Bagikan!

Catatan Pameran “Perkawinan Akal” pada Pekan Nan Tumpah 2017

Oleh Maulana Ahlan M. Nur

(Pernah diterbitkan di Haluan, 2017)

Pengalaman sehari-hari atau sering disebut pengalaman empiris merupakan kunci utama untuk merangsang seseorang dalam berkarya. Pengalaman empiris akan menciptakan berbagai persaan seperti senang, sedih, marah, benci, dan lain-lain. Perasaan yang tercipta dari pengalaman empiris tersebut tidak serta-merta langsung kita aplikasikan dalam berkarya tetapi, kita juga perlu memikirkan karya seperti apa yang akan dihadirkan dari pengalaman tersebut. Bentuk karya dipengaruhi oleh ilmu yang didalami. Ilmu yang terus dipelajari akan mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik.

Pengarya memiliki perkembangan bentuk karya dari waktu ke waktu. Perkembangan itu akan mengahasilkan sebuah identitas bagi pengarya itu sendiri. Identitas tersebut terus diasah dengan merasakan. Dengan mengolah unsur dan prinsip rupa, menjadikan sebuah Perkawinan Akal di mana perasaan itu adalah hasil akhir yang didapat proses mencipta. Dari hasil akhir yang didapat menjadikan banyak pilihan figur-figur yang menarik untuk di mainkan secara emosional,” kata Randy Otonk di sela pamerannya pada Festival Pekan Nan Tumpah.

Perkawinan Akal hadir dengan niat untuk menyatukan ilmu rupa dengan pengalaman empiris, pengalaman empiris di sini ialah pengalaman empiris milik Randy Otonk sendiri, di mana ia mengolah emosi atas rasa ingin menjadi lebih baik. Randy otonk, sebagai seorang perupa, menggabungkan identitasnya dengan pengalaman pengalaman-pengalaman empiris yang telah ia dapat. Penggabungan inilah yang kemudian ia sebut sebagai “perkawinan akal”, di mana perkawinan bermakna bersatunya dua hal.

Dalam Perkawinan Akal, Randy Otonk melakukan penggabungan antara perasaan dari pengalaman empirisnya dengan ilmu yang telah ia peroleh. Ilmu tersebut berupa pengetahuan-pengetahuan tentang seni rupa. Pengetahuan seni rupa perupa menjadikan karya berupa lukis dan patung, dengan berbagai figur-figur. Figur-figur itu diolah sedemikian rupa seusai dengan identitas perupa itu sendiri. Randy otonk sering menyebut pengolahan ini sebagai “bermain”. Bermain mengolah emosi atas pengalaman empiris dengan ilmu rupa.

“Sebuah pemikiran tentang apa saja yang ada dalam pengal- aman empiris saya, kemudian saya satu padukan menjadi sebuah rangsangan untuk perasaan. Dari pengalaman-pengalaman itu, terjadi hasil perenungan untuk pengalamannya, kemudian megawinkannya dengan ilmu rupa yang dia dapat selama ini. Perkawninan ini kemudian menghadirkan figur-figur untuk dimainkan pada karyanya. Figur-figur ini tentu saja mewakili identitas seorang Randy Otonk. (*)

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *