IMAM TEGUH SY (BETU-BETU)

Mencari Judul

IMAM TEGUH SY (BETU-BETU)

Judul karya: Mencari Judul

PENJELASAN TENTANG KARYA

Karya yang saya beri judul mencari judul merupakan karya baru yang sedang proses pembuatan. karya dua dimensi dengan bentuk spanram-nya. Pola yang berbeda yang di mana tidak mengunakan span yang konvensional. Di sini ingin menghadirkan lukisan dimensian variabel beberapa bentuk pola akrilik di atas kanvas kemudian beberapa item pendukung lain nya seperti akrilik yang akan menghubungkan rankain pola tersebut.


BOYNISTIL

Pohon Plastik

BOYNISTIL

Judul Karya: Pohon Plastik

DESKRIPSI KARYA

Menyelami fakta bahwa masalah sampah plastik belum bisa teratasi sampai sekarang, secara metafora, karya ini menggambarkan kehidupan yang tumbuh dari sampah manusia itu sendiri, plastik juga jadi konsumsi massal, selain dia berguna, tapi juga meresahkan. Secara fisik karya ini berbentuk seperti kursi,dia bukan tempat duduk lagi, tapi simbol seperti jarak manusia dengan alam, antara kebutuhan dan kerakusan antara masa kini dan masa depan.


RARA ALMADA MUTIARA

Organisme Baru

RARA ALMADA MUTIARA

Judul karya: Organisme Baru

DESKRIPSI KARYA

Karya ini adalah luapan dari apa yang selama ini dibuang, diabaikan, dan dilupakan. Sampah plastik, dan sisa-sisa benda sekali pakai telah menjadi simbol dari pola hidup yang terus mengonsumsi tanpa memikirkan jejak yang ditinggalkan. Dalam karya ini saya tidak hanya ingin menunjukkan bentuk sampah sebagai objek visual, tetapi juga sebagai metafora tentang kebingungan, kekacauan, dan pertanyaan-pertanyaan yang kita pendam. Apa yang tersisa setelah semua ini ditumpahkan? Apakah ini hanya sampah, atau potret dari kenyataan yang kita ciptakan bersama?

Melalui ketidakteraturan, tekstur yang ruwet, dan komposisi yang tidak selesai, saya merayakan kebebasan berekspresi bahwa seni tidak selalu harus indah, rapi, atau jelas. Justru dari keruwetan dan kebingungan inilah karya ini menemukan hidupnya. Karena barangkali, kebingungan adalah bentuk kejujuran yang paling tulus dari seorang penikmat seni.


NADHIVA FADILLAH

Somekind Of Dessert 

NADHIVA FADILLAH

Judul Karya: Somekind Of Dessert 

DESKRIPSI KARYA

Karya dengan judul Somekind of dessert berukuran 200 x 140 cm menghadirkan visual transformasi manusia berkepala ikan dengan pose mengelilingi tebing rumput yang diatasnya terdapat ikan matang yang sedang mereka santap. Dengan visual pendukung seperti kayu, drapery kain serta miniatur kapal pada bagian kiri. Terdapat juga tebing rumput lainnya serta background dengan warna cerah.

Pada karya ini perupa menitipkan perspektif personal dalam lingkungan sosial, dimana aku , kamu dan kita semua mulai memakani semua jenis manusia yang kita temui. Entahlah dalam konteks baik atau buruk, satu manusia akan terpengaruh dengan satu lainnya. 


Nasrul Palapa

The Toys

Nasrul Palapa

Judul Karya: The Toys

DESKRIPSI KARYA

The Toys adalah karya patung instalasi bergaya teatrikal yang sengaja mengarahkan ke seni satir yang menggunakan bahasa visual humor, juga ada ironisnya untuk mengkritik atau menyampaikan pesan tentang isu-isu sosial politik dan budaya. Karya ini sengaja di “rebuild” untuk festival Nan tumpah, sebelumnya 10 tahun karya ini telah dibuat (Juli 2015).


NANDA PRADINHE

Kain yang menangis, Benang yang tertawa

NANDA PRADINHE

Judul Karya: Kain yang menangis, Benang yang tertawa

DESKRIPSI KARYA

Kain yang menangis, Benang yang tertawa. Karya ini bisa menyampaikan pesan tentang dualitas kehidupan: kesedihan dan kebahagiaan yang saling melengkapi, bagaimana luka dan harapan bisa hidup berdampingan dalam satu kesatuan, seperti kain dan benang yang saling bergantung. Bahan yang digunakan adalah kain dan benang yang bergumul dan menggantung penuh warna-warna mencolok.


MIRANDA CURLY

Tak Perlu Nisan

MIRANDA CURLY

Judul Karya: Tak Perlu Nisan

DESKRIPSI KARYA

Gagasan utama dari karya ini adalah tentang seniman yang dikubur oleh seni dan bermacam-macam ekspektasinya terhadap seni. Khususnya di Padang, seniman sangat menikmati prosesnya, dengan angan-angan menjadi makmur, sejahtera dengan kehidupan santai. Ternyata lingkungan seni di Padang berpolusi, ada yang sadar dan tidak sadar. Sadar tidak sadar, seniman di Kota ini tetap santai menikmati tubuhnya dikubur perlahan-lahan. Mungkin ada pilihan lain, pergi dari kota ini atau tinggalkan seni dan bekerja diluar seni, bisa juga seni hanya sampingan yang tidak perlu disentuh dalam 24 jam jika tidak mau dikubur. Banyak juga yg mengharapkan dari proyek pemerintah, tapi tak sadar kalau seniman hanya opsi sampingan oleh pemerintah. Pemerintah hanya payung bolong buat mereka yang mengharapkan keteduhan. Mereka hanya menyirami tubuh ini dengan air “seni” dan bunga kematian. Disini saya yang terkubur, bersulang dengan air “seni” layaknya pesta pantai, dan bunga kematian adalah aroma terapi untuk kekuatan. Ini tentang cara bertahan hidup sambil bersantai ria. Presentasi visual yang saya hadirkan berupa intalasi karya. Relevansi trhadap tema saya mengambil seni terserah, tentang humor, cime’eh dan kekacauan untuk seniman dan pemerintah.


 RAFIQ ALUNAKI

Sebotol Minuman Sebungkus Rokok

 RAFIQ ALUNAKI

Judul Karya: Sebotol Minuman Sebungkus Rokok

DESKRIPSI KARYA

Berjudul “Sebotol Minuman Sebungkus Rokok” Bicara bertemu, bincang sesuatu, berbagai macam bahasa, masalah, ataupun solusi. bertemu atau dipertemukan atau ditemukan? yang penting NYATA tidak bertengkar. terkadang banyak “temu” yang berujung “pisah” entah karena beda pendapat ataupun sentimen. Namun dibalik itu ada proses yang berbeda beda yang telah kita lewati dan sesekali haruslah kita apresiasi hal tersebut, terserah berhasil atau gagal, jadi atau tidak jadi, tercapai atau tidak tercapai, walau dengan menertawakan bersama sebotol minuman dan sebungkus rokok.

Sebuah ruang 4 sisi yang memiliki 4 askes berbeda untuk melihat kedalam, ini merupakan representasi dari bagaimana proses dalam mencapai sesuatu, bagaimana melihat sesuatu. Sebotol Minuman dan sebuah rokok merupakan representasi dari humor dan harmonis. dan juga simbol akan capaian dari sesuatu. motif sulur bercirikan ukiran minangkabau merupakan representasi lika liku proses kehidupan yang antar berantah namun berwarna. dan kaca pada lantai merupakan refleksi dari diri sendiri. relevansi dengan tema karya ini adalah kita tidak perlu muluk-muluk memahami sesuatu, memastikan, memaksakan, bahkan kecewa berlebihan akan sesuatu tersebut. tapi jujur saja kalau itu masalah rasa.


HENDRA ROTAMA (HEROTAMA LALALA)

ALU PATAH 3.0

HENDRA ROTAMA (HEROTAMA LALALA)

Judul Karya: ALU PATAH 3.0

DESKRIPSI KARYA

Dalam pepatah Minangkabau “samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo” (semut terpijak tidak mati, alu tersandung patah tiga), terkandung perumpamaan imajinatif yang menggambarkan lembutnya budi dan halusnya perasaan seseorang dengan sikap penuh penerimaan. Namun, ketika sikap tersebut sudah menyelisihi apa yang menjadi prinsip, maka ia dapat menunjukkan penolakan dan pembelaan terhadap nilai-nilai tersebut. Seperti Tanah air Perasaan harus dibela.


 ERLANGGA

Tunas Yang Berani

 ERLANGGA

Judul Karya: Tunas Yang Berani

DESKRIPSI KARYA

Tunas melambangkan harapan dan potensi yang baru, Berani menunjukan keberanian dan  keteguhan dalam menghadapi tantangan. Tunas yang kecil dan lembut dapat tumbuh menjadi sesuatu yang kuat dan besar. Melambangkan kekuatan dan ketahanan dalam diri seseorang.tunas ini melambangkangenerasi mudayang berani mengambil resiko mencoba hal yang baru dan menciptakan perubahan.


VOLTA AHMAD JONNEVA

KOLONIALISME GAGAL FOKUS

VOLTA AHMAD JONNEVA

Judul Karya: KOLONIALISME GAGAL FOKUS

DESKRIPSI KARYA

Karya ini merupakan eksplorasi visual terhadap arsip-arsip kolonial yang saya kumpulkan dari situs lembaga arsip Belanda dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dengan fokus wilayah Solok sebagai titik tolak pencarian. Alih-alih merekonstruksi sejarah secara naratif, saya mendekati arsip sebagai medan sensori tempat tekstur, garis, dan bayangan memiliki bahasa sendiri.

Melalui teknik kolase yang cenderung abstrak, saya mengacak ulang fragmen-fragmen visual masa lalu: potongan wajah yang kabur, lanskap yang terpotong, kontras hitam putih yang menyimpan banyak kelabu. Saya menolak untuk “mewakili” arsip secara utuh. Justru dalam keterpecahan, saya melihat potensi untuk mengusik makna-makna mapan dan membuka ruang untuk tafsir yang lebih liar, lebih emosional.

Dalam suasana visual yang hitam putih, karya ini tidak menawarkan nostalgia, tetapi menyodorkan ketegangan: antara dokumentasi dan ilusi, antara sejarah dan kebingungan, antara yang pernah ada dan yang tak pernah selesai.


DIKA ADRIAN

HARVEST HARVESAN

DIKA ADRIAN

Judul Karya: HARVEST HARVESAN

DESKRIPSI KARYA

Apakah kamu perlu tahu zodiak temanmu? Hehe 😅😅😅

Zaman boleh modern dan serba digital. Namun, kepercayaan pada zodiak, dikalangan anak muda masih sangat kuat. Sebagian untuk lucu-lucuan atau sekadar ikutan tren di media sosial. Namun, banyak pula yang meyakini ilmu titen ala Barat tersebut, khususnya dalam menilai karakter seseorang.

Tiga tahun terakhir, saya seringkali berinteraksi dengan orang baru dari berbagai latar belakang! Ya, pastinya memperkaya pengalaman dan pengetahuan tentunya. Mengetahui sifat teman berdasarkan zodiaknya bisa menjadi salah satu cara untuk memahami kepribadian mereka. Namun, perlu diingat bahwa zodiak hanyalah salah satu aspek dan tidak sepenuhnya menentukan kepribadian seseorang. Bagaimana menurutmu, apakah zodiak bisa menjadi patokan yang akurat untuk memahami seseorang? Haha 😂😂😂

Sebenarnya tidak ada isu yang urgensi dari karya ini, tapi mengajak teman-teman untuk lebih mengenal lagi orang-orang terdekat, relasi, teman, maupun apalah itu namanya. Karya interaktif yang saya beri judul “HARVEST HARVESAN” ini, merupakan metode panen sederhana dengan catatan-catatan kecil dari apa yang telah audiens PNT (Pekan Nan Tumpah) tuliskan.


SALMAN AL FARISY/HEAVEN CHS

SAFE ZONE

SALMAN AL FARISY/HEAVEN CHS

Judul Karya: SAFE ZONE

DESKRIPSI KARYA

Sebuah karya instalasi yang menggambarkan sebuah ruangan yang penuh gambar dan ruangan yang menggunakan lampu LED neon, saya menggambarkan sebuah ruangan persembunyian atau zona aman namun tetap dibawah pengawasan. Dan saya mengangkat isu tentang ruang publik.


Huddiyal Ilmi

KOSMOS

Huddiyal Ilmi

Judul Karya:KOSMOS

DESKRIPSI KARYA

Tempat di mana emosi, kenangan, dan keraguan bertabrakan dalam diam. Karya ini adalah pernyataan visual atas kegelisahan dan kepercayaan. Ia bukan sekedar tontonan, tetapi medan perenungan bagi sang pencipta dan penontonnya.

Melalui gabungan footage drone, rekaman kamera mirrorless, iPhone, hingga dokumentasi pribadi yang telah lama tersimpan, Kosmos mengajak penonton menelusuri lanskap visual yang tidak teratur: kota dan desa, jalanan ramai dan sawah lengang, tawa dan tangis, pencapaian dan kegagalan, kehadiran dan kehilangan. Semuanya disusun secara acak namun saling beririsan dalam montase yang bergerak di luar logika cerita konvensional. Ini adalah potongan hidup. Ini adalah potongan jiwa.

Karya ini berangkat dari pengalaman eksistensial: perasaan bimbang, tertekan, namun juga penuh harap. Kosmos mencoba menangkap saat-saat ketika dunia luar dan dunia dalam saling bertubrukan. Semua terasa berisik suara-suara asing, situasi yang menekan, harapan yang tak pasti seperti semesta sedang menatap dan mengujimu dari segala arah. Namun di balik kekacauan visual dan efek distorsi yang ditampilkan, ada keyakinan mendalam bahwa semua ini bukanlah sia-sia.

Dalam kerangka semiotika, setiap cuplikan video dalam Kosmos tidak berdiri sendiri, tetapi membawa simbol dan makna: gerakan awan bukan hanya cuaca, tapi waktu yang berjalan; seorang anak tertawa bukan sekadar kebahagiaan, tapi ingatan; jalanan kosong bukan kesepian, tapi peluang; dan wajah-wajah asing adalah cermin dari diri sendiri yang belum selesai dikenali.

Kosmos adalah cermin atas perasaan manusia yang kerap tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di satu sisi, ia adalah pengakuan atas keruntuhan dan keletihan, namun di sisi lain, ia juga bentuk keyakinan terhadap sesuatu yang lebih besar: bahwa semesta memiliki naskahnya sendiri. Bahwa Tuhan tak sedang diam. Bahwa semua yang terlihat hancur hari ini, adalah bagian dari arsitektur agung yang sedang dibentuk diam-diam.

Musik yang mengiringi post-rock dan eksperimental bukan sekadar latar, melainkan jiwa kedua dari karya ini. Nada-nadanya lambat, meledak, hening, dan bergelombang mengikuti ritme perasaan yang tak stabil. Di sinilah suara menggantikan narasi, dan hening menjadi bahasa.

Kosmos berdiri di antara seni murni dan seni terapan, tetapi juga di luar itu. Ia adalah seni terserah: seni yang lahir bukan untuk dijelaskan atau disatukan, melainkan untuk dirasakan. Karya ini tidak menuntut tafsir tunggal. Ia mengundang siapapun yang melihat untuk bertanya ulang pada dirinya sendiri: apakah aku sedang menghadapi semesta, atau justru semesta sedang menuntunku pulang?


ANGGA ELPATSA

SSSSSTT

ANGGA ELPATSA

Judul Karya: SSSSSTT

Deskripsi Karya:

SSSST adalah judul karya yang dipilih, berupa sebuah gambaran pojokan kecil yang terdiri dari kursi dan meja dan beberapa interior pendukung. Ruang kecil yang bisa menampung banyak hal, dan kita masing masing tentu nya memiliki secara sadar ataupun tidak sadar.. tempat dimana kita bisa berinteraksi dengan diri sendiri atau berkontemplasi dengan hati dan pikiran.. SSSSTT dalam judul merupakan pernyataan untuk diam dan tidak bersuara…Diam disini bukan berarti lintas pikiran yang mengarah pada kekosongan. 

Diam disini adalah isian yang belum dipaksa menjadi suara. Dalam dunia yang terus bising—penuh tuntutan untuk menjelaskan, membalas, menjawab—diam menjadi bentuk perlawanan paling elegan. “SSSSTT” bukan sekadar isyarat untuk tenang. Ia adalah panggilan untuk kembali ke dalam. Di dalam diam, kita mendengar apa yang tak bisa dijelaskan dengan kata, ex : Rasa yang belum selesai, Luka yang belum sembuh, Kebijaksanaan yang belum tumbuh dan hal lainnya..

kehidupan tak hanya dibangun dari apa yang kita katakan atau di narasikan. Tapi juga dari apa yang sengaja kita pilih untuk tidak ucapkan. Diam adalah keberanian untuk tidak bereaksi. Maka, saat dunia memaksa kita untuk selalu menjawab, mungkin ada pilihan lain diantara  “SSSSTT” Biarkan diam yang memberi jawaban. pada sadarnya SSSSTT = Susah Senang Sama Seru nya dan Tetap Tersenyum, apapun kondisi yang memaksa nya.


RAHMAT NUR

ANTARA AKU, TAMAN BUDAYA, DAN DINAS KEBUDAYAAN

RAHMAT NUR

Judul Karya: ANTARA AKU, TAMAN BUDAYA, DAN DINAS KEBUDAYAAN

DESKRIPSI KARYA

Melihat fenomena atau gejala maupun sikap yang terlihat maupun tidak, telah terjadi pergeseran – pergeseran fungsi atau konsep atas penamaan dari yang sudah dinamakan atas status seseorang dalam tata kelola kenegaraan yang cenderung disebut pemerintah. Contoh pegawai negeri, yang dalam bahasa inggris dinamakan civil servant yang kalau diterjemahkan leksikal PELAYAN MASYARAKAT yang dilembutkan dalam bahasa Indonesia menjadi abdi masyarakat atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang wakil rakyat, bisa juga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Abdi negara lain, baik POLRI, TNI, ataupun apa-apa saja yang pada konsep awal dibuat bertujuan pada pengabdian kepada rakyat atau masyarakat. Secara kata-kata itu tidak harus dijelaskan bahwa rakyat atau masyarakat adalah atasan dan perangkat-perangkat yang sudah disebutkan terdahulu adalah abdi-abdi masyarakat atau rakyat. Yang menjadi sebuah perbincangan yang nyaris tak bisa dibincangkan atau didebatkan jika bisa menahan konsekuensinya. Yang secara naluriah sudah dipahami semua oleh kita seakan kembali istilah sudah Merdeka tapi belum merasakan KEMERDEKAAN.



SYAHRIAL YAYAN

Melihat Lebih Dekat

SYAHRIAL YAYAN

Judul Karya: Melihat Lebih Dekat

Sejarah seni rupa mengalir dari tempatnya, berbagai corak gaya dan aliran muncul samapai pada era kontemporer ini. Maka sebagai individu tidak semuanya yang saya terima sebagai bagian dari seni yang saya presentasikan dalam konsep berkarya. 

Hal ini seperti munculnya Nabi terakir yang membawa perubahan dari zaman sebelumnya yang di sebut zaman jahiliah (kebodohan) dengan memangkas, menolak, menerima kebudayaan sebelumnya serta Membawa hukum hukum nya sendiri.

Begitu juga dengan konsep karya ini, ketika seni telah berkembag terlau jauh,  maka karya: melihat lebih dekat ini melihat kembali seni lebih dekat lagi untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yg terjadi di dunia seni dari rentang waktu dimana sejarah seni rupa bergulir sebelumnya, karena seni di anggap bukan bagian dari rasional serta melepaskan diri dari benar atau salah nya.

Dalam karya ini mempertanyakan  antara seni dan realitas dengan cara pandang masuk dalam koridor agama. Karena seni melepaskan diri dari benar atau salah dan agama tidak mempunyai konsep begitu,  antara yang benar dan yg salah mempunyai garis yang tegas.


JOHN WAHID

Ngarai Takuruang

JOHN WAHID

Judul Karya: Ngarai Takuruang

DESKRIPSI KARYA

Tidak ada


Kamal Guci

DESKRIPSI KARYA

Empat karya lukisan, Si Binuang Patah Tanduak, Surau Roboh, Badai, dan Muaro merupakan kegelisahan dan tafsir visual Kamal Guci atas keretakan lanskap budaya Minangkabau. Rumah gadang yang reyot, surau yang roboh, hingga kampung yang diterpa badai dihadirkan sebagai penanda runtuhnya tumpuan nilai sosial dan spiritual. Lewat lukisan-lukisan ini, ia ingin menegaskan bahwa tradisi, yang dahulu menjadi pusat kehidupan, kini tampak ringkih dan satu persatu runtuh di hadapan perubahan zaman

Secara estetik, Kamal Guci menghadirkan keruntuhan itu dengan atmosfer yang muram sekaligus indah. Muaro menyuguhkan tenang yang samar, tapi menyiratkan ancaman erosi tradisi. Badai memperlihatkan amarah alam terkembang. Si Binuang Patah Tanduak dan Surau Roboh memvisualkan rapuhnya simbol-simbol kolektif masyarakat.  Lukisan ini seolah adalah cara Kamal sebagai pelukis bertanya: sampai sejauh mana kita masih menghidupi rumah gadang, surau, dan warisan budaya lainnya dalam keseharian?


ROMI ARMON

Pohon Hikayat

ROMI ARMON

Judul Karya: Pohon Hikayat

Deskripsi Karya:

Sebuah seni instalasi mengandung makna yang kompleks dari pembacaan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Pohon, sebagai elemen sentral dalam instalasi ini adalah simbol kekuatan, ketahanan, dan keberlanjutan. Kata “hikayat” merujuk pada narasi – narasi panjang yang meliputi cerita rakyat, mitos, legenda, dan sejarah yang diwariskan secara lisan dan tertulis dari generasi ke generasi. Hikayat adalah bentuk pengisahan yang mengandung nilai – nilai budaya, moral dan identitas suatu masyarakat . Dalam konteks seni instalasi ini, hikayat menggambarkan perjalanan panjang  dan penuh liku dari perjalanan WTBOS, mencakup berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terpengaruh oleh aktivitas tambang batubara. 

Pohon Hikayat  menggugat narasi dominan yang seringkali memuja “ kemajuan”tanpa mempertanyakan harga yang harus dibayar oleh mereka yang berada di bawah. Karya ini menuntut untuk melihat kembali bagaimana sejarah ditulis dan oleh siapa. Jalur – jalur rayap yang menggerogoti batang pohon, terinspirasi dari jalur kereta api, yang dimaknai sebagai sebuah metafora dan kolonialisme yang merusak tatanan kehidupan dan alam. Karya ini menuntut untuk tidak hanya menghormati apa yang tersisa, tetapi juga untuk mempertanyakan bagaimana bisa belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Olimsyaf Putra Asmara

Rancak di Labuah

Olimsyaf Putra Asmara

Judul Karya: Rancak di Labuah

Deskripsi Karya:

Rancak di Labuah adalah karya yang menyuguhkan ironi visual. Sebuah mobil yg tampak memesona dari kejauhan, namun di permukaannya, laba-laba besar mengikat tubuhnya, dan struktur dalamnya terbuka, digerogoti sampai keropos menyerupai organ dalam manusia yang luka. Karya seni dengan medium utama Toyota Corona 1985 ini ingin mengeksplorasi tubuh sosial, kota, atau rumah tangga bisa tampil rapi di luar, tapi membusuk pelan-pelan di dalam, digerogoti ekspektasi, norma, dan tekanan sosial. Bagaimana suatu sistem, relasi, dan identitas terus menerus dililit oleh ketakutan akan keterbukaan dan keharusan tampil “baik-baik saja”


BODY DHARMA

BODY DHARMA

DESKRIPSI KARYA

Lima karya Body berjudul Mairiak Padi, Gerak dan Irama 1, Musik Panen Padi, Baindang, dan Gerak dan Irama 2, menghadirkan vitalitas tubuh sebagai pusat pengalaman budaya Minangkabau, khususnya budaya Pariaman. Figur-figur panjang dengan mata tunggal muncul sebagai simbol “mata batin”. Cara memandang hidup melalui intuisi, irama, dan rasa kolektif. Tubuh dimaknai sebagai ruang perjumpaan antara kerja, doa, dan perayaan. Sedangkan panen, musik, dan ritus ditransformasikan menjadi tarian visual yang menolak statis.

Kelima karya dengan media kertas dan cat air ini memadukan keriuhan warna dengan dinamika gerak. Mairiak Padi memperlihatkan kerja yang beralih menjadi perayaan. Musik Panen Padi dan Baindang menekankan irama tradisi sebagai denyut kebersamaan yang mengikat masyarakat adat. Sementara Gerak dan Irama 1 dan Gerak dan Irama 2 mengabstraksikan tubuh sebagai instrumen ritme, seolah setiap anggota badan adalah nada yang menyusun komposisi. Body Dharma melalui lukisannya menggambarkan energi hidup yang mengalir dari mata hati, bergerak dari sawah, laga-laga, hingga mata dan ruang batin manusia.


ANCA PUTRA PRAMANA

Eros dan Mimpi Sadar

ANCA PUTRA PRAMANA

Judul Karya: Eros dan Mimpi Sadar

DESKRIPSI DAN TEKNIS KARYA EROS

Karya ini merupakan perwujudan visual dari dorongan Hasrat personal dalam mimpi, eros diambil dari Bahasa Yunani yang berarti gairah. Eros bukan sekadar cinta romantik, melainkan kekuatan naluriah yang mendorong manusia untuk menyatu, bertumbuh, dan hidup.

Dengan menampilkan fragmen tubuh yang terapung di langit, terikat tali, dan ditumbuhi mawar merah basah, karya ini membuka pintu menuju dunia mimpi sadar (lucid dream), di mana tubuh bebas dari gravitasi realitas namun tetap terjerat oleh batas-batas bawah sadar.

Tali-tali yang melilit tidak hanya mengisyaratkan pembatas eksternal, tetapi juga representasi dari konflik internal—antara hasrat dan kendali, antara kebebasan dan norma. Mawar merah mekar sebagai simbol dari kerentanan yang sensual, cinta yang tak steril, dan luka yang dibawa ke dalam mimpi. Sementara cairan yang membasahi tubuh menghadirkan ketegangan antara kesucian dan kenikmatan, antara sadar dan tak sadar.

Latar langit biru menciptakan nuansa mimpi, ruang tak terjangkau di mana tubuh melayang dan waktu seakan berhenti. Instalasi kain putih transparan di ruang pameran memperkuat atmosfer ini, menjadi tirai tipis antara dunia nyata dan dunia mimpi, antara penonton dan fragmen mimpi yang coba diingat kembali.

“Barangkali kita tak pernah benar-benar bebas dari tali-tali bawah sadar, namun mimpi memberi kita ruang untuk mencoba”


FEMMY SUTAN BANDARO

Tiga Diagram Pengurai Kekacauan X Khotbah Perajut Kekacauan

FEMMY SUTAN BANDARO

Judul Karya: Tiga Diagram Pengurai Kekacauan X Khotbah Perajut Kekacauan

 DESKRIPSI KARYA

  Gagasan awal yang dituliskan saat mengisi Formulir Panggilan Terbuka PNT 2025:

Banyak diagram-diagram yang saya buat dalam rangka mengurai kekacauan di pikiran gara-gara ‘membaca’ realitas di lingkaran hidup saya. Panggilan Terbuka Pameran Seni Pekan Nan Tumpah 2025 menstimulasi saya untuk merespon panggilan terbuka itu, dengan mengirimkan diagram-diagram yang pernah saya buat sehingga bisa dipertemukan dengan publik yang lebih banyak.

Relevan-relevankan dengan dengan tema festival, saya pilih 3 buah diagram yang kemudian saya beri tulisan dibawahnya yaitu: Murni, Terapan, dan Terserah, yang kemudian hadir dalam ‘1 bingkai’ dengan tulisan di atas 3 diagram “Tiga Diagram Pengurai Kekacauan*”. Di bawah terlihat tulisan  “*atau bisa juga akan menambah kekacauan”.


HARPAN EKA SATRIA

Warna-warni kurikulum di negeriku (The colorful curriculum of my country)

HARPAN EKA SATRIA

Judul Karya: Warna-warni kurikulum di negeriku (The colorful curriculum of my country)

DESKRIPSI KARYA

Di negeri kita (Indonesia) sudah terjadi beberapa pergantian kurikulum pendidikan, katanya untuk memperbaiki hasil dan kualitas pendidikan. Pergantian demi pergantian kurikulum terus dilakukan, dalam usia kemerdekaan Indonesia yang hampir mencapai 80 tahun, sudah mengalami lebih dari 10 kali pergantian kurikulum. Panel-panel kecil yang terdiri dari 12 panel sebagai cerita dan simbol mewakili setiap kurikulum yang pernah digunakan dalam pendidikan formal, mulai dari masa kolonial sampai sekarang. Satu panel yang besar sekaligus tanda tanya besar bagi kita, kira-kira apa istilah kurikulum berikutnya yang akan diterapkan pemerintah?

Dari masing-masing pergantian kurikulum tersebut hampir semua membahas untuk meningkatkan hasil pendidikan. Sementara kegiatan pendidikan terus berjalan dan tetap menghasilkan peserta didik yang beragam, seperti hampir tidak terpengaruh dengan pergantian kurikulum yang luar biasa pesat tersebut.

Sepertinya pergantian kurikulum yang sangat sering ini merupakan tampilan style yang harus dilakukan bagi masing-masing menteri baru dilantik, agar dianggap sebagai jargon pamungkas’ atau program unggulan dari bentuk hasil kerja mereka. Walau secara konsep hanya mengutak-atik dan memutar balikkan kurikulum yang sudah ada ditambah dengan inovasi istilah-istilah yang berbeda, sementara capaiannya tidak jauh berbeda.

Kalau kita bisa memahami lebih mendalam, sebenarnya kurikulum tidak akan berperan banyak kalau tidak didukung oleh seluruh stakeholder yang berada dalam lingkungan siswa/pelajar itu sendiri. Harusnya pembenahan lingkungan siswa/pelajar tersebutlah yang paling berperan untuk perubahan pendidikan mereka ke tingkat yang lebih maksimal, serta dukungan seluruh stakeholder yang seharusnya menjadi perhatian serius untuk dibenahi, bukan gonta-ganti kurikulum secara terus menerus. Semoga karya ini dengan tema ‘Warna-warni Kurikulum di Negeriku’ bisa jadi salah satu wacana pertimbangan agar nantinya menjadi penambah suara kegelisahan terhadap pergantian kurikulum yang terus menerus dilakukan, seperti gonta-ganti kendaraan dinas.


JIMMI KARTOLO

Jual Kacang Kontemporer

JIMMI KARTOLO

Judul Karya: Jual Kacang Kontemporer

DESKRIPSI KARYA

Jual kacang kontemporer hadir dalam bentuk lapak jualan kaki lima. Di letakkan di atas pustek yang akan digambar dengan nama kedai. Kacang  diletakkan di dalam karung goni sebagai tempat satuan maupun yang dibungkus dan sudah diwarnai dengan berbagai warna warni, beberapa kacang dibungkus renteng dan di gantung. Media pendukung lainnya berupa lampu minyak (lampu togok), speaker portable dengan bunyi “jual kacang kontemporer” dan takaran besi literan. Proses jual beli akan diperagakan oleh saya sendiri selama pameran berlangsung.


M. SATIO NEGORO

Senandung  Alam Tropis

M. SATIO NEGORO

Judul Karya: Senandung  Alam Tropis

Deskripsi Karya:

Karya ini terinspirasi dari keindahan alam tropis yang masih alami dan belum tersentuh oleh modernisasi. Lukisan ini menghadirkan suasana pantai yang damai dengan pasir putih, air laut yang jernih bergradasi biru-kehijauan, pohon kelapa yang rindang, serta latar pegunungan hijau yang megah. Gagasan utama dari karya ini adalah untuk menghadirkan rasa ketenangan, kerinduan terhadap alam, serta mengajak penikmat seni untuk sejenak melupakan hiruk-pikuk kehidupan kota dan membayangkan diri berada di tengah-tengah surga alam.


MAYSANDY HARYADY

Duka Perempuan

MAYSANDY HARYADY

Judul Karya: Duka Perempuan

Deskripsi Karya:

Tema dari karya ini mengangkat sebuah isu kekerasan terhadap perempuan yang terjadi beberapa tahun kebelakang ini di daerah penulis sendiri yaitu Sumatera Barat. Dari sederetan kisah Tragis yang dialami perempuan, antara lain mutilasi dan pembunuhan berantai, mutilasi dan memakan daging korban, pembunuhan dan pemerkosaan. Disini penulis tidak banyak membahas tema dari karya tersebut namun lebih ke pendisplayan karya. 

Sesuai dengan konsep pameran dan pengembangan karya, penulis mencoba menampilkan karya ini pada sebuah dinding yang sudah ditempelkan cermin besar dengan ukuran sekitar 120×200 atau sebesar lembaran triplex. Kemudian karya di tempelkan di atas cermin kaca tersebut. Seperti pada sketsa pendisplay dibawah.

Tujuannya agar menjadi interaksi antar pengunjung dengan karya, ketika pengunjung melihat karya tersebut dia bisa melihat dirinya berada didalam karya. Dengan harapan siapa yang melihat karya bisa merasakan duka perempuan yang mengalami kekerasaan. Kemudian bagian depan karya akan digantung beberapa helaian tali goni dan serabut kelapa yang digulung menyerupai tali. Dengan berbagai macam ukuran, ada yang Panjang sampai lantai ada setengah ketinggian saja, menyesuaikan dari ukuran tubuh manusia. Tujuannya merespon sebuah fenomena yang menarik dari film korea yaitu s-line. S-line merupakan garis seks. Menandakan seseorang telah berhubungan seks seberapa banyak dan saling terhubung dengan lawannya jika berada dalam situasi yang berdekatan. Menariknya penulis mencoba menghadirkan itu karena selaras dengan tema karya yang mengangkat tentang kekerasan perempuan. 

Pada konsep yang kedua yang menampilkan tema garis s-line menandakan sebuah kekerasan itu tidak hanya muncul dari pelaku semata. Melainkan rangsangan atau respon sebelumnya dari korban itu sendiri dari kebanyakan kasus. Memunculkan garis s-line pada konsep karya berharap pengunjung bisa merefleksi dirinya sendiri. Sudah benarkah menjalani hidup dalam bergaul, berteman, bertemu, serta berbicara dengan orang yang dikenali. 

Dengan menggunakan cermin besar pada dinding pengunjung bisa melihat dirinya yang diikuti oleh garis tersebut. Entah garis itu benar-benar melekat pada dirinya atau sekedar background pantulan bayangan yang dimunculkan dari kaca ketika pengunjung melihat karya ini.

Banyak sekali yang dibahas dalam karya ini, karena keterbatasan waktu, dan keadaan. Penulis mohon maaf jika belum maksimal dalam penulisan konsep karya.


Rahma Agustina

Nona Muzdalifah

Rahma Agustina dan Nona Muzdalifah

Judul Karya: Anggun Dalam Puspa Bangsa

Deskripsi Karya:

 Lukisan ini menggambarkan sosok perempuan Indonesia yang anggun, membawakan keranjang anyaman berisi tiga puspa nasional: melati putih, anggrek bulan, dan padma raksasa . Ia mengenakan kebaya dan kain batik, simbol warisan budaya yang lembut namun penuh makna.

Latar belakangnya menggambarkan keterhubungan antara alam, identitas perempuan, dan kekayaan budaya Nusantara.

Melalui figur ini, lukisan ingin menegaskan bahwa perempuan Indonesia bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga perwujudan keindahan dan kekuatan budaya bangsa. Karya ini adalah penghormatan terhadap warisan leluhur yang hidup dalam keseharian — dari pakaian, bunga, hingga kerajinan tangan.

Seni terserah pada karya ini akan ditampilkan pada penggabungan seni lukis dengan elemen bunga dari bahan yang umumnya hanya dipakai untuk bahan kerajinan tangan yaitu kawat bulu dengan peletakan komposisi bunga yang sembrawut atau serta liar.

Karya ini memiliki tekstur timbul pada beberapa bagian seperti bagian wajah, tangan, anyaman bakul dan bunga. Karya ini menghadirkan kebudayaan yang kental seperti menghadirkan unsur batik dan kebaya, anyaman bakul yang dianyam langsung di atas kanvas serta rangkaian bunga 3 puspa bangsa handmade.

Lukisan ini meliputi 3 jenis seni yang digabungkan menjadi satu, yaitu seni lukis, anyam dan seni kriya


Misza Oktafiani

Terperangkap dan Rantai Digital

Misza Oktafiani

Judul Karya: Terperangkap dan Rantai Digital

Deskripsi Karya:

Karya ini berjudul “Terperangkap” dan “Rantai Digital”. Karya ini dibuat dengan teknik linoleum cut di atas kertas dengan ukuran 54×70 cm. Karya ini bermakna tentang bagaimana seorang remaja pada zaman sekarang ini terlalu berpikir secara berlebihan bagaimana pendapat orang lain terhadap dirinya. Banyak yang tidak terlalu percaya diri dengan sendirinya dan malah membandingkan diri sendiri dengan seseorang yang ada di media sosial. Penggambaran karya ini menunjukkan bahwa rantai digital mengikat generasi muda dalam siklus kecemasan dan overthinking. Karya ini mengajak agar kita lebih sadar akan pengaruh teknologi dalam kehidupan, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata. Dan juga agar seorang remaja dapat merenungkan pentingnya melepaskan diri dari belenggu tekanan sosial yang tidak sehat dan menemukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa harus terpengaruh oleh ekspektasi yang dibangun di dunia maya.


RISKY WAHYUDI

KACAMATA UNTUK MELIHAT KEGAGALAN

RISKY WAHYUDI

Judul Karya: KACAMATA UNTUK MELIHAT KEGAGALAN

Deskripsi Karya:

Penggunaan Istilah kacamata pada judul karya ini bukan sebatas merujuk pada alat bantu berupa ganggang yang disematkan dengan lensa khusus bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan mata, disamping juga pertimbangan keakraban alat ini dengan dunia optometrist. Diksi “kacamata” dalam judul karya instalasi ini merujuk pada upaya kita sebagai manusia melihat dengan jelas suatu fakta sosial.

Karya ini akan mendudukkan istilah “kegagalan” sebagai bentuk fakta sosial yang kerap hadir di masyarakat. Sayangnya, penggunaan istilah ini kerap dipandang dengan stigma negatif terhadap adidaya manusia. Mulai dari ketidakberdayaan, kelemahan, hingga wujud dari ketidakmampuan. Ujung-ujungnya, tak jarang kegagalan menjadi alasan seseorang untuk menyerah atas suatu perjuangan yang telah diupayakan.

Karya instalasi ini justru menawarkan para audiens untuk melihat kegagalan sebagai hal yang mesra. Kegagalan perlu untuk kita peluk sembari mengkontemplasikan ulang alasan kita memperjuangkan suatu hal. Dengan kata lain, karya ini hendak menawarkan sudut pandang dalam proses berjuang (atau berkarya) jangan terlalu berfokus pada hasil, sebab hasilnya hanya menuju kepada dua hal -kesuksesan dan kegagalan. Ketimbang tertekan oleh hasil akhir, lebih baik kita berfokus pada proses sembari menikmati perjalanannya.

Mengingat perupa di sini memiliki latar belakang dari calon sarjanawan optometri, maka perupa bermaksud untuk menuturkan sepenggal cerita kegagalan tersebut melalui karya instalasi. Karya tulisan tersebut nantinya akan dihadirkan dalam bentuk tipografi  pada suatu corner backdrop (atau two side backdrop). Tipografi tersebut dihadirkan skala font yang tidak akan presisi secara keseluruhan. Dalam artian, tipografi antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya akan dihadirkan dengan ukuran font yang berbeda, tingkat fokus dan bayang yang berbeda, hingga ada yang tampak seolah tulisan yang berantakan. Pembuatan tipografi ini tentu memiliki alasannya tersendiri, lebih tepatnya untuk menghadirkan suasana yang akrab di dalam dunia optometrist -yakni dimensi perasaan gangguan penglihatan mata seorang pasien yang mengalami kelainan refraksi.

Tidak hanya berupa tipografi saja, perupa juga akan menghadirkan “poster” yang tadinya dapat menunjukkan bentuk konkret dari perjuangan yang pernah dilakukan untuk memperkuat kisah. Tidak menutup kemungkinan, akan ditambah pula beberapa selipan foto (2-3) yang sempat merekam dalam proses pembuatan poster tersebut

Rencana Nya, tipografi tersebut akan dipajang pada corner backdrop yang tiap-tiap sisinya memiliki panjang 2 meter (ke atas) dan lebar 1 meter (ke samping). Jika direntangkan cara mendatar -kalau tidak membentuk sudut siku- maka total area untuk mendsiplay ini sekitar 2 meter ke atas dan 2 meter ke samping. Di sekitaran backdrop tersebut rencananya akan disediakan satu meja khusus untuk mendisplay peralatan kerja seorang optometrist. Di sisi sebelah  backdrop juga akan dilakukan pemajangan pakaian seragam kampus yang kerap digunakan oleh seorang mahasiswa optometri ketika sedang belajar di kampus. Tampaknya, saya akan membutuhkan area dengan lebar ke samping 1,5 meter dan panjang ke atas sekitar 1,5 meter untuk memajang pakaian kuliah tersebut.


SATELIT ART CLUB

Aman (Tidak Aman)

SATELIT ART CLUB

Judul Karya: Aman (Tidak Aman)

Deskripsi Karya:

Karya ini terpantik dari kejadian-kejadian pelecehan seksual terhadap anak yang marak terjadi, khususnya di Sumatera Barat. Dimana menceritakan tentang rumah yang secara umum diasosiasikan sebagai ruang aman, nyaman, memiliki ikatan emosional dan kenangan akan keluarga untuk seorang anak. Namun fenomena sosial pada hari ini memperlihatkan kalau rumah sering dijadikan tempat untuk melakukan tindak kejahatan terhadap anak. Baik itu kekerasan maupun pelecehan yang dilakukan oleh keluarga terdekat dan dipercaya oleh anak. 

YUNG FINANDO

Fiksi 1&2

YUNG FINANDO

Judul Karya: Fiksi 1&2

Deskripsi Karya:

Dalam bisu yang samar, “Fiksi” lahir dari kegelisahan jiwa yang menari di antara batas mimpi dan kenyataan. Sosok yang dibalut lekuk-lekuk seperti aliran kain seolah hanyut dalam dunia yang tak pasti melambangkan tubuh yang terus mencari bentuk, jati diri yang belum usai. Garis-garis tipis yang mengambang di sekeliling tubuh itu hadir seperti bayangan fiksi lain refleksi yang tidak pernah benar-benar menyatu, namun selalu mengikuti. Mereka adalah karakter-karakter dari narasi dalam batin, tokoh-tokoh dalam drama pribadi yang terus diputar ulang di kepala. Latar penuh pusaran dan percikan warna menjadi semesta dari pikiran yang liar tempat di mana segala rasa berkecamuk, membentuk dunia yang hanya bisa dilihat dari dalam.

“Fiksi” bukan sekadar kebohongan manis atau pelarian. Ia adalah kenyataan yang dikemas dalam kisah kisah yang kita peluk saat dunia terasa terlalu nyata. Sebab kadang, hanya dalam fiksi kita bisa jujur. Dan hanya dalam fiksi, kita bisa benar-benar ada.


AHMAD SOLIHIN

Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk

AHMAD SOLIHIN

Judul Karya: Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk

Deskripsi Karya:

Karya ini terinspirasi dari sosok Tan Malaka, seorang tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus penggagas Republik yang berasal dari tanah Minangkabau. Tan Malaka dikenal sebagai figur yang kompleks, penuh kontroversi, dengan pemikiran-pemikiran yang melampaui zamannya.

Dalam karya ini, perupa menjadikan Tan Malaka sebagai objek utama melalui pendekatan seni grafis dengan teknik cetak saring (silkscreen printing). Pemilihan teknik ini memungkinkan penciptaan visual yang tegas, repetitif, dan memiliki karakter khas yang sesuai dengan Tan Malaka.


MIJA INDRA PUTRA

Rangmudo Nan Malaua

MIJA INDRA PUTRA

Judul Karya: Rangmudo Nan Malaua

Deskripsi Karya:

Karya ini merepresentasikan kepala kerbau sebagai simbol penting
dalam budaya Minangkabau. Dalam konteks sejarah dan filosofi Minang, kepala kerbau
mengingatkan kita pada legenda Tambo Minangkabau di mana kemenangan cerdik
seekor anak kerbau dalam adu kerbau melawan kerajaan Majapahit menjadi cikal bakal
penamaan Minangkabau, dari kata manang kabau
Bentuk kepala kerbau dalam karya ini divisualisasikan dengan perpaduan estetika
tradisional dan modern. Tekstur tanah retak di latar belakang dapat dimaknai sebagai
representasi dari zaman yang berubah, tanah yang mungkin mulai dilupakan oleh
generasi mudanya. Namun kepala kerbau, dengan tanduk kuat menjulang, tetap berdiri
tegas, seolah mengingatkan bahwa identitas budaya tetap harus dijaga di tengah arus
modernisasi.

Karya ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana simbol-simbol budaya tidak hanya
berfungsi sebagai ornamen sejarah, tetapi juga sebagai panggilan untuk kembali
mengenali dan memahami akar jati diri. Terutama bagi generasi muda Minangkabau
yang perlahan menjauh dari nilai-nilai tradisionalnya.