Peserta Pertunjukan Eksibisi Pekan Nan Tumpah 2025


SMA Negeri 9 Padang

Tari Piriang Hoyak Badarai

SMA Negeri 9 Padang – Kelompok Tari Junjuang Dulang

Judul Pertunjukan: Tari Piriang Hoyak Badarai

Koreografer: Randi Rivandika, S. Pd.

Tari Piriang Hoyak Badarai menggambarkan kedinamisan generasi muda dalam mengisi pembangunan. Piring menadah menggambarkan semangat orang Minang yang berkobar-kobar. Pecahan kaca merupakan prinsip dari musuah pantang dicari, kok basobok pantang dielakan. Tari ini terinspirasi dari kegiatan petani di sawah saat masa panen tiba. Hal ini dikarenakan saat masa panen tiba, banyak kegiatan yang dilakukan, salah satunya adalah manatiang piriang. Di dalam piring tersebut terdapat banyak makanan yang biasanya ditatiang oleh urang sumando. Oleh karena itu, piring dijadikan properti saat menari Tari Hoyak Badarai.


SMK Negeri 4 Sijunjung

Gemulai Harmoni Nusantara

SMK Negeri 4 Sijunjung – Sanggar Cahayo Palito Skempasi

Judul Pertunjukan: Gemulai Harmoni Nusantara

Koreografer: CItra Islamiah

Pimpinan Produksi / Produser: Kepala Sekolah (Addurorul Muntatsiroh, M.Pd)

Sutradara / Koreografer Utama: Pembina Ekstrakurikuler tari (Citra Islamiah, S.Si, Silvia Sriningsih, S.Pd., Lisa Mardiana, S. Pd)

Penata Musik / Komposer: Robi Ul Awal, Ari Afandi, dkk.

Penata Busana & Tata Rias: Pembina Ekstrakurikuler Tari (Citra Islamiah, S.Si, Silvia Sriningsih, S.Pd., Lisa Mardiana, S. Pd.)

Penata Panggung (Set Designer): Eka Permatasari, S.Pd dan DKK.

Manajer Panggung (Stage Manager): Pembina Ekstrakurikuler tari ( Citra Islamiah, S.Si, Silvia Sriningsih, S.Pd ; Lisa Mardiana, S. Pd )

Asisten Koreografer: Pembina Ekstrakurikuler Tari (Citra Islamiah, S.Si, Silvia Sriningsih, S.Pd., Lisa Mardiana, S. Pd.)

Tim Penari: Semua siswa yang tampil.

Tim Kostum & Tata Rias (Wardrobe & Make-up Crew): (Citra Islamiah, S.Si; Silvia Sriningsih, S.Pd.; Lisa Mardiana, S. Pd.,dkk.


“Gemulai Harmoni Nusantara” adalah sebuah karya tari kontemporer yang menjadi jembatan artistik yang menghubungkan kekayaan tak ternilai dari empat pilar budaya Indonesia: Minang, Sunda, Jawa, dan Batak. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah narasi visual yang menghidupkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana setiap identitas budaya yang unik berpadu dalam sebuah simfoni gerak yang anggun, dinamis, dan
penuh makna.

Pertunjukan dibuka dengan keanggunan dan filosofi Tari Pasambahan dari Minang. Dengan gerakan tangan yang luwes dan langkah kaki yang teratur, tarian ini menyambut penonton dengan penghormatan, menggambarkan keramahan dan adat istiadat Minangkabau yang kaya. Alunan musik tradisional Minang yang khas akan mengiringi setiap gestur, menciptakan suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan.

Kemudian, panggung beralih ke energi dan keceriaan Tari Jaipong dari Sunda. Gerakan yang lincah, ekspresif, dan penuh semangat akan memukau penonton. Jaipong merepresentasikan kegembiraan, spontanitas, dan keindahan alam Pasundan, diiringi tabuhan kendang dan melodi gamelan Sunda yang rancak, mengajak penonton untuk ikut merasakan euforia tarian.

Selanjutnya, “Gemulai Harmoni Nusantara” membawa penonton pada pengalaman yang lebih mistis dan heroik melalui Tari Jaranan Kuda Lumping dari Jawa. Bagian ini akan menampilkan kekuatan, keberanian, dan unsur spiritual yang kental. Gerakan-gerakan yang dinamis dan terkadang trance-like, diiringi tabuhan reog dan gamelan yang menghentak, akan menciptakan atmosfer yang mendebarkan, menggambarkan perjuangan dan keberanian prajurit


SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping

Bulek Kato Anak Nagari

SMA Negeri 1 Lubuk Sikaping

Judul Pertunjukan: Bulek Kato Anak Nagari

Koreografer: Fattahul Anugraha, S.Sn, M. Sn.

Komposer: Riko Gusmanto, S.Sn, M.Sn.

Guru Pendamping Ekskul: Dia Yunifa, S.Pd, Gr.


Tari ini merupakan gambaran kesepakatan dan musyawarah dari anak muda-mudi di Minangkabau. Dalam musyawarah anak nagari harus mencari Kato Nan Bulek atau kesepakatan yang saling menguntungkan. Karya ini juga menggambarkan semangat dan keceriaan anak nagari dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat di dalam suatu
nagari. Karya ini memakai properti payung dan rok kembang yang disimbolkan sebagai sebuah kesepakatan serta pelindung dalam suatu masyawarah.


SMA Negeri 2 Gunung Talang

Judul Pertunjukan: Retak Logos di Negeri Huruf + Gugur

Sutradara: Syaura Viola Lorisma dan Boris Beni

Pembaca Puisi: Najia Syakira


Anak-anak Indonesia dilahirkan dengan harapan: menjadi manusia yang utuh melalui pendidikan. Sejak dini mereka diarahkan, dijejali pelajaran, disiapkan untuk masa depan yang katanya cerah. Tapi semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin kabur makna dari kata belajar.

Mereka tumbuh dalam sistem yang tak pernah konsisten, digiring dalam labirin kurikulum yang silih berganti tanpa arah dan tanpa pemahaman yang utuh tentang kebutuhan nyata peserta didik. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru menjadi tempat penindasan yang halus. Kebijakan lahir dari meja-meja birokrat, bukan dari ruang kelas. Guru dipaksa patuh pada sistem yang asing, siswa menjadi objek eksperimen dari kebijakan yang berubah tiap pergantian menteri.

Hasilnya adalah generasi yang kacau: tidak tahu apa yang harus mereka ketahui, tidak paham mengapa mereka belajar, dan kehilangan daya untuk bertanya. Kebodohan bukan lahir dari malas belajar, tapi dari sistem yang membungkam nalar. Literasi menjadi ritual kosong—dibaca, tapi tak dipahami. Angka-angka IQ dan nilai ujian menjadi simbol palsu dari kecerdasan yang tidak pernah dibina secara mendalam.

Indonesia mengalami krisis pendidikan bukan karena kurang sumber daya, tapi karena tidak tahu arah—tidak mengerti bahwa membangun manusia bukan sekadar mengganti kurikulum. Performance ini adalah jeritan yang tak terdengar dari jutaan anak yang menjadi korban sistem. Mereka yang terus melangkah dalam pendidikan yang tidak mendidik. Mereka tidak bodoh—mereka dibodohkan.


SMA Negeri 2 Sijunjung

Judul Pertunjukan: Indang Rantak Sarompak

Koreografer: Isrina, S. Sn.

Komposer : Rafi Mahaldi S.Sn.

Penari: Rizqia Azzhara, Suci Oktaviani, Jenifer Mutahara Juwi, Syauqiyati Mardhiyah, Ramadhani Mutya Deby, Tiara Ilhami


Tari Indang Rantak Sarompak terinspirasi dari aktivitas gadih Minang yang berada di lingkungan rumah gadang. Pada sore hari, mereka berkumpul, bermain, dan bersenda gurau di kawasan rumah gadang sambil melantunkan syair-syair Islam menggunakan alat indang. Karya tari ini dikemas secara kreatif dan inovatif, namun tetap menekankan nilai-nilai budaya Minangkabau melalui pengolahan gerak (wiraga), irama (wirama), dan rasa (wirasa) secara harmonis dan menyatu.


SMK Penerbangan Nusantara

Parade Marching Band

SMK Penerbangan Nusantara – Gita Nada Nusantara

Judul Pertunjukan: Parade Marching Band

Pimpinan Produksi / Produser: Kepala Sekolah (Makmur, T, M.Pd)

Instruktur: Ridha Nur Syafitri, S.Pd

Pembina Ekstrakurikuler: Ari Ahmad Yani, SE

Penata Musik: Ari Ahmad Yani, SE, Taufik Hidayat, S.Pd. Gr

Penata Busana: Ridha Nur Syafitri, S.Pd, Rahma Fitri, S.Pd

Tim: Gita Nada Nusantara (Angkatan 17)


Parade marching band akan menampilkan tiga nomor lagu bernuansa religi, mars MTQ dan shalawat nabi, dan sebuah lagu lainnya. Marching Band Gita Nada Nusantara terdiri dari sekitar 39 orang anggota yang dipilih dari tingkat I (sekarang sudah jadi tingkat II), di mana mereka sering latihan di sekolah.

Parade marching band dengan nuansa religi ini dimaksudkan agar pengunjung yang menyaksikan dapat mendapatkan suasana lain dari pertunjukan marching band yang ada selama ini. Oleh karena itu, diharapkan terjadinya pengembangan dari garapan yang pernah ada.


SMA Negeri 2 Batang Anai

Judul Pertunjukan: Manimbo Aia

Koreografer: Aziza Safitri dan Marniyeti

Penata Musik: Mardi

Penari: Chelsy Amelia Putri, Jelita Putri Mulia, Kayla Oktryan, Mila Ersya Azura, Nadini Mustika Ayu, Viona Devita Putri, Raisya Desriana Putri


Tarian ini terinspirasi dari aktivitas masyarakat dalam mengambil air dari sumber mata air, sumur, atau sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Tari ini menggambarkan sekelompok perempuan yang membawa wadah (seperti tempayan atau kendi) untuk mengambil air. Dalam perjalanan, mereka saling berinteraksi, bercengkerama, dan menunjukkan kekompakan serta nilai kebersamaan yang kuat dalam budaya Minangkabau. Gerakan dalam tari ini lembut dan ritmis, mencerminkan kesabaran, kerja sama, serta keharmonisan dalam menjalankan tugas domestik.

Tari Manimbo Aia tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menjadi simbol dari pentingnya air dalam kehidupan dan peran perempuan dalam menjaga keseimbangan keluarga dan lingkungan.


KOMUNITAS SINURUK MATTAOI

MANUSIA YANG MENJADI POHON SAGU

KOMUNITAS SINURUK MATTAOI

MANUSIA YANG MENJADI POHON SAGU

Keluarga Aman Saileu hidup sederhana bersama putra mereka, Saileu, yang suatub malam bermimpi leluhurnya memintanya makan sagu sebagai makanan pokok keluarganya dan suku Mentawai. Ketika tak mendapatkannya, Saileu dimarahi ayahnya dan dilempar ke rawa, lalu menghilang. Keesokan hari, di tempat itu tumbuh pohon sagu, dan dari sana terdengar suara Saileu yang berkata ia telah menjadi pohon demi memenuhi janji pada leluhur. Sebelum berpisah, ia berpesan agar keluarganya melakukan ritual Panunggru dan Turuk Uliat Manyang, yang kemudian mereka laksanakan untuk menjadi manusia yang lebih bijak.


KATUMBAK ANAK ABAK

Katumbak

KATUMBAK ANAK ABAK

Katumbak

Katumbak adalah ansambel musik khas Pariaman yang namanya berasal dari peniruan bunyi gendang “tum bak”, sehingga disebut katumbak atau bakatumbak. Musik ini terbentuk dari perpaduan musik India, Gamad (Melayu-Minang), Pop-Minang, dan musik tradisi Minang, yyang melahirkan karakter riang dan bebrtempo cepat, khususnya pada pilihan lagu dan aransemen. Ansambel katumbak dimainkan dengan beberapa instrumen, masing-masing memiliki peran tersendiri, yaitu rabunian atau harmonium, gandang katumbak, gandang mambo, dan giring-giring tamborin. Dalam Pekan Nan Tumpah 2025, Katumbak Anak Abak akan membawakan delapan lagu: Sekadar Nasehat, Salapiak Baduo, Beban Asmara, Sate Piaman, Dendang Piaman, Tapacik di Nan Sansai, Ciinan, dan Anak Tiuang.


Sanggar Tari Kasang Saiyo

Tari Buai-Buai

Sanggar Tari Kasang Saiyo

Judul Pertunjukan: Tari Buai-Buai

Tari Buai-Buai Nagari Kasang adalah tari tradisi yang menggambarkan aktivitas sehari-hari seorang ibu di Nagari Kasang, mulai daari perannya dalam keluarga hingga kehidupan sosial, khususnya dalam kegiatan bertani. Pertunjukan diawali dengan adegan membuai anak disertai gerakan memberi nasihat sebagai wujud kasih sayang , lalu berlanjut ke aktivitas sawah seperti melangkah, mencangkul, menanam padi, menyiang, dan manggaro, yang ditarikan dinamis mengikuti alunan saluang dan tepuk musik pengiring. Puncak pertunjukan adalah adegan memanen padi, melambangkan hasil kerja keras, kebersamaan, dan ras syukur. Tari ini lahir dari gerak-gerak keseharian yang dekat dengan kehidupan masyarakat Nagari Kasang.


Keluarga Besar Mendrofa Padang (KBMP)

Tari Kreasi Nias

Keluarga Besar Mendrofa Padang (KBMP)

Judul Pertunjukan: Tari Kreasi Nias

Tari Moyo atau Tari Elang merupakan tari tradisional asal Nias yang menggambarkan burung elang mengepakkan sayapnya tanpa lelah, sebagai penghormatan kepada pemuda yang berjasa melindungi desa dari serangan musuh pada masa sering terjadinya peperangan. Tari Baluse atau Tari Perang melambangkan kekuatan dan keberanian dalam mempertahankan diri serta komunitas. Sementara itu, Tari Maena mencerminkan kebersamaan, kegembiraan, dan kemeriahan masyarakat Nias, biasanya ditampilkan pada acara adat, penyembutan tamu, atau pesta pernikahan, dengan gerakan sederhana yang mudah diikuti oleh siapa saja. Keberagaman tari ini menunjukkan kekayaan budaya Nias yang sarat makna sosial dan spiritual. Hingga kini , tarian-tarian tersebut tetap dilestarikan sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Nias.


Komunitas Seni Punago

Judul Pertunjukan: Fatamorgana

Sutradara: Nanda Andika Saputra

Seorang ibu di Minangkabau membesarkan anaknya seorang diri tanpa kehadira laki-laki baik sebagai suami maupun sebagai mamak, sehingga anaknya tak pernah merasakan peran penting ayah di rumah maupun mamak di tanah pusako. anak itu tumbuh dengan perilaku tak teratur hingga suatu hari melawan kepada ibunya dengan berkata “Jan den diatur-atur,” sambil menghempaskan gelas ke lantai. Sang ibu hanya mengurut dada, menahan sedih. Akankah anak itu kembali dengan penyesalan dan menyadari kesalahannya, meski tak pernah mendapatkan bimbingan ayah dan mamak, atau kisah ini hanya menjadi bayang-bayang dari pepatah “anak dipangku kemenakan dibimbing, urang kampuang dipatenggangkan” yang kian pudur maknanya?


Tim Barongsai HTT Padang

SINGA JANTAN GAGAH PERKASA MENCARI MAKAN DI ATAS SEBUAH BUKIT

Tim Barongsai HTT Padang

Judul Pertunjukan: SINGA JANTAN GAGAH PERKASA MENCARI MAKAN DIATAS SEBUAH BUKIT

Seekor singa jantan yang hidup di hutan suatu hari bermain di atas batu besar, lalu turun mendekati pohon dan menggesekkan tubuhnya pada batang pohon tersebut. Saat berjalan, ia menemukan aliran air, sempat terkejut melihat bayangan dirinya di permukaan, lalu minum minum dan membasahi tubuhnya dengan waspada. Tiba-tiba terdengar suara pohon roboh , dan dari balik kayu muncul lipan besar yang menyerangnya; pertarungan sengit pun terjadi hingga singa berhasil mengalahkannya. Setelah beristirahat, angin kencang dari perbukitan membuatnya penasaran, sehingga ia mendaki bukit curam meski sempat takut. Sesampainya di puncak, ia mencium aroma makanan, mendekat dengan hati-hati, lalu memakannya perlahan untuk memulihkan tenaga sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.


Komunitas Tonel Bahasa Tangsi Sikalang

Murat-Marit Asik

Komunitas Tonel Bahasa Tangsi Sikalang

Murat-Marit Asik

Murat-Marit Asik adalah sebuah drama yang menggunakan Bahasa Tangsi, yaitu bahasa percampuran dari berbagai bahasa yang ada di Sawahlunto, seperti Minang, Jawa, Batak, dan lainnya. Bahasa ini lahir karena orang tua kami dahulu merupakan pekerja tambang batu bara Ombilin, sehingga percampuran bahasa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari; meski terdengar aneh, bahasa ini tetap dapat dimengerti. Judul drama ini sendiri memiliki makna: “murat-marit” berarti berserakan, namun mencerminkan persatuan masyarakat Sikalang, sedangkan “asik” berarti “anak Sikalang”. Drama ini mengisahkan dua keluarga dengan latar belakangberbeda: satu keluarga miskin di kampung, di mana seorang ibu janda harus membesarkan dua anak gadisnya, dan satu keluarga harmonis yang tinggal di Kota Padang dengan kehidupan berkecukupan. Karena keterbatasan ekonomi, salah satu anak dari keluarga miskin ditumpangkan dan disekolahkan oleh keluarga kaya yang masih memiliki hubungan saudara, hingga akhirnya ia berhasil lulus sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang layak.


Aliansi Sanggar Seni Sintoga

Tarian Altraktif

Aliansi Sanggar Seni Sintoga

Tarian Altraktif

Aliansi Sanggar Seni Sintoga merupakan komunitas yang bergerak dalam pengembangan seni, khususnya seni pertunjukan dan seni tradisi. Komunitas ini terdiri dari sepuluh sanggar yang terlibat secara
konsisten dalam meningkatkan mutu seni pertunjukan maupun seni tradisi. Aliansi ini berdiri pada tanggal 24 Mei 2024 dan hingga kini tetap eksis, aktif berkarya, serta mengedepankan semangat kolaborasi dalam setiap kegiatan.


KOMUNITAS KIRAIKU NAN JOMBANG

BUDAYA TANAH MERDEKA

KOMUNITAS KIRAIKU NAN JOMBANG

BUDAYA TANAH MERDEKA

Tari Budaya Tanah Merdeka merupakan tarian yang mencerminkan semangat kemerdekaan sekaligus kekayaan kebudayaan. Gerakannya yang cepat, lincah, serta memiliki sinkronisasi yang baik menjadi simbol semangat perjuangan, terutama dalam konteks pengembangan budaya.
Selain itu, tarian ini menonjolkan kreativitas dan inovasi dalam mengemas tradisi serta budaya lokal. Dengan cara tersebut, Tari Budaya Tanah Merdeka tidak hanya menjadi representasi nilai historis, tetapi juga sarana memperkenalkan kebudayaan secara lebih segar dan relevan.


Kelana Akhir Pekan

KELANA KE PEKAN NAN TUMPAH

Kelana Akhir Pekan

KELANA KE PEKAN NAN TUMPAH

Pertunjukan anak-anak Kelana dalam Gelar Karya Kelana Akhir Pekan #1 adalah presentasi akhir semester pertama sejak Februari 2025, menampilkan karya musik, tari, dan teater. Dari kelas musik hadir Talempong Pacik Kelana arahan Tenku Raja dengan komposisi talempong pacik bernuansa ritmis repetitif. Kelas tari pertama menampilkan Kelana yang menggambarkan kegembiraan dan kebersamaan anak-anak bersama mentor Desvy Sagita, sementara kelas tari
kedua menghadirkan Penyesalan, kisah seorang ibu dan anak yang dibimbing Bundo Deslenda. Kelas teater menutup dengan Sekolah Kelana, cerita tentang remaja yang menemukan arah hidup melalui sekolah yang berbeda, dibimbing oleh Ivan Harley dan Fajry Chaniago. Seluruh karya ini dimainkan oleh anak-anak Kelana sebagai wujud proses belajar, kebersamaan, dan kreativitas mereka sepanjang semester.