Bagikan!

Oleh Rijal Tanmenan

PERIHAL pengetahuan ‘tersirat‘ (tacit knowledge) yang merupakan konteks ‘tidak terucap‘ yang timbul dari hubungan kultural tidak tertulis ini, selalu menarik untuk dimaknai dan dijelajah-dalami kembali secara lebih saksama. Terutama implementasinya pada sembilan seniman muda—baik secara perincian visual maupun konseptual, dan juga secara eksplorasi ataupun interpretasi—yang menyajikan karya (aset dan ekspresi intelektual) yang menyingkap pemikiran pelaku dibalik karya seni yang disuguhkannya.

Gagasan dasar Pekan Seni Rupa kali ini berupaya menyasar ikhtiar kreatif dari para perupa yang menghadirkan karya-karya seni rupa dengan bahasa (teks-konteks-konten) serta corak dan ekspresi visual dari tiap-tiap senimannya berdasarkan pengejawantahan dan pendalaman realitas yang ada beserta kulturalnya, untuk menjembatani tema kesenirupaan yang bertajuk “langgam-rupa”.

Adalah lisan melandasi kebahasaan alami manusia ini telah menempati kedudukan terpenting hingga mengemban kultur yang melekat dalam keseharian masyarakat Minangkabau sejak mula jadi—dengan embrio Nan Pusako Kato. Perincian proses perluasan bentuk lisan dalam kurun rentang waktu yang tidak singkat ini, menjelmakan wujud yang ditampung dalam berbagai ragam wadah dengan varian-varian inspiratif yang menggugah.

Penggunaan dan pemaknaan lisan telah berakar dan membumi dalam budaya yang hingga saat sekarang ini masih bertahan hidup di tengah masyarakat penghayatnya; mampu membuka lebih luas sudut pandang, melebarkan perspektif, mentransformasikan

‘konteks makna dan pengetahuan’ pada bermacam sisi kehidupan, serta menjadi daya pemantik dalam membangkitkan (evoke) seluruh aspek seni secara dinamis.

Wujud perluasan bentuk lisan disandikan ke dalam media kedua (dimensi kerupaan) dengan menggunakan stimulus visual ataupun audio-visual melalui pengolahan ragam idiom, objek, simbol, benda-benda, warna, frame, image, figur, tema dan lain sebagainya; untuk menjelaskan sekumpulan ungkap suatu keadaan atau peristiwa yang membentuk cerita dan pengalaman (experience) atau sekumpulan ucap yang dihasilkan dari tiap-tiap cerita dan pengalaman tersebut yang menghubungkan tanda dan makna tertentu terhadap keseluruhan proses kreasi pengkaryaan.

Transformasi lisan yang bersifat independen terhadap modalitas ini merupakan landasan dasar utama sebagai pintu masuk meramu idiom dan tematik ke-rupa-an (representasi visual), dan menjadi titik tolak terhadap cara kerja proses berkesenian untuk pencapaian sebuah ekspektasi estetika, nilai, pesan, serta ‘peng-alam-an’ yang ingin disampaikan melalui suatu karya seni kreatif.

Penjelajahan kesenimanan serta nilai-nilai artistik dari para perupa muda asal ranah bundo—Sumatera Barat—ini, mengusulkan karya-karya seni rupa kontemporer dengan langgam (corak-gaya-ekspresi) visual yang melewati suatu proses ‘tangkap-serap-resap’ dijelmakan pada beragam rupa dengan perincian proses berbagai wujud atas upaya perluasan bentuk lisan.

Wujud perluasan bentuk lisan yang memuat pengetahuan ‘tersirat‘ ini, menyediakan konteks makna yang menjadi sumber pengetahuan tersurat (explicit knowledge) bagi orang yang mengetahui. Pengetahuan tersirat diperoleh melalui pengalaman, sedangkan pengetahuan tersurat bisa disampaikan dan didokumentasikan melalui bahasa. Yakni

pengetahuan tersirat diubah menjadi pengetahuan tersurat.” (Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam IIkka Tuomi, Corporate Knowledge, 1999).

Perincian proses perluasan bentuk lisan yang memuat pengetahuan ‘tersirat’ dengan konteks makna yang menyertainya, mengungkap sejarah embodiment yang panjang (latar belakang budaya penghayatnya) sehingga memperkenankan suatu model penciptaan pengetahuan secara kultural. Karena “pengetahuan tersirat selalu merupakan prasyarat bagi pengetahuan tersurat.” (Michael Polanyi, 1980).

Baik melalui perenungan kreatif maupun kinerja eksplorasi penciptaan karya seni yang dilakukan sesuai pembacaan atau tafsir masing-masing seniman—dalam perspektif personal tiap-tiap para perupanya—atas upaya mengalihkan sekumpulan ucap dan ungkap yang membentuk cerita dan peng-alam-an.

Perihal ini dapat diperoleh melalui eksplorasi berbagai ‘pengandaian’, fenomena, makna, serta suatu realitas yang ditransformasi ke dalam bahasa rupa untuk keseluruhan pencapaian sebuah ekspektasi artistik dalam perwujudan visual karya tiap-tiap senimannya yang dapat menghasilkan sekumpulan interpretasi yang beragam.

Benny Saputra

LANGGAM utama yang diurai oleh seniman Benny Saputra dalam representasi visual karya seninya tertuju pada ‘cerita’ yang melatarinya hubungan alamiah antar benda (object) yang saling terkait satu sama lainnya, yang menghubungkan tanda dengan makna tertentu. Bahwa dibalik realitas suatu benda atau barang yang dikumpulkannya menyimpan cerita tersendiri.

Melalui karya seni instalasinya yang berjudul “Datang dan Pergi” menjelmakan wujud perluasan bentuk lisan yang disandikan ke dalam media kedua (dimensi ke-rupa-an). Menggunakan stimulus benda-benda bekas harian (domestik) untuk menjelaskan sekumpulan ucap yang membentuk ‘cerita’ dan ungkap yang dihasilkan dari keterkaitan tiap-tiap benda yang satu dengan lainnya.

Baginya, eksperimen yang mendasari eksplorasi kesenimanan dan nilai-nilai artistiknya dalam proses pelahiran karya seni dengan langgam (corak dan gaya) ini dilakukan untuk upaya mencari kemungkinan-kemungkinan ‘baru dan lain’ apa lagi yang dapat dimunculkan terhadap kreasi pengkaryaan dalam kesenirupaan.

Sikap pemerlakuan ini diungkapkannya dalam pernyataan ‘semua karena didukung oleh keadaan lingkungan di sekeliling (sosial).’ Ada semacam keterpanggilan ketika melihat object benda-benda sekitar. Ketertarikan pribadi ini timbul atas fenomena korek hilang yang sering dialaminya pada saat nongkrong, dan kemudian ia mulai berminat mengumpulkan sejumlah mencis gas (korek api) bekas.

Kesukaan yang tumbuh atas prilaku ‘bermain’ ini mencuatkan pertanyaan yang cukup ‘mengusik’ dirinya; kenapa korek menjadi benda yang istimewa? Akan tetapi ketika minyak atau gas korek itu sudah habis, nilai dari benda tersebut menjadi tiada. Bahwa

sebelumnya benda tersebut ada rasa kepemilikan dari si empu-nya, namun setelah habis pakai kemudian dibuang sehingga tak berguna lagi.

Pergeseran persepsi dan pemerlakuan yang diniatkannya ingin meng-istimewakan benda yang menurut orang lain sudah tidak ada nilainya tersebut, diungkap-bahasakannya melalui karya seni instalasinya tanpa mengubah (men-deformasi) bentuk, tanpa merespon atau men-dekonstruksi benda (korek) tersebut.

Begitu pula halnya dengan benda lain yakni kajai (karet gelang). Karet gelang dibuhul secara beraturan dengan sikap penentuan pilihan warna yang telah disusun dan digunakan dengan saling bersesuaian menurut artistiknya. Inspirasi ide yang didapatnya bermula saat melihat korek yang digantung dan diikat dengan karet gelang di kedai atau lapau (warung). Baginya, karet gelang bermakna kolektif.

Korek api yang terikat karet gelang dimaksudkan supaya barang (benda) tersebut tidak hilang, tercecer, terlupakan, dan seterusnya. Perihal ini memperkenankan langgam- tuturnya sendiri. Bahwa korek api dan benda-benda terkait punya cerita. Ketika api sudah tidak ada, ketika rokok tidak hidup (tersulut) tanpa api, ketika korek kehabisan minyak dan gasnya, ketika korek tidak mencetus nyala api lagi, maka benda (korek) tersebut menjadi tidak ada gunanya lagi.

Tafsirnya turut mendefinisi keadaan seni budaya saat sekarang ini yang dalam pemaparannya terurais dimana randai atau kebudayaan tertentu pada dulunya menjadi sesuatu yang ‘berapi-api’ di masanya, di zamannya. Dan di saat sekarang ini, ketika apinya telah tidak ada, ia hanya tinggal cerita, atau menjelma berupa arsip-arsip, dan hanya menjadi sebagai artefak masa lalu. Karet gelang disimbolkan sebagai representasi kolektif yang dimaksudnya yakni sebagai alat mangabek (membuhul), menjaga, dan menjadi tanda untuk mengikat agar tidak lepas.

Kelenturan sebagai sifat dasar pada realitas benda karet gelang ini dapat dijumpai dalam lisan tradisi yang kerap dilafaskan di wilayah kawasan budaya Minangkabau, yakni; “tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang.” Ungkapan kultural ini menyingkap falsafah tinggi. Pengajaran adalah maknanya. Dalam keras terkandung sifat lunak. Bernilai lentur menilik kondisi dan situasi. Dalam tegas memuat sikap lembut. Berisi nilai fleksibel yang melahirkan dinamisasi serta peran aktif (progressive).

Hubungan alamiah antar benda dengan latar cerita ini menjadi sebagai suatu paparan yang hidup berkembang dan berlaku di lingkungan sekitar. Kesadaran representatif atas penterjemahan sekaligus pilihan ‘bahasa’ yang pada hakikatnya merupakan manifestasi dari realitas dirinya, memiliki hubung kait yang erat bahwa tutur benda merentang cara ungkap.

Ia melihat secara lebih mendalam dan serius karena berkaitan dengan penjelasan dibalik suatu benda yang ada. Pengetahuannya berperan penting untuk memahami keterkaitan antar benda maupun latar cerita sehingga membentuk pola tertentu. Relasi antar unsur ini menjadi sangat penting karena melibatkan ‘tanda’ sebagai pengingat kembali.

Pemahaman individu ini melihat data tidak berdiri sendiri, namun merupakan satu kesatuan yang mengagumkan. Interpretasi personalnya melalui perincian proses hubungan alamiah antar ‘benda’ (object) yang saling terkait satu sama lain dengan ‘cerita’ yang melatarinya—lewat penterjemahan dan perluasan bentuk lisan atas fenomena serta suatu realitas yang ada—tersebut; bermaksud mengajak audiens masuk ke dalam dimensi ini, yang terbuka bagi berbagai kemungkinan pemaknaan dan penterjemahan terhadap tematik visual karya seninya.

Brian Fadli Fahmi

SARKASME merupakan unsur yang lebih kental bagi seorang Brian Fadli Fahmi. Menjadi cara ungkap tersendiri untuk mewakili maksud perasaannya dalam melahirkan suatu karya seni. Lazim bagi pemahaman kesenirupaannya yang menitik-beratkan perhatian pada olahan beragam objek dan warna yang diramu sedemikian rupa dalam proses kreatif berkarya digital imaging.

Mamak Kita” sebuah judul karya digital imaging yang diistilahkannya realist kontemporer tersebut membentangkan representasi visual menyangkut wujud perluasan bentuk lisan atas hubungan antar idiom (membenturkan beberapa image). Untuk memantik perspektif kebebasan berkarya yang tidak hanya terikat dengan keteraturan sebuah bentuk. Sikap ini dikemukakannya dalam pernyataan bahwa prosesnya dalam berkarya itu diwarnai perasaan gelisah ataupun kegusaran (innerconflict) yang dijumpai dalam kesehariannya, sehingga pada visual karya seni digital imaging-nya melibatkan flot dramatik.

Penentuan warna yang warm (hangat) dengan memilih kuning sebagai simbol kecemasan dan kemarahan ini didapatnya dari hasil perenungan estetik dan logika kesenirupaannya yang menempatkan warna memiliki arti bagi realitas semestinya. Pelebaran persepsi ini mendefinisi warna tidak ‘kosong’ secara makna, tujuan, serta motivasinya. Pengetahuan ini diterapkannya dengan memulai suatu proses pengkaryaan secara pengaturan komposisi yang berangkat dari elemen-elemen cinematic dalam aspek fotografi, sinematografi, serta lukis menjadi dasar pandangan dan hukum-hukum seni rupa yang melatarinya.

Penentuan objek seperti tanah gersang di lereng gunung karena saking panasnya keluar kebulan asap, rawa yang tidak subur lagi sehingga hilang hijaunya, pohon kering

kerontang, dan jembatan. Komposisi visual yang mewujud dalam karyanya erat berhubungan dengan penguasaan material (bahan) serta peng-atur-an ketika menempatkan warna pada sejumlah image dalam proses perwujudannya yang dilakukan secara sadar yang tentunya melewati perenungan kreatif. Suatu perenungan yang membutuhkan ‘sesuatu’.

Logika realist-nya yang kuat pada karya “Mamak Kita” tersebut dengan penggambaran posisi berdiri figure mamak masih di tempat yang nyaman serta penempatan Rumah pada posisi semestinya. Dan ia menyebutnya kontemporer karena membuatnya dari sesuatu yang tidak biasa, dan dengan cara mencampurkan pecahan tiap-tiap image melalui teknik digital imaging.

Dalam teknik digital imaging yang biasanya digunakan untuk memperbaiki foto, membuat sosok wajah menjadi bagus, memperbaiki warna cahaya dan lain-lain. Akan tetapi teknik tersebut diperlakukan dengan sikap dan cara merusak (memporak-porandakan) image– nya, seperti melukis dengan mempergunakan foto. Seperti rumah gadang yang semula bersih dirusak dalam karya ini dengan menggunakan teknik tersebut. Ukuran jembatan di-stem dipanjangkan.

Pelebaran persepsi yang berlaku pada proses kreatifnya tersebut, yang membentangkan antara gagasan dengan dimensi rupa, antara aspek mental dengan realitas warna ini; merefleksi keinginannya agar audiens juga membebaskan diri terhadap seluruh terjemahan dalam penilaian karya seninya.

Penempatan beserta penggunaan beberapa objek berupa image (foto) dengan cara penggabungan, figur mamak dan objek berupa image bangunan rumah gadang menjadikan idiom-idiom tersebut fokus (center point) bagi audiens. Teknik shadowing (bayangan)  digunakan  untuk  memfokuskan  objek  sehingga  mamak  terlihat  lebih

menonjol. Image awal si mamak tidak ada bayangan, jadi memang mengesankan ada cahaya atau sinar yang jatuh pada titik posisi mamak berdiri.

Pemilihan objek utama yakni figure manusia (mamak) dan bangunan (rumah gadang) secara filosofis, ia tidak lagi menemukan karakter seorang mamak. Mamak pada saat sekarang ini fungsinya di tengah masyarakat sekadar sebagai seremoni saja yang hanya hadir pada semacam upacara pernikahan, upacara adat, tagak datuak, dan lain sebagainya.

Akan tetapi tidak menyentuh pada anak kemanakan-nya bagaimana dan seperti apa, tidak lagi menemukan peran mamak tersebut. Tetapi ketika anak muda ada melakukan kejahatan, ada tawuran, ketangkap mesum, narkoba, atau tindak criminal lainnya, justru mamak (orang tua) yang lebih frontal dengan suara sesal dan kesal menyalahkan anak muda.

Padahal peran mamak itu sebenarnya mencegah atau tindak pencegahan dan pengawalan, bukan penghakiman. Kalau penghakiman, siapapun bisa. Terjadi penyalahan terhadap anak muda berpacaran di tepi pantai, tetapi tidak melihat apa langkah pencegahan yang dilakukan atau tidak menemukan sejauh mana langkah pencegahan yang patut diterapkan? Objek Mamak dan Rumah Gadang yang tengah terbakar tersebut dapat saja mendeskripsikan ia sendiri yang membakar karena tidak ada tindak pencegahan itu tadi.

Audiens bebas meng-interpretasi karya ini, siapapun yang melihat gambar ini. Barangkali audiens menganggap Mamak tersebut yang membakar, mungkin juga menanggapi ketika Rumah Gadang terpanggang lalu Mamak pergi dan bukan dia yang membakar. Dengan teknik digital imaging, jika ingin membuat sosok Mamak yang mebakar, tentunya sudah

ditampilkan simbol-simbol yang mengarah pada itu semisal Mamak memegang api atau obor atau apapun.

Maka audiens bebas menterjemahkan apakah mamak yang membakar rumah gadang itu atau mamak itu pergi ketika rumah gadang terbakar, atau apapun itu. jadi, bebas lah orang lain menanggapinya seperti apa. Secara pribadi ia membuat karya ini memang sengaja membebaskan tafsir ini, karena ia sendiri sebenarnya juga tidak tahu apakah mamak yang membakar atau tidak.

Jembatan yang masih kokoh disimbolkan bahwa tempat mamak berpijak masih ada dan diakui. Secara kultur di Minangkabau, kehadiran dan posisi mamak di dalam adat masih mendapat tempat. Keadaan ini dapat dilihat, contohnya pada ketika pemilu atau pilkada muncul nama-nama bergelar Datuk, ini menunjukan jabatan sebagai mamak dan Datuak itu masih berharga. Masih punya posisi, kalau tidak, dalam karya ini bisa saja image ia dibuat tenggelam tentunya.

Diposisi tempat mamak berdiri memang sudah nyaman, tapi dia tidak tahu padahal ke belakangnya posisi pijaknya agak goyang dan sudah rusak. Ia membelakangi yang sesuatu telah hancur yang tidak diketehuinya, semua akibat pencegahan itu tidak dilakukannya.

Ini sebuah kegelisahan bahwa kita secara kultur “sedang tidak baik-baik saja,” paparnya. Banyak masalah yang sedang melanda kita terutama di lingkungan Sumatera Barat. Ia berupaya mengetuk khalayak untuk memahami keadaan yang sedang berlaku. Dan bahwa sebenarnya (kultur) sosok dan peran ninik mamak ini sangat penting, ninik mamak adalah tunggak (pilar) yang dapat menyelamatkan. Secara kultur, mamak adalah tokoh yang berpengaruh.

Karena kalau diharapkan pada generasi, karena kalau generasi sudah rusak, tentu yang disalahkan (dipertanyakan) itu mamak-nya dimana? Pencegahan tadi dimana? Pembinaan serta peng-kawalan kepada anak kemanakannya itu bagaimana? Itu yang harus dipertanyakan kembali.

Penterjemahan ini diakuinya dengan salah satu paparan kultur lisan yang berbunyi; “anak dipangku, kemanakan dibimbiang.” Atau, “kemanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka nan bana, bana tagak sandirinyo.” Sehingga dari karya seninya ini menginginkan pendapat tumbuh dari penikmat itu sendiri dengan menyerahkan pemaknaan sepenuhnya kepada audiens.

Erik Darma Utama

BERBEDA pula bagi perupa Erik Darma Utama. Memfokuskan eksplorasi artistiknya pada pengolahan bentuk sebuah objek berdasar kaidah surealist yang melatarinya. Penataan warna-warna pastel berkesan ‘manis’ dengan meramu ragam idiom dan tematik kerupaan dalam komposisi seni lukisnya, mampu memberi kemungkinan ekspresi dengan penggunaan beberapa objek.

Pada “Pohon Terakhir” karya seni lukisnya terlihat dua bagian yang berbeda secara komposisi visual. Permainan ilusi di dalam kedataran bidang kanvas lukisannya menciptakan ruang-ruang khayal dengan ‘pengandaian’ yang variatif. Menghubungkan tanda dan makna tertentu dalam wujud perluasan bentuk lisan. Pengolahan suatu bentuk dari objek yang telah ada yang memiliki sebuah bentuk objek sebelumnya, kemudian merubahnya dengan cara memodifikasi bentuk objek tersebut sesuai pencapaian sebuah estetika bentuk lain ini mengikhtisarkan proses kreatifitasnya.

Pada bagian bawah lukisan berjejer pohon-pohon yang ditebang di tengah hamparan padang rumput hijau yang luas. Dan pada bagian atas bertebaran origami burung-burung kertas penuh warna-warni. Daya pikat objek yang dikenal dari suatu bentuk yang telah ada di alam yang menggugah interpretasi baru pula bagi pemaknaan lain dari audiens terhadap objek bentuk yang merupa wujud lain tersebut.

Burung-burung pada bentuk dasar alamiahnya di-stimulir dengan buatan origami kertas yang melahirkan estetika bentuk baru yang mem-proyeksi pandangan ‘dunia fantasi bermain‘ -nya. Ia memaparkan bahwa pada awalnya memang membuat gambar burung kertas biasa yang tidak berwarna. Namun secara teknis akan terlihat monoton. Sehingga pewarnaan yang penuh dapat membuat kesan lebih hidup dan berwarna.

Untuk keseluruhan warna memilih warna pastel. Dengan latar langit warna biru yang manis. Sesuatu yang menenangkan. Walaupun karya ini memuat konflik yang serius, tetapi ketika orang berhadapan dengan karya ini dengan menatapnya namun terlihat manis.

Menurutnya, dalam kajian seni rupa ada psikologi warna. Tiap-tiap warna mewakilkan semacam arti, menyampaikan berupa warna, dan seterusnya. Penggunaan warna-warna pastel dalam lukisannya yang membuat siapapun yang melihat dan memandangi itu terlihat manis. Ketika membayangkan gambar itu orang yang memandanginya bakal luas pemikirannya ketika melihat.

Secara semiotik, perihal simbol sangat menonjol dalam lukisannya. Ada sebuah siklus yang mengitari kehidupan. Jelasnya, bahwa kehidupan burung-burung kertas yang mewujud bentuk origami tersebut berasal dari pohon-pohon yang dibabat. Burung- burung yang dikagumi berasal dari pohon yang ditebang. Tersisa satu pohon yang menyimbolkan pohon terakhir. Sifat alamiah bebas pada burung ketika terbang dan hilang diatas langit, semua tidak ada yang tersisa. Dan pohon-pohon terakhir pun ketika ditebang juga tidak akan ada yang tersisa.

Sebenarnya polemiknya dalam karya tersebut berat semuanya, tetapi dikemas dengan rupa yang manis. Sehingga orang lupa dan terlena apa arti intisari dengan karya itu jika hanya melihat sepintas lalu, paparnya. Kebanyakan orang memang terlena bahwa kertas yang diproduksi, tetapi di satu sisi sudah menghabiskan ekosistem yang lain.

Ia memandang serius perihal kebersesuaian ini dalam arti selaras. Baginya, saat seseorang berbuat apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan hati nuraninya ketika melakukan sesuatu, berarti memang selaras dengan hatinya. Apa yang diterima masyarakatnya berarti memang diterima. Hal ini mendasari konsepsi perwujudan setiap

hubungan tanda dan makna tertentu pada proses kreasinya sebagai wujud perluasan bentuk lisan, sehingga tampilan ‘bentuk’ pada visual karyanya merepresentasi unsur keselarasan.

Ia memandang pada intinya hal yang terjadi itu telah menjadi suatu hal pewajaran, pembiasaan, dan pembiaran. Padahal sebetulnya ini sesuatu polemik, kemelut, kejadian yang serius, pelik, dan mengerikan. Tetapi dibungkus dan dikemas dengan sesuatu yang manis dan simple untuk tujuan mengetuk hati penikmat.

Sekumpulan ucap dan ungkap yang merentang tanda dan makna yang memperkenankan ciri paparan lisan “manembak baalamaik, bakato batujuan” ini, mendefinisi sasaran dan tujuan adalah penting dalam bertindak. Ungkapan kultural tersebut menyingkap arti bahwa apapun yang dilakukan harus ada maksud dan tujuannya. Ia menampilkan sesuatu yang serius dengan cara dan kemasan yang ‘manis’.

Terhadap karya, setiap orang punya objektifitas dan subjektifitas yang berbeda walaupun dengan pribadi senimannya yang menggambarkannya. Tiap-tiap orang akan menerima itu dalam artian yang berbeda-beda. Ketika pribadi senimannya menyampaikan pesan itu dan ‘sampai’, berarti disini si seniman berhasil menyampaikan dengan apa yang ingin disampaikannya. Tetapi ketika orang lain berbeda maksud dengan apa yang ingin disampaikan si seniman, boleh jadi mungkin tidak tersampaikan atau mungkin audiens memiliki pandangan yang berbeda.

Gendi Malinyo

PENANYA mendasari konsep kunci berkarya dalam pemahaman kesenirupaan seorang Gendi Malinyo. Representasi visual yang menitik-beratkan perhatian berolah objek dengan meramu tanda dan makna serta mengatur bagaimana simbol digunakan untuk membentuk urutan dan gabungannya—menjelmakan wujud perluasan bentuk lisan yang dijadikannya sebagai media ‘penanya‘ untuk pembelajaran bagi dirinya.

Pada karya seni lukis yang diistilahkannya realist kontemporer berjudul “Tumbuh Tidak Pada Tempatnya” terdapat penggambaran motif tradisi ‘itiak pulang patang‘. Dilukiskan pada wajah figur perempuan muda berbusana modern (pada umumnya) di bidang permukaan datar kanvas sebagai objek utamanya. Ornamen kultural ini baginya memiliki arti keteraturan.

Pemilihan papan tulis yang dipakai untuk latar dan objek background lukisan, disandikannya pada makna pendidikan. Figur perempuan muda yang dilukiskannya berupa kertas poster sedikit robek yang ditempelkan dengan lakban pada papan tulis tersebut mengesankannya terhadap sikap sekitar yang menyepelekan pendidikan saat proses transformasi ilmu maupun berbagi pengetahuan yang tengah berlangsung. Keluh kesah ini didapatnya ketika belajar. Ada sikap tingkah laku atau beberapa aksi anak-anak sekolah di ruang kelas yang secara reflek mengabaikan guru memberi tugas.

Pada karya ini, ketersusunan tiap-tiap objek erat hubung kaitnya satu dengan yang lain. Ketertarikannya terhadap jenis tanaman Labu sebagai objek penguat yang ditampilkannya dengan penggambaran secara realist. Menurutnya Labu memiliki tipikal pohon yang lunak dengan sifat tumbuhnya merambat menghasilkan buah yang kuat dan berat. Perihal ini diungkapkannya meskipun kita terlahir tidak berlimpah harta benda

namun sebenarnya kaya dan kuat ketika bersyukur dengan adanya beberapa bidang yang diungguli.

Perluasan bentuk lisan melalui media kedua dengan stimulus visual “Tumbuh Tidak Pada Tempatnya” yang mengisyaratkan penggambaran makna motif ‘itiak pulang patang‘— bahwa peletakan dan penempatan sesuatu berada dalam runutan keteraturan— ini menyarankan serta mengajak audiens kembali mempertanyakan ulang sikap khidmat dan prilaku simak selaras dengan keadaan semestinya.

Demikian juga dengan karya seni lukisnya yang berjudul “Wacana“. Latar warna yang digunakan dengan memakai warna biru yang menandakan hari cerah, memberinya alasan bahwa ketika cerah maka warna nampak jelas dalam karya ketimbang pemilihan warna yang gelap. Sebab itu diambil pewarnaan warna biru karena jika hitam menjadi siluet.

Objek figur perempuan muda dalam penggambaran tubuh yang ditampilkan dengan ukuran kepala lebih besar dibanding objek gedung-gedung pencakar langit di kota metropolis Eropa. Diibaratkan seperti raksasa yang disimbolkannya seperti orang yang terlalu banyak berpikir atau hanya punya mimpi berangan-angan besar.

Kehadiran objek bingkai (frame) pada karya lukis tersebut baginya memiliki arti keindahan lukisan terkait dengan bingkai. Ia adalah pemanis sebuah lukisan. Bagaimana mungkin dapat membenahi kota sedangkan keindahan lukisan yang rusak karena bingkai patah dan jatuh ke dalam karya lukisan saja masih terabaikan?

Gendi melebarkan persepsinya perihal hubungan karya dengan dirinya sebagai media ‘penanya‘. Mengikhtisarkan wujud perluasan bentuk lisan yang memuat pengetahuan ‘tersirat‘ (konteks makna) dan pesan yang dipertanyakan ulang dan kembali kepada khalayak. Dengan memaparkan pandangannya bahwa suatu karya adalah sebagai alat

penanya‘ baginya kepada masyarakat (publik) untuk pembelajaran dirinya. Bukan untuk mengajukan interpretasinya terhadap suatu masalah, tetapi ia sebagai ‘penanya‘ dalam suatu karya. Ketika karya dipajang dan dipamer kemudian ditanggapi khalayak dengan sudut pandang yang berbeda, pada saat itu adalah pembelajaran bagi dirinya sendiri atas tanggapan yang diberikan oleh audiens (apresian).

Hanif Hamdani

Mari serempak mengamini semua doa-doa yang tak sempat terpanjatkan, semua doa yang tak ter’ijabah, semua doa yang tak teryakini diri sendiri, semua doa yang kemudian disesali, semua doa yang jahat dan baik yang tak sempat terpikirkan terlebih dahulu ketika dipanjatkan, semua doa yang sudah terlupakan tujuannya.

Mari terus meminta hingga kita semua hilang dan dimaafkan.

Do’a – Hanif Hamdani

GAYA sarkas yang diusung perupa Hanif Hamdani atas narasi berciri puitik untuk menguatkan perwajahan karyanya serta pemaknaan secara tidak terperinci terhadap hubung kait item per item visual satu dengan yang lain mendasari pemahaman kesenirupaan dalam proses kreasi pengkaryaannya (representasi visual).

Dengan menyodorkan kumpulan sekian tanda, lambang, simbol, figur, dan objek yang dibagi-bagi secara terpisah dari berbagai wujud yang dikenal, mudah dicerna, dan diingat kembali. Sehingga dapat terbuka bagi kemungkinan sejumlah pengandaian yang lebih kompleks lagi.

Ketertarikannya terhadap simbol-simbol kehidupan berdimensi sakral pada karya seni digital ilustrasi-nya berjudul “Do’a” tersebut menyajikan korelasi figur utama dengan objek pakaian merupai jubah yang mencipta nuansa religi-spiritual yang kental. Pemilihan simbol-simbol yang dianggapnya ada hubungan dengan kepercayaan seperti sinar dan cahaya pada tangan dan simbol tiga mata.

Lambang tidak terhingga yang biasa dikenal dalam perspektif matematika pada objek kalung sebagai simbol keabadian. Serta penentuan objek sebuah pintu dengan anak tangga menuju ke dalam suatu ruang. Penggunaan objek bunga-bunga, tanaman serta gurun dan tumbuh-tumbuhannya sebagai penggambaran sudut pandang dunia yang ingin dibangun yaitu sunyi-sepi (sakral).

Kehadiran tiap-tiap tanda yang tidak asing terlihat pada umumnya dan makna tertentu yang dimunculkannya memperkenankan bahwa mengedepankan pemikiran rasional dan logis adalah laku kesehariannya. Baginya, pendefenisian objek yang tidak terperinci dengan cara membagi-bagi dalam satu media diniatkan untuk memberi space bagi apresian dalam menterjemahkan pemaknaan lain.

Baginya perihal melihat memahami suatu karya seni rupa itu bukan hal yang simple. Diibaratkannya bukan seperti teka-teki ataupun seperti permainan puzzle. Ketika pergi ke suatu ruang pamer atau galeri tetapi hanya untuk menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh si seniman. Justru seorang seniman membuat sebuah karya bukan untuk semacam ajang permainan puzzle yang membuat orang berpikir-pikir seperti sedang memecahkan sebuah teka-teki.

Menurutnya seorang seniman sebetulnya menyediakan wadah dari karya bilamana seseorang yang melihat suatu coretan dari karya tersebut dapat memunculkan keinginan untuk membuat suatu karya yang lain. Sebuah karya itu disediakan seniman untuk membuat orang berpikir hal lain yang beragam dan bermacam-macam (bebas). Seniman dan karyanya menyediakan peluang dan kesempatan untuk berpikir bagi mereka diantara hari-hari mereka yang sibuk dengan melihat karya tersebut.

Huddiyal Ilmi

PETATAH-petitih yang diolah dalam bahasa visual seorang film-maker (videographer) seniman Huddiyal Ilmi dalam karya yang dihadirkannya lebih tertuju pada eksplorasi meramu idiom dan tematik kreatif yang berolah tanda, simbol, angelview, cahaya, dan lain sebagainya pada keseluruhan proses pengkaryaan audio-visual.

Setiap apa yang terpikirkan dan apa yang didapat, ia jalani dalam konteks gambar yang bergerak dalam sekumpulan frame yang diambil (take-shot) masih jadi hal yang ia senangi (passion) walaupun hasil video tersebut dalam durasi satu detik atau dua detiktetapi treatment atau statement-nya ‘dapat’ maka itu dianggap sebuah karya baginya.

Pada karya videonya, terdapat dua konsep yang berbeda, yang satu secara teori (kultural—petatah-petitih) dan yang satu secara teknis (ide kreasi dan aksi—eksekusi visual). Secara visual diniatkannya untuk mengajak audiens masuk secara leluasa ke dalam deretan footage per footage yang disajikannya dengan membuka kemungkinan- kemungkinan untuk menterjemahkan tematik video.

Pada tampilan awal (introduction) video menampilkan seorang perempuan beraktifitas adat (kultur) yang tengah menutur gulungan lisan tradisi (petatah-petitih). Dalam karya videonya ini ia berkolaborasi dengan seorang Bundo Kanduang suku Patopang nagari Talago Gunuang kabupaten Sawahlunto.

Meramu idiom dengan perpaduan tanda secara semiotika, menyajikan scene dan shot dari objek pohon kelapa yang terhubung dengan makna tertentu secara kultur yang divisualkannya. Permainan simbol pada frame tumpahan air jatuh, figur orang menepukan tangan, suara perangkat alat songket, dengan pengonsepan secara editing menggunakan teknik peralihan visual secara transisi per transisi.

Perihal audio dalam pengertian music background sebagai hal yang penting dan menjadi perhatian utamanya untuk menyampaikan apa yang dimaksudkannya adalah ketika audio mampu merepresentasikan sebuah bahan atau footage dalam bentuk ‘pesan’ (message) terhadap visual-nya.

Saat visual yang ingin dikedepankan maka mengikuti pendampingnya adalah audio, baginya bilamana ketika sedih tidak mungkin diwakilkan dengan music jazz atau rock. Demikian pula halnya dengan karya yang diperuntukan di dalam ruang galeri untuk kebutuhan idealism–nya. Ia menggunakan music background yang sama sekali tidak mendendangkan etnik Minangkabau.

Ia meng-elaborasi perwakilan mood dan maksud visual yang disesuaikannya menurut pencapaian estetika yang dissajikannya. Pada karya video kali ini, ia menghadirkan audio sebagai music background dari komposer Gardika Gigih melalui sebuah music track dari album “Nyala” yang berjudul Ending ber-genre ambience–epic yang tidak menyuarakan idiom juga unsur khas musik etnik tertentu.

Imam Teguh

TUTUR lisan tradisi yang berbunyi ‘cancang tadadek jadi ukia‘ yang memuat pemahaman estetik-artistik ke-lokal-an kultur Minangkabau ini, melandasi eksplorasi kreatifitas seorang Imam Teguh dalam meramu ragam unsur rupa; garis, bidang, warna dan segala macamnya. Representasi visual yang melatari proses kreasi pelahiran karya seni lukis abstraknya terutama ada ketergugahan atas peristiwa, moment, raso (emotion) tertentu yang dialaminya secara langsung.

Pada karyanya yang berjudul “Langkah Kalam“, ia menyebut proses berkaryanya sebagai Edisi Keprihatinan dengan ekplorasi pengerjaan daur ulang kanvas dari karya yang sebelumnya. Perihal bahan (material) cukup menjadi perhatiannya. Tidak ada kanvas baru kemudian didaur ulang. Ketika ‘rasa’ belum sampai pada karyanya maka ia akan merespon kembali di-block kanvasnya. Serta sisa-sisa cat bekas yang lama digunakan kembali. Eksperimen campuran pasir dengan cat akrilik serta men-dekonstruksi ‘bentuk’ dengan upaya mengalihkan bentuk konvensional seperti halnya merubah anatomi figur juga disengajakannya , dilakukan secara sadar.

Pemerlakuan merespon frame dalam pengertian tidak konvensional ini diaksikannya terkait kekuatan bobot sebuah karya ketika kuat meregang kain kanvas pada bingkai kayu spanram maka akan regang (tegang) permukaan kedataran bidangnya. Pada kebanyakan orang secara tidak langsung tentu menginginkan kerapian pada tampilan karya. Tetapi pada karya ini ada sisi frame yang sengaja tidak diregangkannya. Ini sebuah cerminan dirinya bahwa tidak menutupi hal-hal yang dialaminya.

Menurutnya jika dirunut pada karya sebelumnya ia memang bermain figur, ada bentuk- bentuk objek. Figur yang dihadirkan berdasar dari imajinasi. Akan tetapi untuk pelahiran

sebuah karya ada hal yang mendasari yaitu apa yang dialami kesehariannya. Keresahannya tentang keprihatinan yang dituangkannya pada karya (emosional).

Secara teknis ada bentuk yang ia kikis dan ditoreh (digoresi ulang), banyak ekspresi yang spontan (emosi lepas) dari dirinya. Menyangkut pengujian ketahan medium (bahan). Terkadang ada beberapa kanvas yang cabik (robek) karena torehan spontan tersebut. Dan penggunaan beberapa objek tangan yang ditemukan dalam beberapa visualnya sebagai penggambaran yang memiliki arti dan makna bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Suatu pengalaman yang berangkat dari hal empiris- kontemplatif.

Penggunaan warna ada diajukan sebagai warna itu sendiri. Terkadang pemaknaan warna dikhususkan sebagai maksud dari persoalan yang dialaminya. Ketika ia memberi memungkinkan si penerima menjadi lebih berwarna pula. Pada kebanyakan orang melihat warna yang ditampilkannya ‘manis’ (terang), orang langsung mengkaji tentang keadaan psikologinya yang diartikan sedang senang bahagia. Namun sebetulnya ia selalu menggandengkan dua hal tersebut, warna yang suram dengan warna yang memang cerah.

Ada warna sebagai simbol da nada warna hanya sebagai warna. Ketika pada lukisan realist terkadang warna digunakan sebagai warna semestinya tidak menampilkan makna. Dan ketika melukis ekspresi atau abstrak hadir warna-warna yang dinginkan dari hati. Ketika senang, muncul warna yang berbeda. Dan ketika sedih atau suram pun demikian.

Konsep berkaryanya menitik-beratkan pada persoalan dua hal yang selalu beriringan, sisi dualisme seperti bumi-langit, baik-buruk, dan seterusnya, maka demikian ia menyebutnya dengan istilah betu-betu. Sehingga ketika ia menghadirkan warna yang kelam, juga turut serta memunculkan warna yang terangnya.

Beroleh istilah betu-betu yang didapat dari kehidupan kesehariannya di tengah masyarakat kampung asalnya. Hingga saat ini, misalnya ketika pergi ke ladang atau sedang panen dan lain segala macam aktifitas di tengah sawahnya, ketika ditanya sedang apa, jawabnya betu-betu saja. Sesederhana itu. kita dituntut untuk berfikir sedang apa orang itu. peralihan ini menampakkan kebedaan dengan orang yang menggunakan istilah lain dalam keseharian.

Tidak ditemukan pada dirinya bahwa ketika senang dan gembira tidak terlalu riang dan tidak tertawa, dan ketika sedih pun tidak terlalu murung. Hal ini dijawabnya, ketika sedih untuk apa terlalu bersedih, ketika senang untuk apa terlalu girang karena terlampau senang nanti justru datang tangis.

Simbol yang digunakan disatu sisi menyangkut artistik, disisi lain memang diperuntukkan. Simbol lingkaran bulat dimaksudkan sebagai rongga (lubang). Perihal judul pada karya ekspresi abstrak diberi judul berdasar peristiwa yang melatari terbentuknya lukisan tersebut. Biasanya menerakan tanggal bulan tahun. Peristiwa atau emosiaonal yang memantik adalah persoalan keprihatinan. Saat ini melihat orang tetapi untuk berbalik melihat diri kembali. Lebih prihatin lagi. Instrospeksi diri. Dan pengetahuan baik-buruk.

Ketika mencari sebuah judul yang akan dicantumkan dirunut dari persoalan mendasar yang melatari awal mula proses pengkaryaannya yang diambil intinya pas diujuang saat mencantumkan sebuah judul. Banyak juga berangkat dari bahasa Minang semisal basiang aso, manyusun kain paco, dan seterusnya. Terkadang sebelum mengeksekusi, sebenarnya judul sudah ada. Tetapi untuk lebih memaniskan judulnya, diujung eksekusi sebelum tanda tangan.

Seperti pada aktifitas bertani; basiang yang meninggalkan goresan tangan yang membekas di tanah yang merupai bentuk abstrak. Walaupun se-kontemporer apapun hasil karyanya selalu memuat nilai ke-lokal-an yang menyertai selalu di-papahnya.

