Setelah melalui proses panggilan terbuka yang ditutup pada 12 Juli lalu, sebanyak 13 karya dinyatakan lolos kurasi untuk pameran seni Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025. Tim kurator memilih karya-karya yang dinilai paling relevan dengan semangat kuratorial tahun ini, dengan mempertimbangkan kekuatan ide, keberanian pendekatan artistik, serta potensi untuk memicu percakapan. Para seniman dan kolektif yang terpilih antara lain Ahmad S, Femmy Sutan Bandaro, M. Satio Negoro, Anca Putra Pratama, Misza Oktaviani, Rahma Agustina dan Nona Muzdalifah Tambunan (dalam satu kolaborasi), Jimmi Kartolo, Mija Indra Putra (Lembah Kreatif), Harpan Eka Satria, Yung Finando, Satelit Art Club, Rizky Wahyudi (Ikan di Air), dan Maysandy Haryady. Karya-karya dari jalur panggilan terbuka ini akan dipamerkan bersama karya dari peserta jalur undangan, dan menjadi bagian dari rangkaian program PNT 2025.
Nessya Fitryona, kurator PNT 2025, menjelaskan bahwa kurasi terhadap karya-karya dari jalur panggilan terbuka dalam PNT tahun ini dilakukan dengan merujuk pada kesesuaian karya terhadap tema festival. Karya-karya yang terpilih menunjukkan kemampuan menerjemahkan tema tersebut ke dalam bentuk yang lentur, berani, dan tak jarang menantang cara pandang konvensional tentang seni. Beberapa diantaranya tampil dengan gestur yang nakal—dalam arti menggugat kebiasaan, selera, atau cara produksi karya yang selama ini dianggap mapan. Kurator melihat kecenderungan kuat dari karya-karya ini untuk memperluas batas-batas pengertian seni, baik dari segi medium, pendekatan, maupun narasi. Alih-alih tunduk pada definisi seni yang kaku, mereka justru membuka kemungkinan baru: seni sebagai pertanyaan, bukan kesimpulan; sebagai proses yang terus bergerak, bukan hasil akhir yang tertutup. Dalam konteks ini, karya-karya tersebut dianggap relevan dengan semangat PNT untuk merayakan keberagaman bentuk, suara, dan posisi dalam medan kesenian hari ini.
Pekan Nan Tumpah 2025 mengangkat tema “Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah”. Tema ini mengajak pengunjung menyelami kompleksitas seni hari ini, yang tak bisa lagi dibingkai dengan dikotomi lama. Seni telah sampai di titik di mana batas-batasnya tak lagi jelas, keasliannya terus diragukan, eksistensinya tidak lagi sakral, tapi justru banal atau sengaja dibanalkan.
Dalam semangat tema “Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah”, ruang pamer akan menjadi lanskap cair—tempat seni tampil bukan sebagai monumen yang harus disembah, melainkan sebagai percakapan yang terbuka dan sesekali nakal. Dengan keluasan tema yang dihadirkan, pameran dalam PNT 2025 akan diisi oleh berbagai macam bentuk karya yang ‘serius’, karya yang bergulat dengan fungsi, desain, kemasan atau persentasi, dan juga berupa karya-karya eksperimental, seni media campuran, hibrid, atau interdisipliner
Edisi ketujuh PNT akan digelar di Fabriek Padang pada 24 – 30 Agustus 2025. Karya dari pameris PNT 2025 akan dipamerkan dalam sepekan gelaran. Mari saksikan! []
