Bagikan!

Oleh Maya Sandita

Musik etnik Indonesia memiliki keanegaraman yang luar biasa. Mulai dari Sabang sampai Merauke masing-masing daerah memiliki alat musik tradisi. Seperti yang digunakan oleh kelompok musik tradisi Balega Padangpanjang di hari keempat perayaan Pekan nan Tumpah 2017 (26/9). Balega memainkan alat musik daerah, beberapa di antaranya adalah alat musik perkusi dari bali yakni Rindik, kecapi dari Jawa  Barat, taganing dari Sumatera Utara, dan talempong dari Sumatera Barat.

Kelompok musik tradisi Balega yang dibina oleh Admiral, salah seorang dosen Prodi Seni Karawitan Institut Seni Indonesia Padangpanjang ini, memang mengusung isu keberagaman etnik dalam menciptakan karya. Admiral dan Balega-nya mengaransemen beberapa musik dari berbagai daerah menjadi sebuah komposisi musik yang menarik. Dalam rangkaian acara Pekan Nan Tumpah ini, Balega membawakan 4 buah repertoar musik yang tetap mengusung keberagaman etnik.

Karya pertama berjudul “Kesetaraan Manusia” yang dikomposisi oleh Ibrahim Lubis. Berdasarkan keterangan Bustanul Arifin, salahsatu personil Balega, “Karya ini merupakan kisah seorang anak yang memiliki kemampuan melihat makhluk gaib tak kasat mata. Lewat pengalamannya, anak tersebut dapat memahami bahwa manusia diciptakan setara.”

Karya kedua Balega mengaransemen ulang lagu nasional Ibu Pertiwi dengan alat musik tradisi ditambah dengan vokal perempuan. Karya ini memperdengarkan kepada penonton bahwa lagu nasional pun bisa dibuat menjadi lebih menarik dengan aransemen etnik. Karya ketiga menjadi karya yang memiliki nilai sejarah bagi Admiral yang bersuku minang dan istrinya yang berasal dadi suku bali. Agung Hero Hernanda, anak dari keduanya, membuat komposisi musik yang menggabungkan musik etnik minang dan bali. Karya Hero ini berjudul “Suku dan Aku”. “Selain dipersembahkan untuk kedua orang tuanya, karya ini juga dibuat sebagai rasa simpati pada saudara kita yang baru saja terkena musibah di Bali,” imbuh Bustanul.

“Tanah Cinta” menjadi karya keempat dan terakhir dalam pementasan Balega malam itu. Penampilan kali ini mengikutsertakan seorang warna negara asing yang membacakan lirik lagu menjadi puisi. Terdengar ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Penonton sangat bersemangat saat ia mengucapkan, “Selamat datang di negeriku Indonesia.”

Balega yang didirikan padq tahun 2012 ini telah mengikuti berbagai iven besar yakni Brave Musik Festival di Polandia (2014), Pasa Harau Festival di Payakumbuh (2016), pelatihan seni dan budaya minangkabau di Cina (2013) dan Belanda (2014). Meskipun telah memiliki nama yang cukup besar di dunia kesenian, proses latihan yang dilakukan Balega khusus untuk Pekan nan Tumpah ini dilakukan dengan serius dan berlangsung setiap dua kali seminggu selama tiga bulan. Hasil latihan yang mereka lakukan berbuah dengan betahnya penonton di dalam gedung teater utama taman  budaya Padang selama hampir dua jam demi menyaksikan persembahan istimewa Balega dalam acara besar Pekan Nan Tumpah.*

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *