Bagikan!

Festival Seni dari Dapur Komunitas Seni Nan Tumpah

Oleh Alizar Tanjung

(Pernah diterbitkan di Padang Ekspres, 22 Desember 2015)

PEKAN ini Komunitas Seni Nan Tumpah kembali mengangkatkan Festival seni pertunjukan dwi tahunan yang ke-3. Pekan Nan Tumpah 2015 diselenggarakan pada tanggal 22 Desember – 26 Desember 2015, bertempat di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat. Jadwal pertunjukan tiap harinya dimulai pukul 20.00 WIB.

Pekan Nan Tumpah 2015 dibuka oleh Kelompok Orkestra Seruni dari Universitas Negeri Padang dengan 10 komposisi musik orkestra. Hari kedua, tampil Komunitas Seni Nan Tumpah dengan lakon Lomba Keharmonisan Rumah Tangga, naskah Karta Kusumah, sutradara Andre Pratama. Dua nomor tari kontemporer yang berjudul Galuik, 2 & Galiek dari Komunitas Tari Galang, koreografer Deslenda, penata musik Susandra Jaya, penata artistik Mahatma Muhammad, mengisi hari ketiga. Hari keempat dihadirkan kolaborasi teater dan musikal dari Imaji, Rumah Drama & Penulisan Kreatif dengan Sanggar Seni Dayung-Dayung pimpinan Yudhistira yang membawa repertoar berjudul Dendang Lain Waktu, naskah sutradara Muhammad Ibrahim Ilyas. Terakhir, Carito di Bukik Tui naskah/sutradara Tya Setyawati dari Teater Sakata Padang Panjang, menutup rangkaian acara festival seni pertunjukan ini.

Dua tahun yang lalu saya berbagi cerita dengan budayawan asal Sumatera Barat, Abel Tasman, tentang persoalan kesenian. Abel Tasman melontarkan, “Kesenian itu adalah kebutuhan tertinggi manusia. Kesenian hanya akan berjalan dengan baik setelah urusan finansial selesai.” Lama sekali saya merenung-renungkan relevansi antara kesenian dan finansial.

Kesenian adalah hasil karya tertinggi manusia dengan memanfaatkan daya nalar akal, intuisi, pikiran dan hati. Kesenian hadir untukmelengkapi kebutuhan tertinggi manusia. Manusia butuh keindahan. Manusia butuh renungan. Manusia butuh sesuatu yang membuat dia merasa takjub. Manusia suka terhadap sesuatu yang mengagumkan.

Sedangkan finansial adalah suatu wilayah yang berbeda. Finansial adalah wilayah persoalan bagaimana mengamankan keberlangsungan hidup. Finansial adalah wilayah di mana manusia harus aman untuk hari ini, esok, dan lusa. Analisis saya merujuk kepada sebuah kesimpulan bahwa secara finansial penghuni kota Padang, secara umum dapat dikatakan sudah selesai secara finansial.

Pertanyaan saya berlanjut kepada sebuah fakta yang pelik. Kalau urusan finansial sudah selesai kenapa festival-festival kesenian di kota Padang beberapa tahun belakangan sangat sepi. Hanya beberapa festival tertentu yang cukup ramai. Salah satunya festival yang diangkat oleh Komunitas Seni Nan Tumpah. Padahal penonton cukup merogoh saku 10 ribu rupiah untuk membeli tiket. Bahkan terkadang festival lebih banyak digratiskan.

Belajar dari Ubud Writers yang rutin dilakukan setiap tahunnya di Bali, Salihara Biennale di Jakarta, Festival Pekan Nan Tumpah di Padang, bahwa para pekerja kesenian sudah semestinya memikirkan dan mengaplikasikan manajemen khusus yang mengelola kesenian secara profesional. Pengelola kesenian bukan mesti harus dari pelaku kesenian. Pengelola kesenian mesti harus dari orang yang mumpuni di bidangnya.

Hal ini yang disadari oleh Komunitas Seni Nan Tumpah sebagai salah satu komunitas kesenian yang sangat konsen dan produktif dari 2009. Hal ini terbukti dengan begitu banyak pertunjukan-pertunjukan berkualitas yang dihadirkan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah kepada para penonton. Kepiawaian menempatkan orang pada bidangnya ini menjadi salah satu ciri khas dari komunitas kesenian profesional.

Selama ini sebahagian besar komunitas-komunitas kesenian lebih banyak fokus pada penggarapan naskah hingga sampai di atas panggung. Namun lupa bagaimana cara menggarap penonton, bagaimana cara mempertahankan penonton lama dan mendatang penonton baru. Bagaimana cara men-delete stigma di kepala penonton bahwa kesenian itu hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu saja. Pertanyaan saya yang mendasar itu, untuk apa dilakukan pementasan kesenian kalau ternyata para penontonnya tidak mengalami perkembangan signifikan dari tahun ke tahun?

Komunitas Seni Nan Tumpah menyadari bahwa pertunjukan kesenian bukanlah sekadar urusan menggarap naskah ke atas panggung. Pertunjukan kesenian jauh lebih komplit. Pelaku kesenian harus mampu menampilkan pertunjukan berkualitas. Pelaku kesenian harus mampu melahirkan generasi-generasi suci pertunjukan. Pelaku kesenian harus mampu mempertahankan penonton lama. Pelaku keseniaan harus mampu menggarap penonton baru. Pelaku kesenian harus, mampu mendatangkan kecintaan dalam diri penontonnya. Pelaku kesenian harus berkaloborasi dengan banyak pelaku keseniaan.

Menyadari hal tersebut Komunitas Seni Nan Tumpah terus melakukan terobosan-terobosan dalam pementasan seni pertunjukan. Pertama, Komunitas Seni Nan Tumpah melakukan terobosan pemisahan manajemen. Ada manajemen produksi. Ada manajemen artistik. Satu manajemen konsen pada penggarapan kualitas naskah, pemain, panggung. Satu manajemen konsen di kerjasama, membangun penonton, promosi via media sosial dan offline. Komunitas Seni Nan Tumpah membangun para pemain sehingga generasi terus tercipta dari Komunitas Seni Nan Tumpah. Secara psikologis hal ini memberikan keuntungan bagi pelaku kesenian. Penonton mendapatkan pembaharuan dari setiap pertunjukan. Ada selalu wama baru yang mereka dapatkan.

Komunitas Seni Nan Tumpah memperluas jaringan kerjasama antara pelaku kesenian. Para pelaku kesenian diajak berkolaborasi dengan Sanggar Seni Dayung-dayung, Parewa Dance Company, Teater Wadjah, Fiza Dance Company, Komunitas Tari Galang, Imaji; Rumah Drama & Penulisan Kreatif, Teater Sakata, dan pelaku-pelaku kesenian lainnya. Mengolaborasikan banyak pelaku kesenian melahirkan gagasan-gagasan baru dalam seni pertunjukan.

Komunitas Seni Nan Tumpah mendekat kepada penontonnya. Dia membangun penontonnya. Langsung terjun ke sekolah. Melakukan pertunjukan-pertunjukan di tengah-tengah masyarakat. Ikut berpartisipasi dalam lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan.

Komunitas Seni Nan Tumpah menyadari bahwa sebuah pertunjukan harus mempunyai manajemen promosi yang bagus. Dia melakukan manajemen promosi berbulan-bulan sebelum pertunjukan dilakukan. Promosi itu dengan memanfaatkan banyak jaringan media, media sosial yang selalu di-update setiap waktu dan pemasangan baliho pada titik-titik yang padat lalu lintas publik. Bahkan berpartisipasi aktif menyebarkan brosur, leaflet, dan pamflet pertunjukan.

Promosi yang kontinuitas tentunya membuat brand di dalam kepala penonton. Membangun penonton tidak cukup dilakukan sebulan sebelum mentas, apalagi satu minggu sebelum mentas. Membangun penonton membutuhkan kerja yang rapi dan disiplin dari waktu ke waktu. Komunitas Seni. Nan Tumpah terus melakukan hal itu.

Pekan Nan Tumpah 2015 merupakan bentuk kerja yang rapi dan disiplin. Tentunya ini menjadi kerja manajemen produksi profesional dan persembahan. karya artistik nan berkualitas untuk ribuan para penonton di Padang. Selamat mengikuti Pekan Nan Tumpah 2015.(*)

Bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *