Catatan Pertunjukan Peserta Pada Malam Pekan Nan Tumpah 2017
Oleh Maya Sandita
Liga Baca Puisi Kreatif (LBPK) adalah lomba pembacaan puisi yang termasuk dalam rangkaian festival Pekan Nan Tumpah. Dinamakan Liga Baca Puisi Kreatif karena format kompetisi yang dipakai persis seperti liga, yakni dengan adanya babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final. Dewan juri juga mendapat nama khusus dalam kompetisi ini. Tiga orang dewan juri yang memberi penilaian disebut wasit. Wasit yang dipercayai untuk LBPK 2017 ini adalah Benny Sumarna, Indra Nara Persada, dan Ibrahim Ilyas.
Babak penyisihan dilakukan sebanyak dua tahap, yakni pada tanggal 1 Juni sampai dengan 20 Agustus 2017 dan 8 September 2017. Babak semifinal berlangsung pada keesokan harinya di tempat yang sama, sekretariat Komunitas Seni nan Tumpah. Babak final dilangsungkan dalam penyelenggaraan Pekan Seni nan Tumpah. Selama lima hari berturut-turut sejak tanggal 24 sampai dengan 28 September satu orang peserta yang lolos ke babak final akan membacakan puisi sebelum acara inti berlangsung. Riza Fadli sebagai peserta yang tampil di hari pertama (24/9), diikuti Diahayu R. Atmaja keesokan harinya, kemudian Melly Septia, Rahmat Hidayat, dan Deni Saputra.
Para wasit akan memilih satu orang pemenang yang paling kreatif membacakan puisi pilihannya serta penafsiran peserta terhadap puisi. Di samping itu penonton juga berhak menentukan pilihan pemenangnya dengan cara voting untuk tiap peserta. Pemenang pilihan wasit akan mendapatkan hadiah sebesar empat juta rupiah, pemenang pilihan penonton akan mendapatkan hadiah sebesar empat juta rupiah juga, dan tiga peserta lainnya masing-masing sebesar lima ratus ribu rupiah. Setiap malam usai pertunjukan para penonton memasukkan tiket ke dalam kotak yang disediakan panitia apabila menyukai persembahan puisi dari peserta.
Setelah menghadapi diskusi yang cukup alot, para wasit akhirnya berhasil memutuskan satu orang pemenang pilihan mereka. Nama Deni Saputra keluar sebagai pemenang pilihan wasit dan Rahmat Hidayat sebagai pilihan penonton dengan jumlah voting terbanyak.
Deni Saputra adalah seorang mahasiswa Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang. Deni dikenal sebagai seorang yang giat mengikuti kompetisi baik tingkat provinsi maupun nasional. Lomba pembacaan puisi bukan yang pertama kali diikutinya, namun untuk LBPK ini adalah pengalaman pertama bagi Deni. Saat diajak berbincang mengenai latihan yang dilakukannya, Deni mengaku setiap hari selalu mengolah tubuhnya. “Mengenal diri sendiri adalah hal paling utama. Saya tahu tubuh saya besar dan jika orang bertubuh besar seperti saya mampu untuk bergerak lincah di panggung, itu akan menjadi nilai tambahan,” ujarnya dengan penuh percaya diri dan tawa tersipu.
Lain hal dengan Rahmat Hidayat, seniman dari Sanggar Seni Binuang Sakti Lubuk Alung. Pemenang pilihan penonton ini punya trik lain untuk bisa mementaskan puisi pertunjukannya dengan menarik. “Bagi saya, properti adalah hal yang sangat penting. Ini yang membuatnya berbeda dari musikalisasi puisi atau pembacaan puisi pada umumnya. Selain properti tentu saja aspek musik serta vokal menjadi hal yang tak kalah penting,” demikian penjelasan Rahmat saat diwawancarai.
Bagi tiga orang peserta lain; Riza, Diah, dan Melly, kekalahan menjadi semangat bagi mereka untuk dapat berlatih lebih giat lagi. “Kemenangan memang pantas didapatkan untuk yang berkualitas,” ujar Riza dengan sportifnya sembari menjabat Deni. Seluruh peserta babak semifinal terlihat juga hadir pada malam pembacaan pemenang sekaligus penutupan Pekan Seni nan Tumpah tersebut. Berdasarkan perbincangan ringan dengan mereka, semuanya sangat senang dapat menjadi peserta LBPK. Mereka mendapatkan banyak teman baru, serta pengalaman membawakan puisi yang kreatif selain dengan dramatisasi puisi, musikalisasi puisi, atau deklamasi puisi.
Sejak tahun 1980-an, membaca puisi dinilai sebagai kerja baru dalam seni. Pembacaan puisi sudah sama halnya dengan melukis, memahat, menari, bernyanyi, atau bahkan berteater. Artinya, pembacaan puisi sudah masuk ke dalam ranah seni pertunjukan. Jika selama ini puisi dibawakan dengan dramatisasi, musikalisasi, atau deklamasi, LBPK menggabungkannya demi pengoptimalisasian pembacaan puisi.
Namun tentu masih ada catatan dari wasit mengenai LBPK ini. Para peserta belum menggunakan kemajuan teknologi dan media sosial, peserta masih terjebak dengan pembacaan puisi verbal, dan unsur-unsur visual belum terpadu dengan baik. Penilaian kreativitas menjadi berkurang, padahal aspek inilah yang menjadi persentase paling besar. Meskipun masih memiliki catatan, LBPK telah menjadi langkah awal dalam mengubah teks sastra menjadi sebuah pertunjukan yang disebut juga dengan visualisasi sastra. Para wasit juga merekomendasikan Komunitas Seni nan Tumpah untuk terus melanjutkan upaya ini di masa mendatang agar puisi dapat dibawakan semakin kreatif ke depannya.
“Liga Baca Puisi Kreatif rencananya akan diadakan dua tahun lagi, 2019, tepat dengan helat Pekan nan Tumpah ke-V. Semoga akan semakin banyak pembaca puisi kreatif yang lahir dari kegiatan ini. Dan semoga kami dari Komunitas Seni nan Tumpah mampu memanajemen festival seni ini selanjutnya dengan baik,” demikian harapan ketua pelaksana sekaligus ketua Komunitas Seni nan Tumpah, Mahatma Muhammad, pada malam penutupan Pekan nan Tumpah ke-IV (29/9). “Selamat untuk para pemenang,” tutupnya.*
Padangpanjang, 30 September 2017

Leave a Reply