Oleh Ganda Cipta
(Pernah diterbitkan di Padang Ekspres, 27 Desember 2015)
Di Sumbar, tidak banyak grup atau komunitas seni pertunjukan yang memiliki festival sendiri dan berjalan secara konsisten. Salah satunya adalah Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT). Seperti apakah.
SABAN malam, 22 hingga 26 Desember, Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumbar, selalu ramai. Di situ digelar sejumlah seni pertunjukkan: Ada musik, tari, dan teater.
Pada malam pertama, tampil Seruni Music Orchestra dengan konduktor Yensharti dan Firnando Sabetra. Malam berikutnya, tampil KSNT dengan karya teater yang berjudul Lomba Keharmonisan Rumah Tangga yang diangkat dari naskah Karta Kusumah dengan sutradara Andre Pratama.
Kamis malam, dengan dua komposisi tari berjudul Galuik 2 dan Galiek dari Komunitas Tari Galang dengan koreografer Deslenda Puti Alam Suri. Selanjutnya, grup Imaji, Rumah Drama dan Penulisan Kreatif yang berkolaborasi dengan Sanggar Seni Dayung-dayung menampilkan Dendang Lain Waktu, sebuah karya teater, disutradarai Muhammad Ibrahim Ilyas, Jumat malam (25/ 12). Pada hari terakhir, gedung itu diisi dengan pementasan teater dari Teater Sakata. Disutradarai Tya Setiawati, grup asal Padangpanjang ini menampilkan pertunjukan dengan judul Carito di Bukik Tui.
Selama lima malam, tampil enam grup dengan lima pertunjukan di gedung tersebut. Itu sebuah festival yang digarap oleh anak-anak muda yang berada di bawah payung KSNT. Namanya Pekan Nan Tumpah.
Iven itu merupakan festival seni pertunjukan dua tahunan. Pada tahun ini adalah pagelaran yang ketiga, sejak 2011. Pekan Nan Tumpah lahir dari rasa kecewa anggota-anggota KSNT. Mereka kecewa dengan festival seni pertunjukan yang memilikik banyak batasan, tidak memberi ruang kebebasan. Seperti, adanya batasan main yang harus 45 menit atau setengah jam.
“Dari kekecewaan itu, Nan Tumpah ingin mengelola festivalnya sendiri, yang mana bisa memberi ruang lebih banyak,” kata Mahatma Muhammad, pimpinan dan salah satu pendiri KSNT, kepada Padang Ekspres, Kamis malam (24/12).
Dua tahun berselang, barulah berganti dengan Pekan Nan Tumpah. Formatnya pun sedikit berubah dengan mengundang grup seni pertunjukan lain. Ada empat pertunjukan teater, dua pertunjukan tari dan dua pertunjukan musikalisasi puisi ketika itu.
Bagi KSNT, menggelar iven dengan enam grup selama empat malam adalah sebuah kenekatan. Pasalnya, komunitas yang berdiri 10 Oktober 2010 itu hanya memiliki uang Rp 3 juta. Jelas, uang sebanyak itu, untuk sewa gedung saja belumlah cukup.
“Kami main ‘bagak’ sajak saat itu. Kami datang ke Taman Budaya Sumbar, memakai gedung dengan pembayaran lewat pembagian penjualan tiket. Kepada grup yang tampil, kami tidak memberi apa-apa. Cuma kami juga berbagi penjualan tiket,” terang Mahatma Muhammad.
Dengan berbagai upaya, seperti memanfaatkan media sosial, sebar brosur di titik-titik keramaian, hingga turun ke pasar dengan membuat pantomim, mereka hanya berhasil mendapat 200-250 penonton setiap harinya. Ini jauh dari ekspektasi. Yakni minimal 300 penonton, dengan harga tiket Rp 15 ribu. Tapi, yang menggembirakan adalah banyak penonton-penonton baru.
Belajar dari 2013 itu, tahun ini, Nan Tumpah coba memprogram Pekan Nan Tumpah dalam waktu yang cukup panjang. Ada target mereka untuk membangun produksi yang lebih matang. Tapi tetap saja, kendalanya keuangan lagi. Kepada grup-grup yang diundang tampil, mereka berjujur-jujur, kalau grup-grup itu bisa ikut serta seperti pelaksanaan 2013, maka akan jalan. Kalau tidak mereka cari grup yang lainnya.
Pada iven kali ini, lebih dilihat kepada militansi grup yang diundang dalam proses berkeseniannya.
Beruntung, pada November lalu, KSNT dapat tawaran dari Direktorat Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk dana produksi satu pertunjukan. Dananya cukup banyak. Dalam artian, lebih dari kebutuhan Nan Tumpah, yang biasanya dalam satu produksi hanya butuh Rp 3-5 juta. Kelebihan itulah yang akhirnya digunakan untuk membantu dana produksi grup-grup lain yang tampil di Pekan Nan Tumpah, serta membiaya kegiatan Pekan Nan Tumpah itu sendiri.
Penghargaan pada Karya
Ketika digali ke dalam, para anggota Nan Tumpah memiliki keyakinan bahwasanya satu grup itu harus punya manajemen yang kuat dari produksi dan artistik. Nah kerja produksi KSNT, untuk pementasan tunggal mereka, sejauh ini dapat dikatakan sudah berhasil menjaga ritme penonton. Sejak memberlakukan sitem penjualan tiket pada 2012, hingga pementasan terakhir mereka yang berjudul Nilam Binti Malin di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumbar 2014, KSNT berhasil mendapat penonton sampai 500 orang lebih dalam setiap pementasan.
Nah Pekan Nan Tumpah, bagi bagian produksi di KSNT adalah ujian tingkat lanjut. Apakah sanggup untuk mengelola sebuah iven, di mana tidak hanya ada Nan Tumpah tapi juga melibatkan grup-grup lainnya.
“Ruang produksi itulah sebenarnya yang menguatkan Nan Tumpah yang bisa bertahan menggelar Pekan Nan Tumpah hingga kini. Dari sini kami ingin, tetap menjaga stabilitas penonton yang mulai sadar ada ruang kesenian semacam ini,” sebut Mahatma.
Bagi Nan Tumpah negosiasi dengan pasar dalam arti mencari dan menjemput penonton adalah sesuatu yang sangat penting yang ditanamkan sejak awal. Itu lah yang coba dipertahankan.
Makanya, sejak pertama kali Nan Tumpah memakai sistem penjualan tiket, grup ini coba untuk selalu menaikkan standar harganya. Sehingga ada penghargaan dari luar, ada kerja keras untuk menjemput bola.
Untuk Pekan Nan Tumpah tahun ini, harga tiket Rp 20 ribu. Ini tantangan bagi bagian produksi KSNT untuk menaklukkan orang-orang atau calon-calon penonton yang tidak biasa melihat hal-hal seperti ini dengan mengeluarkan uang sebanyak itu.
Tentu saja, tekan Mahatma, hal ini diiringi dengan kesadaran, untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan, kerja artistik atau kualitas karya. Terkait kurasi, selain melihat proses dari grup, bagian produksi KSNT juga melihat grup yang diundang dari massa yang mereka miliki.
“Prinsipnya, kami ingin menjaga penghargaan kepada karya dan kesadaran dari pelaku untuk menjemput bola (penonton, red),” tuturnya.
Sebenarnya, Pekan Nan Tumpah dapat menjadi sebuah festival yang mampu menghadirkan sejumlah capaian artistik seni pertunjukan di Sumbar. Demikian kata pengamat seni dan budaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Sudarmoko. Tentu diikuti dengan kurasi yang baik, dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Festival yang dapat bertahan lama di Sumbar tidak banyak. Tentu banyak masalah di belakang festival itu, baik dari sisi finansial, kondisi berkesenian, infrastruktur kesenian, capaian artistik, proses kreatif, hingga kemauan dan kesabaran para seniman sendiri. “Pekan Nan Tumpah, jika ingin bertahan lama, tentu harus memikirkan itu,” ungkap lelaki Sudarmoko.
Bagi Nan Tumpah, selain menjadi penyelenggara, tak kalah penting adalah manfaat dan tujuan festival. “Sebaiknya tidak hanya sekadar menjadi acara reguler dan mengisi program, tetapi Pekan Nan Tumpah harus menjadi ruang bagi refleksi dari pengkajian, sejauh mana capaian seni pertunjukan telah dilalui, oleh peserta yang berpartisipasi,” ujar Koko
Festival ini, sebaiknya diikuti juga membicarakan isu-isu penting dalam seni pertunjukan, membangun jaringan dan manajemen yang lebih kuat, menggali potensi sumber penciptaan, dan kemungkinan lain misalnya merancang festival Pekan Nan Tumpah yang tematik, dalam menjawab masalah dan tantangan yang ada di sekitarnya.
Sutradara teater Muhammad Ibrahim Ilyas menilai, semangat dan kebersamaan yang ada pada Nan umpah patut diapresiasi. Dia sendiri, dengan grupnya ikut berpartisipasi dalam Pekan Nan Tumpah tak lepas dari semangat dan kebersamaan yang ada pada KSNT.
Lebih jauh pimpinan Imaji, Rumah Drama dan Penulisan Kreatif itu mengingatkan, dalam usianya yang sudah lima tahun ini, KSNT harus kembali berhitung, paling tidak, apakah grup ini akan ada dalam lima tahun ke depan. Kalau ada berpikir demikian, KSNT harus buat proyeksi.
Sebagai satu grup kesenian yang independen, KSNT adalah grup yang cukup produktif. Sejak berdiri lima tahun lalu grup ini sudah memproduksi 44 karya.
Dalam prinsipnya berkomunitas grup ini sangat menjaga rasa memiliki dan kebersamaan dari anggotanya dalam satu kerja kesenian yang kolektif. Mereka menanamkan, kalau bagian artistikatau produksi, punya status yang sama. Mereka penting dan bahkan mereka juga tidak penting. Dalam hal ini lebih besar nama grup dari pada personal yang ada di dalamnya.
Ini mereka tunjukan dari hal-hal yang mungkin sering dianggap sepele oleh sejumlah grup atau komunitas seni lainnya. Misalnya, dalam setiap hasil produksi, mereka tidak menyatakan itu sebuah karya individu tapi karya kolektiv atas nama KSNT. Sehingga setiap yang terlibat dalam produksi Nan Tumpah merasa itu karya Nan Tumpah dan mereka merasa bagian dari itu.
Pada prinsipnya pula, kata Mahatma Muhammad, cita-cita terbesar dia dan kawan-kawannya di Nan Tumpah adalah menjadikan grup atau komunitas ini sebagai grup atau komunitas profesional yang mampu menghidupkan anggotanya.
“Kami ingin grup ini seperti klub sepak bola. Mungkin kami punya atau melahirkan individu-individu yang memiliki nama besar. Tapi, individu-individu itu tidak lebih besar dari grup sendiri. Kami ingin, grup ini ada seratus tahun lagi, dana menghidupi anggota dengan profesional, yang mungkin bukan anak cucu kami kelak akan mengurusnya,” sebutnya
Kesenian bagi Nan Tumpah adalah proses penciptaan ruang, pencarian jati diri untuk kebersamaan. Dan bagi efek pertunjukan bagi kami adalah sebuah perayaan dari proses yang panjang. (***)

Leave a Reply