Bagikan!

Catatan Pertunjukan Sherlilab di Pekan Nan Tumpah 2017

Oleh Rio Rinaldi

Sebagai rekonstruksi fakta literer, berita di media massa misalnya, orientasi karya koreografi “Memoir” dan “Huhh..Hahh..Hihh” dilukiskan ke dalam bentuk pemanfaatan tubuh dan gerak sebagai bentukdialogis, antara subjek dengan subjek lainnya. Melalui citra, hasil pengolahan tubuh dan gerak telah menjadi simbol yang memberikan makna dan tafsiran tersendiri. Unsur material yang dimanfaatkan sebagai motif, mitos, dan sedimentasi kultural yang terjadi di masyarakat merupakan memori, prototype realitas objektif, yang dapat diidentifikasi secara kontemporer.

Menarik! Di hari keenam Pekan Nan Tumpah 2017, kelompok tari kontemporer, Sherlilab, dibawah pimpinan Sherli Novalinda, menyajikan dua tari kontemporer dengan tema-tema yang berorientasi kepada kaleidoskop masa lampau dan sikap kritik terhadap kondisi masyarakat yang telah terkontaminasi oleh produk-produk yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan manusia. Tari dengan judul “Memoir” dimainkan oleh dua orang penari yang mencitrakan bagaimana kegelisahan atau ekspresi mental orang-orang pada masa silam dengan persoalannya masing-masing: tradisi, hegemoni, dan lain sebagainya. Karya tari ini merupakan trilogi kedua setelah “Menitik Jejak” berhasil dilahirkan berdasarkan hasil riset autoetnografi. Tidak banyak unsur bunyi dengan berbasis alat digunakan. Penonton diajak untuk lebih fokus kepada gerak yang direpresentasikan. Unsur cahaya yang digunakan turut mendukung kondisi persoalan yang dimaksudkan.

Pada tari kedua, “Huhh..Hahh..Hihh”, merupakan refleksi kehidupan manusia yang terkepung oleh zat-zat aditif dan zat kimia lainnya yang terdapat hampir pada semua zat makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Akibatnya, kondisi fisiologi dan psikologi masyarakat saat ini menjadi terganggu, cacat fisik atau mental. Hasil resepsi dan dasar bagi koreografer Sherli Novalinda menciptakan karya “Huhh..Hahh..Hihh” menganggap bahwa ketahanan bangsa ini sedang diuji dan dihadapkan pada persoalan kronis, teror pada apa yang dimakan dan diminum oleh manusia.

Sudah banyak generasi bangsa ini atau masyarakat pada umumnya yang terkontaminasi baik fisik maupun psikis. Parahnya lagi, saat ini, zat berbahaya sekalipun telah bebas beredar dalam bentuk dan kemasan apapun, yang berdampak amat buruk terhadap kondisi fisik dan psikis mereka. Zat-zat itu dapat merusak otak dan mengganggu kecerdasan intelektualnya. Baru-baru ini, di sebagian daerah di Indonesia, masyarakat dihebohkan dengan makanan, seperti permen yang mengandung zat berbahaya yang dapat mengganggu kondisi kejiwaan manusia. Belum lagi beredarnya oleh pil PCC yang juga bersifat demikian. Kondisi semacam ini tentu menggelisahkan.

Kehadiran seorang anak di atas panggung mengisyaratkan bahwa mereka adalah korban yang paling rentan terhadap gejala semacam ini. Kemudian diikuti dengan tokoh dewasa yang juga rentan terhadap zat berbahaya tersebut, seperti produk tani (sayur-sayuran yang terkontaminasi pestisida), produk kemasan, dan lain sebagainya. Oleh adanya persoalan semacam itu, saya berpendapat, kesenian adalah jalan keluar. Sherlilab memilih agresi melalui kesenian. Setidaknya, seluruh orang yang pernah menyaksikan pertunjukan tari malam itu telah dibaptis untuk sadar dan berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebagai rekonstruksi struktur naratif, citra primordial semacam ini lahir melalui paradigma yang sedang berlangsung, sebagai abstraksi struktur mental suatu kelompok. Sebagaimana yang pernah dimaksudkan oleh Mannheim, bahwa pengalaman paragdimatis sebagai pengalaman dasar, pengalaman yang memungkinkan subjek kreator untuk menjelaskan eksistensi dan pergeseran kecenderungan mental kelompok tertentu. Pengalaman paradigmatis dapat menjadi dasar dan mengisyaratkan ciri depsikologisasi, despiritualisasi, dan depersonalisasi, dan termasuk citra primordial dan arketipe, yang pada umumnya diakibatkan oleh mobilitas masyarakat modern. Kerja seniman menempati posisi yang tepat untuk mengungkap persoalan ini ke dalam bentuk visual.

Subjek kreator berfungsi untuk menampilkan citra tubuh dan gerak dalam menghidupkan suatu wacana. Subjek kreator, dalam hal ini koreografer, bertugas untuk memperjelas artikulasi sehingga terjadi koherensi antara karya seni dengan latar belakang sosialnya, khususnya latar belakang produksi tari yang disajikan oleh Sherlilab malam itu. Kedua tari yang multidimensi itu, yang disajikan di malam keenam Pekan Nan Tumpah 2017, telah memberikan pelajaran yang berharga kepada masyarakat, baik tentang perenungan masa lalu dan atau juga soal gejala efek fisiologis dan psikologis yag didapatkan dari makanan dan minuman. Dengan demikian, peran seniman telah berjalan sebagaimana mestinya. Kelompok tari Sherlilab telah memberikan makna baru atau justru sebagai prototype, terhadap fakta sosial.

Padang, 1 Oktober 2017

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *