan Goenawan Mohamad, turut memeriahkan acara.
Opera Pekerja
Puluhan, bahkan mungkin ratusan kardus, ditumpuk di atas panggung untuk menciptakan setting. Tumpukan kardus ini disorot oleh cahaya lampu yang netral dan tanpa warna. Beberapa aktor kemudian muncul, menggambarkan para pekerja yang tertatih-tatih mengangkat beban. Dalam pementasan ini, beban hidup, keringat, dan tekanan kerja digambarkan begitu nyata.
Salah satu aktor yang memerankan pengawas tampak begitu tegas kepada para pekerja, seolah memperlihatkan relasi antara atasan dan bawahan. Dari tata panggung hingga permainan para aktor, semuanya terasa realistis dan lebih natural.
Simak penggalan puisi Goenawan Mohamad, yang dituturkan beberapa aktor dalam pementasan itu: Tangan yang hitam/tangan lelaki//Lengan melogam berpercik api/dan batu pun retak di lagu serak://Majulah jalan, majulah setapak//Nada akan terulang-ulang dan lampu putih pasi://Panjang, alangkah panjang/Dini hari, o, dini hari!! Lagu pekerja malam/Lagu tiang-tiang besi/Lagu tak teralahkan/ Memintas sepi//
Tangan dan kaki para pekerja di atas panggung itu seperti gerak yang telah dikontrol, gerak yang beraturan sekali, mengangkak dan terbungkuk, barangkali memang seperti inilah para pekerja dalam bahasa sesungguhnya, terbungkuk dan terprogram. Tapi, pentas seolah kedatangan hal baru, kita simak beberapa penggaln puisi Widji Tukul: Gerimis menderas tengah malam ini/Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi/ Dalam sunyi hati menggigit lagi/ Ingat/Saat pergi/Cuma pelukan/ Dan pipi kiri kananmu!/Kucium tak sempat mencium anak anak/ Khawatir/Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak).
Opera Pekerja, sepertinya hanya sebuah gambaran tentang malam dan para pekerja yang meneteskan keringat dalam gelap. Tidak ada konflik dalam pementasan ini, selain beberapa. adegan tetang kesewesang-wenangan “orang yang berkuasa”.
Inilah barangkali yang membuat ketakbetahan penonton menyaksikan pementasan ini, selain adegan yang hanya bentuk pengulangan dari adegan sebelumnya, kata-kata (yang diambil dari puisi Goenawan Mohamad dan Widji Tukul) juga terlontar begitu saja, bukan seperti berdialog. Dalam membawa puisi ke atas panggung, sutradara seperti gagap menginterpretasikan hendak diapakan dua buah puisi ini, sebab, pekerja dalam puisi ini bukanlah sesuatu yang verbal. Akhirnya para pekerja dibuat kalah juga oleh situasi, oleh beban yang dipikulnya sendiri.
Cerita Kanak-kanak dari Dunia Kucing
Cerita Kanak-kanak dari Dunia Kucing yang diadaptasi dari puisi Emha Ainun Najib dan disutradarai oleh Mahatma Muhammad ini dimulai telah lewat dari pukul sembilan. “Sebetulnya saya hanya menanti cerita kucing ini, buat anak-anak saya. Jarang sekali ada pementasan buat anak di Taman Budaya,” kata Wirda yang duduk di bangku depan dengan kedua anaknya yang memakai topeng kucing.
Mula-mula, di panggung melintas beberapa tokoh dengan kostum warna-warni. serupa kucing; berkumis, berekor panjang, berjalan dengan melenggok dengan posisi merangkak. Lalu mereka, Para kucing, masuk panggung dengan mengendap-endap. Kemudian bercerita tentang permainan kucing- kucingan, kucing yang bermain kucing-kucingan. Namun, konflik terjadi. Para kucing yang bermain kucing-kucingan ingin bermain tikus-tikusan. Bagaimana hendak menyatukan para kucing yang bermain kucing- kucingan dan para kucing yang bermian tikus-tikusan. Sebagian tikus yang duduk di bangku penonton mencela permainan para kucing di atas panggung, hingga para tikus bermain di atas panggung.
Beberapa kali pemertasan penonton terpingkal melihat aksi kucing dalam pementasan Cerita Kanak-kanak dari Dunia Kucing ini. Selain gerak dan tingkah kucing yang lucu, pelaku dalang dalam pementasan ini juga membuat dagelan dan guyonan yang lebih interaktif dengan penonton. Kucing-kucing bercerita tentang berbagai hal, mulai dari warna-warni hingga demokrasi. “Lihat, si kuning, mentang-mentang kuat, berbuat seenaknya. Padahal si merah lebih beringas. Ya, kasihan si hijau, si hijau tidak kebagian..” kita- kira begitu beberapa dialog dalam pementasan itu. []
—
Catatan dari Komunitas Seni Nan Tumpah: Esai ini merupakan ulasan pertunjukan dalam kegiatan “Malam Puncak Pesta Puisi” yang merupakan cikal bakal dari Pekan Nan Tumpah.

Leave a Reply