Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025 akan digelar pada 24 – 30 Agustus 2025. Sebagai agenda yang melibatkan banyak seniman dengan berbagai macam kreativitasnya, salah satu fakta yang menarik perhatian pada agenda PNT sebelumnya adalah kehadiran karya dari pameris PNT 2021 yang menumbuhkan antusias tinggi dari penonton untuk datang ke festival. Karya-karya perupa itu tersebar di banyak tempat di ruang-ruang Taman Budaya Sumatera Barat di tengah mangkraknya pembangunan. Dan para seniman yang terlibat pada agenda itu mencoba merespon ruang-ruang terbengkalai tersebut dengan tema “Lain Sakit Lain Diobat” yang didasari pada fenomena pasca Covid 19.
Hingga 4 (empat) hari pasca festival, penonton masih berdatangan untuk mengunjungi pameran. Hal ini terjadi akibat pengaruh media sosial yang juga turut berperan dalam menambah pengunjungan pameran. Pasalnya bentuk-bentuk keindahan artistik dari masing-masing karya yang bermunculan di Instagram membuat banyak anak-anak muda yang ingin berkunjung untuk melihat pameran yang sedang berlangsung.
Tahun ini, Pekan Nan Tumpah akan hadir lagi dengan tema “Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah” dan sub temanya adalah “Kalau Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham”. Tema ini muncul dalam merespon bentuk-bentuk perkembangan seni hari ini yang semakin sulit untuk diklasifikasikan dalam kategori tertentu. Tema ini juga muncul karena siapapun yang melihat praktik seni hari ini tahu: disiplin itu sudah berantakan. Sebagai tema yang cukup unik dan baru, para perupa akan banyak berinovasi untuk menciptakan hal-hal baru.
Nessya Fitryona, kurator Pekan Nan Tumpah 2025 menyampaikan bahwa tahun ini, dengan tema Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah, peserta didorong untuk memperluas cara pandang dalam menciptakan karya yang baru dan lebih segar. Karya-karya yang hadir nantinya selain dilihat dan dimaknai, juga akan melibatkan pengunjung untuk melakukan interaksi.
Direktur festival, Mahatma Muhammad, menyampaikan soal gagasan PNT 2025 bahwa dalam dunia yang serba tercerai-berai, kami tak percaya pada satu definisi seni yang tunggal. Seni telah sampai di titik di mana batas-batasnya tak lagi jelas, keasliannya terus diragukan, eksistensinya tidak lagi sakral, tapi justru banal atau sengaja dibanalkan. Maka kami tumpah-silangkan saja semuanya: gagasan, bentuk, narasi, cara kerja. Semua boleh menyeberang, menyimpang, dan bertabrakan. Ini bisa jadi semacam pengingat bahwa seni tidak saja perkara satu-dua bentuk mapan, tapi juga keberanian untuk merobek label, mencampur hal-hal yang dulu dianggap tak pantas bertemu.
Selanjutnya, Mahatma menambahkan, “Seni murni” kami sebut bukan karena kami percaya pada kemurnian. Tapi karena kami tahu: beberapa karya memang butuh ruang sunyi. Kadang, butuh jeda dan hening agar makna itu muncul ke permukaan. “Seni terapan” kami akomodir bukan karena tunduk pada fungsi, tapi karena fungsi tak pernah benar-benar menghapus makna. Estetika bisa muncul dalam desain kaos dan spanduk, dalam bentuk kemasan rendang, teaser, panggung modular, atau bahkan dalam sistem antrian festival. Dan “seni terserah” adalah tempat di mana yang tidak pas justru menemukan ritmenya sendiri, yang tak lulus akademi tapi paham betul bagaimana tubuh bicara. Seni Terserah adalah tempat bagi yang tidak bisa (atau tidak ingin) didefinisikan. Di sinilah eksperimen, humor, cime’eh, absurditas, atau kekacauan yang disengaja mengambil tempat. Di sini, “tidak jelas” bukan cela, tapi mungkin saja metode. Maka jika kamu datang ke festival ini dan merasa langsung paham, mungkin kamu salah paham. Mungkin kamu perlu duduk lebih lama atau hadir kembali pada hari berikutnya. Karena di sini, kejelasan bukan tujuan. Bahkan, ia mungkin jebakan. []

Leave a Reply