Baginya, berkarya itu semacam memberi persoalan seperti teka-teki bagi dirinya sendiri. Ada sebuah karya yang dihadirkannya sebuah kata atau tulisan (teks), namun setelah itu muncul pertanyaannya sedangkan kini bicara perihal lisan, lalu kenapa dihadirkan sebuah tulisan? Misalnya ditampilkan tulisan dengan kalimat teks raso dan pareso, kemudian dihilangkan (ditimpal) kembali dan diulang munculkannya kembali.

Harapannya, disisi karya yang versinya cerah, ketika orang melihatnya tersenyum, ia turut senang. Ketercipratan rasa yang dihadirkan dari karyanya diharap menyentuh lapisan khalayak lebih umum. Menurut pembacaannya terhadap antusias audiens di Sumatera Barat ketika minat berfoto-foto (selfie) dengan suatu karya dapat dianggap bagus karena senang berfoto. Tetapi terkadang jika audiens kembali keluar dari ruang galeri dan menjadi suatu pembahasan, sepertinya itu jarang sekali. Menurutnya, hal tersebut dianggapnya bahwa masyarakat masih menjadi penikmat, belum jadi pengamat. Tetapi meskipun tidak semua seperti itu.

Ketika jadi penikmat, mereka tidak harus tahu tentang karya itu, sehingga hanya menikmati saja. Namun jika seseorang jadi sebagai pengamat mereka wajib tahu sehingga bertanya terus apa yang dihadirkan, hal seperti apa yang telah diatur dalam karya tersebut. Seorang seniman ketika telah berjarak melihat karyanya saat itu ia menjadi pengamat, ketika melukis menjadi seniman.

Menurut pengalamannya, bahwa karya lukisnya yang dicirikan dengan objek muka figur bergigi dua dan atau simbol bermata empat atau enam tidak dihadirkan dalam sebuah pameran itu sebagai upaya menyatakan sikap bahwa seri betubetu yang dimaksud tidak hanya serupa karya yang demikian saja.

Baginya simbol mata itu sebagai wujud rasa syukur. Ketika kita diberi mata dua alangkah banyaknya berkah yang dapat dilihat. Apalagi diberi lebih seperti mata enam dimaksdukannya dengan penggambaran memiliki indra yang lebih (six-sense). Sebagai wujud rasa syukur kepada Pencipta.

Secara pribadi dalam ungkapannya memaparkan bahwa ketika seorang seniman bilamana tidak disentuh oleh penulis atau curator maka seniman akan kaku. Tetapi ketika ada diskusi dan dialog untuk mengenal lebih dalam gagasan personal sebelum pameran maka si seniman akan lebih cair (lentur). Diibaratkannya jangan sampai seniman itu seperti perumpamaan “orang buta sedang barasian (bermimpi)”. Karena biasanya ketika ada iven di Sumatera Barat, keluar-terbit Juknis (pertunjuk teknis), lalu kirim karya.

Salman Hijrah

PAPARAN lisan yang tidak asing terdengar di sekitar “Siapa yang menanam, dia yang menuai” ini, telah menggugah perhatian pribadi perupa Salman Hijrah. Mendasari eksplorasi artistiknya dengan berolah ragam elemen rupa, idiom, objek, warna, simbol, figur dalam reperesentasi visual yang disodorkan pada karya seni lukis yang disebutnya bergaya realist kontemporer.

Tema lingkungan terutama perihal dampak sampah plastik di laut yang berakibat pada biota makhluk laut dan juga manusia ini adalah mengusik perhatiannya. Problema tematik ke-rupa-an yang disuguhkan dalam karya yang cukup pelik tersebut, dikemasnya dengan rupa yang jenaka (komikal) yang dikesankan ketika orang yang melihat sepintas lalu merasa ringan, simple, dan mudah dicerna terkait apa arti serta intisari konflik yang disajikannya.

Penggunaan warna pada pilihan warna pastel seketika melihat karya lukisannya membuat mata sedap memandang. Berbagai produk atau barang-barang yang diproduksi dengan kemasan plastik pada satu sisi menjadi suatu ancaman bagi ekosistem lain ini mengesankan permainan ilusi yang dramatik.

Secara semiotik, perihal simbol sangat menonjol dalam lukisannya pengaturan yang cukup elegan. Pada komposisi secara visual objek sampah botol plastik yang dikemas dengan pakaian layaknya busana manusia. Objek figur yang dihadirkan pada karya lukisnya yang berjudul “Bacot” ini diubah (dekonstruksi) bentuk anatomi yang secara visual menggerakkan badan dengan organ tubuh bagian tangan sedotan dan bagian kaki sisa sampah plastik sikat gigi.

Pemilihan objek kolom dialog dalam bentuk yang meleleh disimbolkan percakapan dua figur yang tampil secara visual tersebut hanya wacana tanpa tindakan yang lumer hanya dengan diskusi saja dan tanpa aksi.

Thariq Muntaha

CORAK utama meramu tematik ke-rupa-an (representasi visual) melalui permainan simbol serta perpaduan tanda dengan penggunaan bahan (media dan material) yang mudah dikenal hingga berolah ragam bentuk, warna, idiom, objek, dan lain sebagainya untuk pencapaian sebuah ekspektasi artistik seorang Thariq Munthaha, begitu kental dalam perwujudan proses karya seninya.

Progressive sebuah istilah yang terbesit darinya sebagai penggambaran pola pikir dirinya yang telah terpapar perihal kultur Minangkabau sejak awal hingga berkecimpung dengan dunia seni (seni rupa), membentuk pola dan caranya memahami serta melahirkan wacana dari pengalaman masa lalu sampai pada meleburnya batas-batas.

Atas kekacauan dari suatu keadaan atau peristiwa yang kemudian diolah dalam bentuk karya-karya seninya yang membuat hal baru pula diluar dari hal yang konvensional. Kekacauan yang terjadi dipandangnya merupakan sebuah peluang untuk melahirkan kesadaran. Ibarat seperti ladang yang subur untuk mencipta dengan membentur- benturkan sesuatu kemudian membentuk sesuatu. Makin banyak problem makin banyak pilihan untuk mendasari pengkaryaan.

Pada karya instalasi kontemporer yang meng-hybrid simbol-simbol secara terperinci dilakukannya dengan penuh kesadaran. Penentuan bahan bangku (kursi) sebagai benda utama yang saling terkait satu sama lain dengan media yang digunakannya, dipadukan secara sengaja sesuai dengan tematik kerupaan yang ingin disampaikannya.

Kursi yang dibungkus (ditutupi) dengan kain sarung hitam melalui teknik sablon menampilkan simbol tumpukan mata uang dengan lambang Dollar yang banyak bertebaran membentuk ornament tersendiri. Semacam merupai suatu deretan motif-motif yang tidak terstruktur. Simbol Dollar yang diubah dari bentuk asal ke bentuk yang sesuai pencapaian artistiknya menggunakan teknik munil silk screen. Dihadirkannya secara berulang-ulang pada permukaan kain sarung saat proses penyablonan. Baginya, bahan (material) beserta detail-nya tersebut termasuk bagian dari simbol.

Peletakan benda alam berupa batu berukuran besar yang ditimpal di tengah dudukan kursi yang ‘disarungi’ tersebut menjadi perhatian khusus bagi diri senimannya. Pemilihan batu diterjemahkannya sebagai suatu kekuatan yang susah untuk ditumbangkan atau dihancurkan. Untuk menjatuhkan atau menggulingkannya pun berat dan perlu upaya dengan daya keras dan kuat. Jika ingin menghancurkannya harus dengan sesuatu yang lebih besar pula, atau mungkin kehendak Tuhan. Oleh karena itu kursi tersebut telah habis tertutupi dengan kapitalis.

Simbol- simbol yang digunakannya pada karya ini menyediakan pesan bagaimana kapitalis telah menggunakan atau bertameng dengan agama maupun kultur sebagai alatnya untuk mendekatkan dan mendapatkan kepercayaan khalayak (masyarakat) sehingga membalut menututupi penuh suatu kekuasaan.

Terjemahan sarung mewakili agama dan secara kultur sebagai budaya menutupi aurat (pakaian). Kain yang tajelo (terjuntai) menutupi kursi secara penuh sampai melantai. Hal tersebut semacam representasi Politik kekuasaan yang diartikannya sebagai permainan kekuasaan untuk menguasai orang banyak (kedudukan/ posisi) yang ingin memiliki wewenang untuk mengarahkan atau mengatur orang banyak, dimana kekuasaan itu sebenarnya juga dikuasai oleh kapitalis.

Ia memandang serius persoalan ini dalam pemaparannya bahwa jika ditelisik dan dikaji lagi lebih mendalam kepada kultur Minangkabau, sebetulnya kapitalis tersebut berlawanan (berbenturan) dengan nilai kultur. Karena kekuasaan yang secara kultur bukan monarki, oligarki, sentralistik, atau bukan berpaham kekuasaan tunggal, maka menjadi kontra dengan Kapitalis. Tetapi realitanya dengan situasi global saat ini, justru peleburan tersebut sudah terjadi. Kini kekuasaan berdasar kultur tersebut telah dikuasai oleh kapitalis.

Mulai dari fenomena pemberian gelar datuak kepada pengusaha yang ingin men-caleg, sehingga adat atau budaya hanya menjadi sirkus, bahan tontonan seperti badut, tegasnya. Fungsi kultur hanya diarahkan pada fungsi hiburan edukatif pada hari ini dank e depannya. Menjadi wisata edukatif, bukan sebagai ideologi (bentuk pemikiran) keseharian yang dipakaikan.

Pengakuannya sampai saat ini ia juga tidak mengerti apakah keberpihakannya condong pada pembelaan kultur atau kritik terhadap modernitas. Wujud perluasan bentuk lisan yang disingkap pada karya seni instalasinya ini bahwa ia ingin menyampaikan sekumpulan ucap atau ungkap atas peristiwa dan keadaan yang dialaminya saat-saat ini. Karena ia yakin masih dalam proses dan pencarian dirinya.

Pada karya ini, jika ia condong pada pembelaan kultur atau lebih menjunjung modernitas, dirinya tidak tahu perihal keberpihakan itu. Namun yang pasti diyakini adalah memang keadaannya seperti itu. Bahwa kekuasaan itu ada yang menguasainya. Kekuasaan itu bukan ia yang berkuasa saat ini. Dan yang menguasai itu adalah kapitalis yang menurutnya pengertian kapitalis adalah industri kapitalis yang berorientasi kepentingan pasar, baik itu kekuasaan pada tingkat Negara maupun terkecilnya kekuasaan di adat (kultur).

Bahkan sampai pada kekuasaan di pelosok kampung-kampung orientasinya adalah industri kapitalis, peng-uang-an (bisnis), hanya pada produktivitas hal demikian saja. Sementara pada kultur Minangkabau, segala sesuatunya sudah disediakan oleh adat.

Tetapi karena pergeseran zaman, sehingga hal lainnya tidak dapat disediakan oleh adat. Dan ditambah dengan standar keserakahan manusia kini semakin tinggi, sehingga orientasi semua tertuju pada industri kapitalis (kekuasaan) tersebut.

Kekuasaan yang dibahasnya dalam karya seni instalasi ini bukan sekadar cakupan kekuasaan pada adat dalam pengertian pada tingkat kekuasaan terkecil semisal kekuasaan mamak pada kemanakan saja, namun lebih dari itu. Dalam keadaan sehari-hari kekuasaan atau ‘power‘ seseorang itu memang hanya berorientasi pada industri kapitalis.

Situasi ini diterangkannya dengan menelususrinya secara kultur pada ungkapan “Mambangkik Batang Tarandam” atau budaya Merantau “Karatau madang di ulu, babuah babungo babalun. Marantau bujang daulu, di rumah baguno balun“. Anjuran tersebut sebenarnya untuk pembuktian. Arah suggest-nya untuk itu. Penjelasannya, pada masa terdahulu (zaman barter), anjuran serupa itu fungsinya untuk sebuah pengalaman. Setelah kembali kemudian membangun nagari (kampung halaman).

Namun pada fase modern, saat uang dijadikan alat barter mungkin sejak zamannya kolonial, orientasi penggunaan anjuran atau ungkapan kultur (adat) serupa itu sudah mengarah ke kapitalis. Dengan rentetan; pergi merantau, cari uang yang banyak, beli mobil, setelah itu pulang, membangun dengan uang, saat itu akan mendapatkan hormat. Yang demikian sebenarnya adalah kekuasaan dalam bentuk kekuasaan terkecil dari fenomena-fenomena yang ditemukannya selain penjelasan hal-hal yang lebih rumit lagi seperti politik dan lain sebagainya.


TAJUK “Langgam-Rupa” yang merajut kesatuan tema kesenirupaan dengan memperkenankan arti dalam dirinya sendiri melalui penelusuran sejauh mana perjalanan serta apa dan bagaimana langgam (corak-gaya-ekspresi) yang disuguhkan sembilan seniman muda Sumatera Barat, membentangkan proses perincian perluasan bentuk lisan yang memuat pengetahuan ‘tersirat‘ dengan konteks makna yang menyertainya. Terkait relevansinya dengan konteks visual (wujud rupa) yang dicapai oleh tiap-tiap perupanya.

Tidak pula berlebihan agaknya jika mau mengatakan bahwa peristiwa seni rupa ini bukanlah sekedar kejumawaan kata dan istilah semata, karena merupakan sebuah effort seni masing-masing personal perupanya yang berlatar belakang lintas-interest berlainan ini; mengungkap sejarah embodiment yang tidak singkat (latar belakang budaya) yang terpaparkan satu sama lain dalam perincian unsur-unsur visual kekaryaan dan konten kesenirupaan pada rentetan sajian karya-karya seni mereka. []

Selamat pameran kawan-kawan, eksplorasi ini belum usai!

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *