Peserta Pertunjukan Seni Pekan Nan Tumpah 2025


Komunitas Seni Hitam Putih

Surat Tanpa Alamat

Komunitas Seni Hitam Putih

Judul Pertunjukan: Surat Tanpa Alamat

Nama Penggarap: kolaborasi Yusril Katil dan Yeni Wahyuni

Nama Pendukung Garapan: Yudhistino Ardafi, Ghea Nabila, Puspita Sari

Penata Musik: Avant Garde Dewa Gugat

Pemusik: Avin Prasetya Utama, Jorgi Geovani


Surat Tanpa Alamat

(Terinspirasi dari cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku” Seno Gumira Ajidarma)

Sinopsis: 

Di sebuah coffee shop yang tenang, Alina menunggu. Seorang perempuan realistis yang tak percaya pada janji, tapi tak bisa mengabaikan kenangan. Lalu datang Sukab—laki-laki yang membawa sepotong senja dan cinta yang tak bisa dimengerti logika.

“Alina” adalah pertemuan antara rasa dan nalar, antara cinta yang ditulis dalam cerita pendek dan hidup yang ditulis dalam kenyataan. Sebuah fragmen tentang kehilangan, penantian, dan keindahan yang tak pernah utuh.

Apakah cinta cukup disampaikan lewat kata? Atau harus diperjuangkan meski tak dimiliki?


Indonesia Performance Syndicate

Perempatan Perempuan

Indonesia Performance Syndicate

Judul Pertunjukan: Perempatan Perempuan

Teks Pertunjukan: Wendy HS

Sutradara: Wendy HS

Pimpinan Produksi: Erwi Sasmita

Staf Produksi: Alya Raudatul A’syi

Performer: Ella Rahmadani, Alya Raudatul A’syi, Dinta Melani Putri, Zalwa Alya Pitri

Music Director: Jumaidil Firdaus

Art Director: Wendy HS


Sinopsis:

Perempatan Perempuan adalah sebuah karya pertunjukan teater kontemporer yang menggali kerumitan identitas, pilihan hidup, dan peran sosial yang dihadapi perempuan dalam pusaran zaman yang berubah cepat. Melalui eksplorasi struktur dramatiknya, karya ini menempatkan tokoh-tokohnya—perempuan-perempuan dari berbagai latar—di sebuah titik metaforis: perempatan. Pada perempatan itu, tidak hanya lalu lintas kendaraan yang melintas, tetapi juga lalu lintas nilai, tuntutan, stigma, trauma, dan harapan. 

Pertunjukan ini menelusuri bagaimana ke-perempuan-an dijadikan arena konflik sosial dan pribadi, bagaimana ruang-ruang publik maupun domestik terus menuntut kepatuhan yang kontradiktif, serta bagaimana suara-suara perempuan sering kali tertahan dalam pusaran ketakutan atau dikaburkan oleh “standar moral” yang timpang. Perempatan Perempuan bukan hanya tentang menjadi perempuan, tetapi tentang keberanian untuk diam di tengah lalu lintas pilihan dan tetap utuh sebagai diri sendiri. 


Komunitas Payung Sumatera

KM 0 (Kilometer Nol)

Komunitas Payung Sumatera

Judul Pertunjukan: KM 0 (Kilometer Nol)

Director: Fabio Yuda

Coreografer: Venny Rosalina

Composer: Robby Ferdian

Actor: Venny Rosalina, Sania Lovela Sandres, Dwi Meidita Putri, Afriandi, Syafa Waridatul

Company Manager: Vinna Aulia

Lighting Designer : Ari Ristal


Sinopsis:

Di KM 0, kita berhenti berlari. Manusia kembali menjadi manusia, jiwa kembali menjadi jiwa, tubuh kembali menjadi tubuh. Segala ambisi luruh, hanya tinggal napas pertama yang jujur dan sunyi.


Tatang R. Macan

Nata Sukma

Tatang R. Macan

Judul Pertunjukan: Nata Sukma

Sutradara: Tatang R. Macan 

Penata Cahaya: Ari Wirya Saputra

Penata Musik: Asripal Fahmi

Penata Artistik: Andreanda D. Putra

Penata Kostum: Puspita Sari “Aii”

Aktor: Dwi Setiawan, M. Andreanda D. Putra, Muhamad Arif, Ananda Rahmat, Puspita Sari, Tatang R. M.

Stage Manager: Regi Petrodinata


Karya ini diangkat dari cerita tutur naskah klasik Sunda “Wawacan Nata Sukma”, yang ditulis anonim pada  masa “tanam paksa” kopi di tanah Priangan (Preanger Stelsel) tahun 1833 di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Gagasan penciptaan karya, mengangkat pikiran-pikiran kritis masyarakat agraris, yang mengalami kontaminasi kolonial dan dekolonialisasi hidup dari zaman-ke zaman hingga  dewasa ini. Karya ini ditampilkan dengan relevansi zaman kekinian, dimana kontaminasi industri dan kehadiran budaya masyarakat urban menjadi konflik internal dramatik. Bentuk pertunjukan dialamatkan pada warna teater kontemporer dengan kredo karya “seni pernyataan”. Gagasan yang diangkat, dialamatkan sebagai suatu upaya untuk “memberi rangsangan, kesadaran kritis, terhadap kondisi masyarakat yang chaos, dalam menata ruang hidup budaya harmonis dan berkelanjutan di Indonesia”.Teks secara bertahap telah dilakukan penelitian dan dipublikasikan pada Jurnal Mudra, jurnal ilmiah kebudayaan ISI Bali tahun 2018, terpublikasi pada Technium Social Sciences Journal di Rumania tahun 2024, dan dibukukan pada Book Chapter Kajian Naskah Nusantara oleh Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) Yogyakarta dan Oceania Press, 2024. Kemudian teks wawacan ini ditulis ulang menjadi naskah drama dalam bentuk sastra kontemporer dengan judul Nata Sukma. Perwujudannya kini dipersembahkan dalam bentuk seni pertunjukan  teater Nata Sukma.


Kata Gerak

Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan

Kata Gerak

Judul Pertunjukan: Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan

Koreografer: Nurima Sari

Komposer: Ossi Darma Desprian

Penari:  Maziyah Ramadhani, Dinda Syahiba, Dwi Oppy Aprilisa, Nada Aulia Arva, Ririn Chayrunisa, Nabila Muthi Ramadhani, Nurima Sari

Stage Manager: Silfa Wulandari

Dokumentasi: Aping


Sinopsis:

Sampai mana langkahnya menuju kata sampai? Nyatanya jalan semakin luas dan panjang. Katanya, sejauh apapun berjalan akan kembali ke titik yang seharusnya. Padahal ia punya hak istimewa, hak menentukan, tapi……

Lalu di mana titik ujungnya? Apa kita kembalikan kepada kalian yang menyaksikan? Jika ia, apa tak berputar di situ saja, bak kering dipakai lagi? 


Galanggang Dance

Lingkaran dalam Gelap

Galanggang Dance

Judul Pertunjukan: Lingkaran dalam Gelap

Koreografer : Fadilla Oziana, S.Sn.

Komposer : Indra Arifin,S.Sn.,M.Sn.

Pimpinan Produksi : Aldi Yunaldi,S.Sn.,M.Sn.

Penari : Fadilla Oziana, S.Sn., Sausan Agitya, Chairino Fauzan, Tatalui Nurhadi, Abib Rahman


Sinopsis:

Waktu mempertemukan dan menyentuh detik ke menit,

lalu menjadi satu jam, dan bunyi tek tek tek tek  nampak baik dan harmonis.

Namun, ada kalanya waktu tak mempertemukan apa-apa di tengah percepatan dan ketergesa-gesaan.

ia kehilangan harmoni. 

Tanpa suara, tanpa tatapan, tanpa sentuhan. Ia lewat begitu saja: 

cepat, tangkas, dan hilang. 

Kehilangan tatapan pada apa saja yang semestinya ditatap, membuatnya kehilangan pesona. 

Tanpa pesona, ia sulit untuk menjadi kenangan.

Ketergesa-gesaan dan percepatan membuat waktu tak punya dimensi, 

tak punya kedalaman makna, tak punya apa-apa yang mempesona, 

dan kita kehilangan momen itu. 

Ketika waktu mati dan diam tak bergerak

Di saat itu, manusia menemukan titik hening


Bandar Kertas Buram

Overture Onjak

Bandar Kertas Buram

Judul Pertunjukan: Overture Onjak

Director Music : Uswatul Hakim

Penata Suara : Fris Okta Falma

Penata Visual : Farli Merdian

Penata Panggung : Wahyu Prima Nelga

Musisi : Uswatul Hakim, Farli Medrian, Muh. Arifandi, Wahyu Prima Nelga, Fris Okta Falma.


Sinopsis:

Overture Onjak merupakan karya lanjutan dari rangkaian Trilogy perjalanan entitas bunyi bibir pantai “ranah bundo” setelah “Barat Laut dan  Revival”  yang memberikan gambaran langkah lompatan besar berangkat dari interval nada saluang pauah memberikan simbol dialek musik yang berujung pada refleksi atas fenomena budaya bahawa lompatan yang terjadi dari konfigurasi nada menjadi entitas baru garapan dan tidak bisa dipisahkan dengan ornamentasi “mangganjua”.


Kamartkost

Nilam Sati

Kamartkost

Judul Pertunjukan: Nilam Sati

Penggarap: Kamartkost

Pendukung Garapan: Kamartkost


Nilam Sati sebagai ruang pertunjukan yang mengeksplorasi dapur menjadi panggung, benda-benda menjadi arsip, dan makan bersama adalah sebuah interaksi. Terinspirasi dari seorang perempuan veteran berusia lebih dari seratus tahun di Padang Ganting, karya ini memfokuskan perhatian pada ingatan domestik, kerja perempuan, dan ekonomi keluarga sebagai bagian dari sejarah yang belum banyak ditulis.

‎‎Karya ini merupakan perkembangan dari eksplorasi artistik sebelumnya—yakni praktik kolase tubuh yang menggabungkan pose-pose tubuh dan benda dalam ruang performatif. Jika sebelumnya tubuh dan benda ditampilkan dalam konstruksi visual yang cenderung statis atau simbolik, maka dalam Nilam Sati, hubungan keduanya berkembang menjadi sebuah peristiwa: sesuatu yang hidup, cair, dan terus-menerus ditafsirkan ulang melalui konteks sosial dan partisipasi kolektif.

‎‎Penonton memasuki ruang pameran yang berisi instalasi benda-benda warung: alat-alat dapur, perabot kayu, banner harga, termos teh, talam, dan sendok-sendok (alat makan). Benda-benda ini merupakan rekaman sejarah kecil dari kehidupan sehari-hari perempuan yang menyimpan kekuatan narasi dan ketahanan namun sering terlewatkan.


Taufik Adam

Sonic Matter: Aural Cartography of Visual Forms

Taufik Adam

Judul Pertunjukan: Sonic Matter: Aural Cartography of Visual Forms

Komposer/Performer: Taufik Adam


“Sonic Matter” adalah sebuah komposisi kontemporer yang meredefinisi peran musik sebagai medium lintasdisiplin. Dalam karya ini, suara tidak hanya diperdengarkan, tetapi dikonstruksi, diinterogasi, dan diperlakukan sebagai objek visual, gestural, bahkan spasial. Ia bergerak di antara dimensi: dari sonic abstraction ke audio-visual sculpture, dari temporal textures ke spatial resonance.

Karya ini menggeser paradigma komposisi tradisional ke arah aural cartography — pemetaan suara sebagai bentuk, warna, bidang, dan ruang yang bisa diinterpretasikan dalam koordinat visual. Bunyi menjadi material, seperti cat dalam lukisan, batu dalam patung, atau cahaya dalam video art. Setiap sinyal audio, glitch, dan feedback menjadi representasi dari garis, volume, dan impresi artistik.


Muhammad Giffary

Gala Resonant

Muhammad Giffary

Judul Pertunjukan: Gala Resonant

Komposer: Muhammad Giffary

Pendukung Karya: Ahmad Nazir

Kriya Artist: Wahyu Gunawan, Rahmad Ikhtibar


Gala Resonant adalah karya seni suara yang mengolah kembali bunyi tradisi pupuik gadang melalui instalasi bunyi interaktif berbasis teknologi. Dengan memadukan sistem pneumatik, sensor, dan pemrograman digital, karya ini menciptakan ruang dengar yang responsif terhadap gerak dan kehadiran tubuh. Bunyi tidak dihadirkan secara tetap, melainkan lahir dari interaksi spasial yang terbuka dan improvisasional. Karya ini menawarkan cara baru untuk mendengar, memahami, dan merespon warisan bunyi dalam lanskap seni kontemporer.


Kurniadi Ilham

Dukhakala Vol 2

Kurniadi Ilham

Judul Pertunjukan: Dukhakala Vol. 2

Penata Gerak: Kurniadi Ilham 

Penari: Alsafitro, Junaisya Syifatul Qalbi, Anggi Safandri Ova, Kurniadi Ilham

Penata Bunyi: Rama Anggara 

Produksi: Mhd Arif Silfhandi 


Dukhakala hadir sebagai ruang refleksi dari pengalaman kontemplatif tubuh dengan situs muaro jambi. mengunjungi dan mempertanyakan kembali bagaimana kehadiran tubuh menanggapi situs yang terkubur. Bergejolak diantara memori kolektif yang tersimpan disertai dengan ancaman yang sudah dan akan datang. Gundukan menjadi saksi bahwa ada satu peristiwa besar yang pernah terjadi dimasa lalu. yang mengubur kenyataan dan harapan. Lewat pengambaran negosiasi tubuh dengan memori, yang dihadirkan lewat bunyi sebagai intervensi, dan material yang saling berkelindan, mempertanyakan kehadiran tubuh itu sendiri dalam menanggapi fakta sejarah dan kondisi hari ini.

Komunitas Seni Nan Tumpah

INDOMIII RASA RENDANG / SAMBIL MENYELAM MINUM PLASTIK

Komunitas Seni Nan Tumpah

Judul Pertunjukan: INDOMIII RASA RENDANG / SAMBIL MENYELAM MINUM PLASTIK

Naskah/Sutradara: Mahatma Muhammad

Koreografer: Deslenda

Komposer: Tenku Raja Ganesha

Penata Cahaya: Karta Kusumah

Penata Busana: Nanda Pradinhe

Pemain: Yunisa Dwiranda, Ivan Harley, Desi Fitriana, Desvy Sagita, Deslenda, Hilda Ismia Putri, M. Fakur Reski, Daffa Al Zikra, Cadhla Tri Gunawan, Robi Ilham 

Pemimpin Produksi: Fajry Chaniago

Anggota Produksi: Srikandi Putri, Diah Anggina Uli Sitompul, Rahmila Wahdera, Erik Ade Pratama


Pertunjukan seni ini memadatkan elegi agraria, satir pangan, dan absurditas visual untuk mengupas bagaimana kebijakan publik menutup krisis pangan dengan bungkus kemakmuran. Judulnya meminjam bahasa iklan, rasa instan, dan peribahasa yang dipelintir untuk menohok ironi ketika identitas kuliner dan tanah leluhur direduksi menjadi varian rasa dalam kemasan. Dari dapur tradisi yang dihancurkan budaya instan, tanah dan air yang dijadikan komoditas, hingga orasi satiris yang memuja “kemajuan” sembari menyingkap industri dan negara yang menjual polusi sebagai solusi. Pertunjukan ini menabrakkan bahasa propaganda, tubuh warga, dan residu plastik yang meresap ke tanah, laut, dan perut. Akhirnya, kenyang dan sehat hanyalah retorika citra, warisan sejatinya adalah pencemaran yang tak pernah terurai.

Siska Aprisia

Lidah yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu

Siska Aprisia

Judul Pertunjukan: Lidah yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu

Koreografer/Performer: Siska Aprisia

Dramaturg: Mahatma Muhammad

Penata Musik: Jumaidil Firdaus

Skenografer: Yusuf Fadly Aser

Penata Busana: Nanda Pradinhe

Diproduksi oleh Komunitas Seni Nan Tumpah


Pertunjukan “Lidah yang Tersangkut di Kerongkongan Ibu” ini merupakan pembacaan ulang atas tubuh Siska Aprisia, selaku koreografer dan perempuan Minangkabau sebagai medan tarik-menarik antara warisan budaya, konstruksi sosial, dan trauma kontemporer. Lewat dekonstruksi idiom-idiom tradisi seperti Ulu Ambek, Silek, Randai, hingga Indang, karya ini menyoal bagaimana tubuh perempuan dimitoskan sebagai penjaga nilai,  sekaligus dibungkam oleh nilai itu sendiri. Gerak tubuh menjadi narasi sunyi yang mengabarkan luka-luka yang gagal dibahasakan: antara adat yang menuntut, modernitas yang menjauhkan, dan rasa malu yang merongrong eksistensi.

Secara dramaturgis, pertunjukan ini mengungkap tubuh sebagai arsip tak resmi dari peristiwa-peristiwa yang dipinggirkan: penghakiman sosial, perantauan yang getir, kekerasan domestik, serta limbah-limbah simbolik dari tatanan patriarkis. Dengan strategi visual  dan bunyi-bunyian yang menghantui, karya ini mempertanyakan otoritas bahasa ibu, yang seharusnya merawat, namun kerap menjelma menjadi jerat. “Lidah yang Tersangkut” tidak lagi metafora fisikal, melainkan simbol dari keterbatasan perempuan dalam mengekspresikan dirinya di tengah benturan tradisi, ekonomi, dan sistem nilai yang membusuk dalam diam dan kebisingan.


Arung Wardhana

“Chaos: Metode Riset Artistik & Autobiografi dalam 

Performa yang Terus Menerus Kandas”

Arung Wardhana

Judul Pertunjukan: “Chaos: Metode Riset Artistik & Autobiografi dalam 

Performa yang Terus Menerus Kandas”


Ini diangkat dari disertasi karya seni saya; “Diskusi Performatif: Minum Kopi Sembari Tengok ke Belakang (Dramaturgi ke Dramaturg)”, sebuah buku yang lebih mengurai bagaimana kerja metode riset artistik saya selama ini; yang disebut practice as research, memiliki keterkaitan antara metodologi yang berbeda seperti intertekstualitas dengan banyak hal, yang menonjolkan relasi antara proses material, wacana, dan penciptaan beroperasi secara intrinsik sebagai cara penyelidikan, dampak pengetahuan diri, berspekulasi antara pertunjukan dan realitas. Brkelindan dengan riset artistik lainnya; strategi yang terjalin dengan  practice as research seperti; practice-based research, practice-integrated research, studio research, dan practice-led research; di mana beragam metode riset artistik ini saling berhubungan dalam karya ini, yang dikerjakan dengan fondasi utama; dramaturgi autobiografi—dengan kata kunci chaos dan performa yang terus menerus kandas, serta tidak menutup kemungkinan karya kali ini pun juga kandas, dan tubuh sudah terhabituasi dengan kekandasan tersebut—bersama partisipan (yang ingin kandas bersama-sama, membaca bukunya terlebih dahulu melalui scan barcode yang disebarluaskan bagi yang bercita-cita menontonnya—jika tidak ada cita-cita untuk menonton; mohon jangan disebarluaskan sebelum pertunjukan berlangsung). Selamat datang pada semesta chaos dan kekandasan yang terus terulang-ulang!


Jaguank

NARASINI

Judul Pertunjukan: NARASINI

NAMA PENGGARAP : AGUNG PERDANA

NAMA PENDUKUNG :

  • AGUNG PERDANA
  • LOVIA TRIYULIANI
  • FRANDI YUTRA

SINOPSIS KARYA : 

Karya ini mengeksplorasi bagaimana narasi memiliki kekuatan untuk membingkai, mengaburkan, bahkan membelokkan makna dari suatu fenomena  apakah itu konflik sosial, peristiwa sejarah, krisis lingkungan, atau transformasi budaya. Fenomena yang sama dapat tampak sangat berbeda tergantung siapa yang menceritakannya, bagaimana ia dikisahkan, dan untuk kepentingan siapa.


TJDM PERFORMANCE (MANAJEMEN TALENTA NASIONAL)

Tentang Jika dan Maka:
Aku Ingin Pulang?

TJDM PERFORMANCE (MANAJEMEN TALENTA NASIONAL)

Judul Pertunjukan: Tentang Jika dan Maka:
Aku Ingin Pulang?

Josep Razaqi – Sutradara

Selma Jasmine – Produser, Aktor

Decky Medani – Aktor

Taufan Alrezika – Aktor

Irfan Badrul Zaman – Aktor

Adinda Nur Alfie – Aktor

Siska Liliyani – Aktor

Faki – Aktor


Pertunjukan ini akan mengajak penonton untuk berefleksi terhadap kondisi kesehatan mentalnya masing-masing. Melalui pertunjukan ini, harapannya penonton dapat melihat sisi-sisi kesehatan mental yang mungkin belum mereka sadari.

Penonton akan dihadapkan pada sejumlah pertanyaan dengan topik kesehatan mental melalui bentuk petualangan menjelajahi ruang-ruang khusus yang diantaranya:

  • Ruang Penerimaan Diri / Siaran Karakter
  • Ruang Impian dan Afirmasi / Labirin Impian
  • Ruang Hubungan Sosial / Kelas Hubungan Sosial
  • Ruang Penyesuaian Diri / Pelatihan Harmonisasi
  • Ruang Apresiasi / Panggung Ajaib
  • Ruang Tantangan / Simulasi Tantangan
  • Ruang Meditasi / Siraman Masa Depan