Site icon

“Solitude” dan Catatan Singkat Malam Penutupan Pekan Nan Tumpah 2017

Bagikan!

Oleh Rio Rinaldi

Di hari ketujuh, malam penutupan Pekan Nan Tumpah 2017, penonton disuguhkan dengan sajian musik oleh Komunitas Seni Dayung-dayung yang bertajuk Solitude. Malam itu, sekaligus peluncuran album pertama Komunitas Seni Dayung-dayung.

Terdapat sepuluh lagu yang dibawakan, diaransement langsung oleh komposer sekaligus pemain gitar, Yudhistira Alin. Di antara sepuluh lagu itu, delapan di antaranya merupakan proses alih wahana (musikalisasi) dari puisi Rusli Marzuki Saria dengan judul “Berjalan ke Sungai Ngiang”, “Kau Diam Merapi Singgalangku”, “Aku Ingin Mengulangi Perang Imbang Jaya”; puisi Muhammad Ibrahim Ilyas dengan judul “Lagu Kehilangan”, “Suatu Kali di Hari Depan”, dan “Epilog”; puisi Ramayani dengan judul “Membelah Malam” dan “Mencari Kenangan Itu”. Dua lagu lagi merupakan hasil lekat tangan Yudhistira sebagai pencipta sekaligus pengaransemen dua lagu lagu itu sendiri.

Manakala lagu pertama dilantunkan (“Berjalan ke Sungai Ngiang”), semua penonton menyimaknya dengan khidmat. Lantunan musik dengan genre jazz ini mengingatkan kita dengan warna musik ala Margie Segers, penyanyi Indonesia yang cukup ternama di era 80-an. Pembukaan itu disajikan dengan kekhasan komposisi musik dengan nuansa warna lokalitas Minangkabau dan karakter vokal Dinda Alhumaira yang mewakili isi atau struktur mental dari puisi “Berjalan ke Sungai Ngiang” karya Rusli Marzuki Saria. Dan tepuk tangan bergemuruh begitu lagu itu selesai.

Seiring dengan perkembangan kelompok atau komunitas seni yang berfokus kepada musikalisasi puisi atau nyanyian puisi, tidak banyak kelompok-kelompok yang mencoba memindahkan karya sastra (puisi) ke karya  audio  visual  ini  dengan  paduan  antara  unsur  lokalitas  dengan modernitas, musik jazz. Komunitas Seni Dayung-dayung tetap konsisten dengan warna musik yang tetap khasnya.

Alunan melodi pada setiap sajian lagu mengikuti struktur fisik dan bathin masing-masing puisi pada lagu yang diaransemen. Dari melodi ini, pendengar dapat mengenal lagu atau musik apa yang sedang dimainkan. Lagu atau musik yang baik biasanya mulai dengan melodi pada nada tertentu, kemudian menaik pada bagian klimaks dan kembali menurun pada nada permulaan, keseimbangan pada permulaan, tengah, dan akhir lagu. Melodi yang terus menurun untuk waktu yang lama menimbulkan efek depresi pada pendengarnya, sedangkan melodi yang naik terus untuk waktu yang lama menimbulkan stres dan pengulangannya dengan konstan secara terus menerus menimbulkan efek hipnotis seperti pada suasana trance.

Harmonisasi pada lagu-lagu yang dimainkan menghadirkan suasana musik tertentu. Harmoni yang didayagunakan menambah kedalaman, perspektif, suasana dan atmosfer serta warna pada melodi itu sendiri. Sementara itu, susunan harmoni mayor cenderung menggambarkan keadaan positif dan sukacita sedangkan minor cenderung lebih sedih dan pesimis. Lihatlah misalnya pada “Lagu Kehilangan”. Dengan nada minor yang disusun sedemikian harmonisnya, orang yang dapat menjangkau struktur bathin dan menarik pemaknaan pada lirik puisi tersebut, ketika mendengar lagu yang disajikan, ia lebih tersentuh lagi. Pasti. Bahkan (mungkin) sempat melinangkan air mata. Lebih-lebih, sajian “Lagu Kehilangan” itu dilengkapi dengan pembacaan puisi oleh Muhammad Ibrahim Ilyas. Dan sudah barang tentu, suasana makin menekan puncak perasaan penikmatnya. Membuat dada semakin sesak. Bukankah begitu?

Tidak hanya itu. Irama yang teratur dalam setiap musik membuat setiap musik bergerak dan memiliki jiwanya masing-masing. Pengendalian dijaga agar irama tidak merusak musik. Upaya Komunitas Seni Dayung-dayung agar membuat musik tidak sakit; dan agar memiliki kekhasan irama, membuat musik-musik yang disajikan  itu  menjadi hidup. Hal itu diseimbangi oleh permainan saxophone. Bersama melodi dan harmoni, irama dalam lagu-lagu menjadi seimbang; yang terpadu seperti halnya keseimbangan tubuh, mental dan rohani.

Perlu disadari bahwa irama tidak saja dapat dibentuk melalui penggunaan instrumen biola misalnya, seperti yang kebanyakan kita ketahui, tetapi manipulasi penggunaan suara dan harmoni juga dapat membentuk irama tertentu. Tak hanya berhenti di situ. Variasi kekuatan atau penekanan pada bagian tertentu (intensitas) dalam lagu atau musik dan pelan-kerasnya (volume) sebuah lagu atau musik yang diperdengarkan betul-betul diperhitungkan dengan matang. Maka menjadi tepatlah pilihan puisi-puisi yang dibangun menjadi sebuah musikalisasi, yang sesuai dengan roh puisi dan musik sendiri.

Performer, penyanyi, atau instrumentalis, bahkan komposer adalah para ibu-bidan yang mencoba melahirkan kembali karya puisi yang sudah lahir dari rahim penyair. Dapatlah dikatakan bahwa mereka, performer, penyanyi, atau instrumentalis, merupakan penafsir pertama. Mereka telah menafsirkan karya- karya yang sudah “dibedung” dengan bahasa sebagai media penyampaiannya. Dengan alat-alat persalinan, seperti gitar akustik, bass, cajon, saxophone, dan perkusi amat mendukung keseimbangan dan keselarasan unsur melodi, irama (rhytm), harmoni, vokal, dan unsur-unsur lainnya. Penonton, yang pernah bersinggungan langsung dengan teks puisi-puisi dari penyair tersebut, merupakan penafsir kedua. Mereka masing-masing telah menafsirkan keberhasilan atau kegagalan (?) pemindahan dari teks menjadi karya audio visual yang digarap oleh kelompok seni Dayung-dayung.

Dan akhirnya. Ah! Dan akhirnya. (pause). Malam itu, perhelatan Pekan Nan Tumpah 2017 telah selesai dan berakhir dengan sukacita. Dan tentu, segala kritik dan saran yang bersifat mendukung telah ditampung dengan hati yang lapang oleh penyelenggara demi kemajuan event ini di dua tahun mendatang. Selamat Bang Atma! Selama Komunitas Seni Nan Tumpah! Selamat bagi semua peserta yang turut memeriahkan Pekan Nan Tumpah

2017! Selamat pula bagi pemenang liga baca puisi! Semoga ke depannya, iklim kesenian Sumatra Barat dengan tidak melupakan pencarian tanpa batas, menjadi semakin membaik.

Kalau ada sumur di ladang, boleh Atma menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, bolehlah Atma mempertemukan kami kembali. Ahai! Wassalam.

Padang, 29 September 2017

Bagikan!
Exit mobile version