Catatan Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah pada Pekan Nan Tumpah 2015
Oleh Alizar Tanjung
(Pernah diterbitkan di Metro Andalas, 30 Desember 2015)
Pertunjukan Komunitas Seni Nan Tumpah pada hari kedua Festival Seni Pertunjukan Pekan Nan Tumpah 2015.
“Aku Lelah.” “Aku pun lelah.” “Lalu mengapa tidak kita akhiri saja pertengkaran ini?” “Jadi kau masih menganggap bahwa aku yang ingin bertengkar?” “Itu hal yang tidak perlu didebat lagi.” “Selama ini aku selalu memberikan apa maumu.” “Aku tidak tahu ke man arah pembicaraanmu.” “Memang, begitu mudah bagi seorang laki-laki untuk melupakan janji yang ia buat sendiri.”
Demikian salah satu cuplikan dialog dalam Lomba Keharmonisan Rumah Tangga.
***
Membawakan kisah-kisah sederhana di dalam keluarga ke atas panggung dengan pemain yang hanya empat orang dengan durasi 1 jam 30 menit merupakan pekerjaan yang rumit dan membosankan. Namun hal itu tidak berlaku dengan pementasan Lomba Keharmonisan Rumah Tangga naskah Karta Kusumah yang disutradarai Andre Pratama yang dibawakan pada hari kedua Festival Seni Pertunjukan Pekan Nan Tumpah 2015 di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Rabu, 23 Desember 2015.
Sutradara mengerti betul dengan cermat bagaimana mementaskan naskah ini dengan harmonis di atas panggung dengan pemain yang sedikit dan properti yang sedikit. Properti terdiri dari satu tangga yang digantung di atas langit-langit panggung, tepat di tengah-tengah. Dua frame atau bingkai di gantung di sisi, kiri dan sisi kanan panggung. Frame lebih mengibaratkan seperti dua jendela yang terdiri dari dua rumah, menghadap ke penonton. Susunan-susunan matras yang terdiri dari papan-papan jarang, menyerupai kubus satu pintu, disusun sedemikian rupa, sehingga mudah digeser-geser dan diubah fungsi menjadi multifungsi. Adakala matras itu berfungsi sebagai kursi, ada- kala berfungsi sebagai lemari, adakala berfungsi sebagai meja, adakala berfungsi sebagai tempat tidur, adakala berfungsi sebagai televisi dengan tontonan favorit Popeye dan Doraemon.
Kerumitan properti berhasil diurai dengan amat baik di atas panggung. Penonton dapat dengan mudah menangkap perubahan fungsi properti dari satu fungsi ke fungsi berikutnya ketika properti harus dipindah-pindahkan oleh pemain. Perpindahan properti di tangan pemain menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan pertunjukan ini.
Perpindahan properti-properti dilakukan sembari berlangsungnya pertengkaran- pertengkaran kecil di dua rumah tangga yang berbeda. Layaknya sepasang suami istri yang melakukan beres-beres di rumah sebelum berangkat kerja ataupun sepulang kerja sembari bertengkar. Pertunjukan yang unik, mengundang tawa sekaligus sedih para penonton.
Pertunjukan dimulai. Lighting menyala. Lampu lighting mengarah ke dua buah rumah. Masing-masing rumah dihunyi oleh sepasang suami istri. Katakanlah keluarga muda yang setiap hari tidak lepas dari pertengkaran-pertengkaran kecil yang disebabkan oleh hal-hal kecil. Pertengkaran pertengkaran kecil itu seperti terlambat pulang kerja, kenapa sambal ini terlalu asin, perhatian yang mulai berkurang. Goda-godaan semasa belum menikah sudah tidak ada lagi. Di sisi kiri panggung seorang laki-laki, sang suami (diperankan oleh Fajry Chaniago mengangkangi istrinya (diperankan oleh Yunisa Dwiranda yang sedang mematung dalam keadaan tidur. Di tangannya sebilah tembilang menghempas matras setiap sebentar. Di sisi kanan panggung seorang istri (diperankan Desi Fitriana) mengitari suaminya (diperankan oleh Tenku Raja Ganesha) yang mematung setengah telanjang. Di tangan sang istri sebuah cambuk siap kapan saja merobek-robek daging sang suami. Lighting dimatikan, kemudian dihidupkan kembali. Kehidupan normal dimulai. Dua keluarga memulai pertengkaran-pertengkaran kecil yang mengundang tawa sekaligus mengundang sedih.
Penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan kelakuan dua pasang keluarga. Mereka saling bertengkar tetapi saling memerhatikan. Mereka saling membawakan air minuman untuk pasangan masing-masing tetapi pertengkaran tetap berlanjut. Sang Istri memasangkan dasi, pertengkaran masih saja berlanjut sembari memasangkan dasi. Sang istri membukakan kancing-kancing baju suami, sepatu, pertengkaran masih saja berlanjut. Sang istri, sang suami, saling diam, saling bicara lagi, dan mempertengkarkan siapa yang memulai diam erlebih dahulu. Kemudian saling mendamaikan dan saling bertengkar lagi. Begitu setiap hari.
Mereka sudah lima tahun berkeluarga. Dan sudah lima tahun pula mereka merawat pertengkaran-pertengkaran kecil. Kemudian memutuskan bercerai. Sebelum bercerai muncul ide untuk saling mengikuti Lomba Keharmonisan Rumah Tangga.
Namun akhirnya pilihannya lomba tidak lagi menjadi penting. Rahasia-rahasia keluarga tidak untuk dipertontonkan di depan umum dalam bentuk perlombaan. Biarlah rahasia keluarga hanya untuk di dalam rumah. Rahasia keluarga tidak boleh berpindah walau hanya satu meter dari pintu rumah. Karena pertengkaran itu memang harus ada dalam setiap keharmonisan keluarga.
Bagaimana mungkin keluarga tanpa pertengkaran? Apa jadinya keluarga kalau yang ada di dalamnya hanyalah penghuni yang tanpa pertengkaran sama sekali? Tentu akan sangat berbeda rasa keharmonisan keluarga yang memelihara pertengkaran-pertengkaran kecil di dalam rumah daripada keluarga-keluarga yang sama sekali tidak ada pertengkaran. Kesem- purnaan karena ada kekurangan. Cukup nikmati saja pertengkaran-pertengkaran itu sembari minum kopi di beranda atau sembari menonton televisi, bahkan sembari menyiapkan sarapan pagi suami, sembari memberikan kecupan di kening. Sembari memeluk pasangan. dari belakang.
Lomba Keharmonisan Rumah Tangga benar-benar pertunjukan yang menggemaskan. Pertengkaran-pertengkaran kecil yang menggemaskan di rumah tangga dikemas dengan sedemikian rapinya. Sehingga pertengkaran-pertengkaran itu hadir dengan sangat alami, penyebab-penyebabnya sangat-sangat sederhana dan hal-hal kecil. Pertunjukan Lomba Keharmonisan Rumah Tangga hadir sebagai bentuk sentilan kepada kepada keluarga-keluarga muda. Lihat betapa begitu romantisnya pertengkaran di dalam rumah. Betapa kita begitu tersindir dengan kebiasaan-kebiasaan yang disukai pasangan yang sudah kita lupakan. Akhirnya penonton membawa pulang dirinya sendiri ke rumah masing-masing dengan pertengkaran- pertengkaran kecil di dalam kepala yang barangkali selama ini memang ada dalan kehidupan mereka. [*]

Leave a Reply