Pekan Nan Tumpah 2025: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah
“Kalau kamu paham semua ini, mungkin kamu salah paham”
Mari jujur sebentar: apa yang lebih sulit dari merancang festival seni? Menjelaskannya dengan jujur. Itu yang coba kami lakukan di Komunitas Seni Nan Tumpah saat kembali menggelar Pekan Nan Tumpah 2025 ini. Kami tahu sejak awal bahwa gelaran ini bukan ruang pameran atau pertunjukan yang rapi. Bukan ruang tempel atau etalase karya saja, bukan tempat menyusun nama-nama besar atau kecil dalam seni, dan jelas bukan perayaan keteraturan.
Festival yang sudah kami gelar sejak 2011 ini lahir tidak dari niat ingin mendidik publik, mengubah wacana seni nasional, atau mengemas lokalitas sebagai komoditas pariwisata. Festival ini hadir dari sesuatu yang lebih sederhana, tapi lebih langka: keinginan untuk bertemu. Dan dari pertemuan itulah lahir ruang-ruang lain untuk cipta, galeri, dan panggung yang selalu terbuka bagi gagasan yang belum matang, bentuk yang belum sah, dan ekspresi yang kadang tak tahu atau tak yakin dirinya sedang jadi seni. Sebagaimana semua hal yang tumpah, festival ini tidak pernah bisa dirapikan sepenuhnya.
Tema tahun ini: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah. Ini bukan trilogi. Ini bukan konsep besar atau tesis. Ini batuk panjang dan suara serak dari mulut seni yang bosan diklasifikasi. Tema ini muncul karena siapapun yang melihat praktik seni hari ini tahu: disiplin itu sudah berantakan.
Ada yang menari dengan (membawa) kamera, melukis dengan seluruh anggota tubuh, membacakan arsip seperti pembacaan puisi, dan ada yang menyulap koran bekas serta surat hutang jadi performans. Mereka menjadikan pos ronda, gang-gang perumahan, sawah atau lapau kopi sebagai galeri dan panggung terbuka sekaligus arena untuk membuat konten. Bahkan pada satu karya pertunjukan atau pameran seni, bisa muncul puisi, gamad, video mapping, games, kotbah absurd, turuk laggai, hingga iklan dagang sala lauak sekaligus.
Begitulah. Dalam dunia yang serba tercerai-berai, kami tak percaya pada satu definisi seni yang tunggal. Seni telah sampai di titik di mana batas-batasnya tak lagi jelas, keasliannya terus diragukan, eksistensinya tidak lagi sakral, tapi justru banal atau sengaja dibanalkan. Maka kami tumpah-silangkan saja semuanya: gagasan, bentuk, narasi, cara kerja. Semua boleh menyeberang, menyimpang, dan bertabrakan. Ini bisa jadi semacam pengingat bahwa seni tidak saja perkara satu-dua bentuk mapan, tapi juga keberanian untuk merobek label, mencampur hal-hal yang dulu dianggap tak pantas bertemu.
Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah adalah tiga jalan yang berpotongan di tengah simpang bingung seni kontemporer. Kami tidak sedang bermaksud menyederhanakan. Justru sebaliknya, kami ingin mengajak pengunjung menyelami kompleksitas seni hari ini, yang tak bisa lagi dibingkai dengan dikotomi lama. Kami tidak sedang bekerja untuk memberi arah, tapi membuka banyak celah. Kami justru mengundang orang lain tersesat bersama, karena mungkin di sanalah seni hari ini paling hidup.
“Seni murni” kami sebut bukan karena kami percaya pada kemurnian. Tapi karena kami tahu: beberapa karya memang butuh ruang sunyi. Kadang, butuh jeda dan hening agar makna itu muncul ke permukaan. “Seni terapan” kami akomodir bukan karena tunduk pada fungsi, tapi karena fungsi tak pernah benar-benar menghapus makna.
Estetika bisa muncul dalam desain kaos dan spanduk, dalam bentuk kemasan rendang, teaser, panggung modular, atau bahkan dalam sistem antrian festival. Dan “seni terserah” adalah tempat di mana yang tidak pas justru menemukan ritmenya sendiri, yang tak lulus akademi tapi paham betul bagaimana tubuh bicara. Seni Terserah adalah tempat bagi yang tidak bisa (atau tidak ingin) didefinisikan. Di sinilah eksperimen, humor, cime’eh, absurditas, atau kekacauan yang disengaja mengambil tempat. Di sini, “tidak jelas” bukan cela, tapi mungkin saja metode.
Maka jika kamu datang ke festival ini dan merasa langsung paham, mungkin kamu salah paham. Mungkin kamu perlu duduk lebih lama atau hadir kembali pada hari berikutnya. Karena di sini, kejelasan bukan tujuan. Bahkan, ia mungkin jebakan.
Ruang yang Tidak Pernah Selesai
Pekan Nan Tumpah kami sebut sebagai ruang temu. Kadang temu itu tak disengaja. Kadang tak diinginkan. Tapi justru karena itulah ia bertahan hidup. Di sini, diskusi bisa jadi rebutan mic, pertunjukan bisa berubah jadi pertengkaran atau jadi kritikan sosial yang disampaikan melalui sindiran, dan karya bisa memilih menatap balik penontonnya. Festival ini tidak menjanjikan tatanan yang mapan. Tapi ia percaya pada proses, beragam perspektif, dan cara kerja yang campur aduk sebagai metode.
Campur aduk bukan berarti serampangan. Justru di sinilah kedewasaan artistik, kerja kolaborasi dan kecerdasan emosional diuji. Komposisi hanya mungkin jika tiap elemen tahu dirinya, tahu batasnya, dan tahu kapan harus diam. Serupa pertunjukan randai yang tidak menolak intervensi audio pedagang Es Walls, kacang rebus atau kepulan asap Sate Ajo Amaik yang berjualan di sekitarnya.
Seperti pertunjukan yang memberi ruang bagi baliho anggota DPRD sebagai backdrop, karena begitulah realitas kita. Sebab itu, kurasi pada festival ini kami namakan sebagai seni menyulam kekacauan. Kurasi bukan pagar, tapi adalah jaring. Yang menangkap bukan yang paling canggih, tapi yang paling mampu menyentuh yang lain.
Itulah kenapa dalam perkembangannya, Pekan Nan Tumpah tidak memilih jalur tunggal. Ia kemudian tidak ingin menjadi festival teater atau seni pertunjukan, festival seni rupa murni, festival desain, musik, seni media, atau festival sastra. Dari penyelenggaraan kelima di tahun 2019, ia memilih menjadi semua itu, atau tidak satu pun dari itu. Tapi justru dalam kekacauan itulah muncul logika baru. Seperti pepatah Minangkabau bilang, alam takambang jadi guru. Tapi guru macam apa kalau ruang belajarnya tak mau kotor? Kami ingin ruang itu penuh: dengan aksen, nada, kelakar, dan percakapan yang belum tentu masuk akal, tapi terasa penting. Karya yang baik tak selalu harus menjelaskan dirinya. Kadang ia cukup membuat orang berhenti sejenak, menoleh, lalu bilang: “Saya nggak tahu ini apa, tapi saya betah.”
Bahasa Lokal Sebagai Taktik, Bukan Dekorasi
Kami bicara tentang seni kontemporer bukan karena gaya, tapi karena keterdesakan waktu. Kami bicara tentang intermedia bukan karena tren, tapi karena sebelum dunia punya istilah itu, kami sudah melakukannya di halaman rumah. Intermedia karena memang tidak ada satu medium pun yang cukup sendirian. Kami bicara vernakular bukan karena nostalgia, tapi karena realitas.
Bahasa lokal dengan logika, humor, dan irama hidupnya menurut kami adalah jalur alternatif dari estetika global yang mulai kehilangan daya kejut. Kami mengupayakan inklusivitas bukan demi citra, tapi karena kami tahu: kalau seni tidak membuka diri, ia akan punah oleh gengsinya sendiri. Maka kami buka pintu lebar-lebar. Siapa pun boleh masuk. Yang tidak diundang pun bisa jadi pusat perhatian.
Karya di sini bukan produk jadi, tapi proses. Bukan pernyataan akhir, tapi pertanyaan awal: seni ini milik siapa, bicara pada siapa, dan apa yang bisa ia ganggu dan gerakkan?
Sebagaimana enam penyelenggaraan sebelumnya, Pekan Nan Tumpah 2025 dirancang tidak untuk menawarkan pemahaman. Ia menawarkan keterlibatan. Ia mengajak kita meninggalkan keinginan untuk paham, dan mulai bertanya dengan cara yang lebih jujur. Karena yang tersisa dari seni hari ini bukan tafsir tunggal, tapi getaran. Dan kadang, dari salah paham yang paling dalam, justru lahir percakapan yang paling penting.
Jadi bila kamu merasa paham semua ini, mungkin kamu salah paham. Dan itu pertanda baik. Mungkin kamu sedang berada di tempat yang tepat. Tempat di mana seni tidak butuh dibenarkan, cukup dirasakan. Tempat di mana kamu tidak harus tahu jawabannya, tapi cukup duduk dan berkata: “Saya nggak ngerti-ngerti amat, tapi saya pengen balik lagi besok.”
Jadi, selamat datang di Pekan Nan Tumpah 2025. Kalau kamu paham semua ini, mungkin kamu salah paham. Tapi kalau kamu bersedia bingung bersama kami, barangkali di antara tumpahan ini kita bisa menemukan cara baru untuk menyuap masa depan.
Dan ya, ini seni. Murni, terapan, dan terserah. Tapi tetap sungguh-sungguh. Seperti cinta yang tidak bisa dijelaskan tapi terus dicoba. []