Oleh Nasrul Azwar
(Pernah diterbitkan di Padang Ekspres, 1 Desember 2019)
Atap seng bekas berjejer memagari bibir pentas. Sepintas, seng berkarat bak perisai polisi antihuru-hara menghadang demonstran. Pentas “dirasuki” musik keras. Lima laku penari secara personalitas mereprentasikan kekerasan sosial dan ekonomi.
Geraknya tegas, berenergi, dan bertenaga. Komposisi dan konstruksi koreografi yang dihadirkan di atas panggung seperti galibnya makna geometri yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang dalam ilmu ukur tapi tanpa keteraturan atau kaos. Tubuh penari telah mencapai keinginan dari konsep pelisanan tubuh.
Seng rongsokan menjadi pemaknaan pada kondisi sosial masyarakat miskin kota. Seng dibangun seperti ruang tempat mandi atau kakus yang jadi pemandangan biasa di pinggir-pinggir sungai di perkotaan. Seng juga manifestasi kemarahan sosial, konflik sosial, huru-hara, kekacauan, kekalutan, kerusuhan, ketegangan, pergolakan ketidakadilan, anarki, onar, semrawut, dan simpang siur. Pentas pada malam itu penuh simbol ketegangan.
Itulah yang ditampilkan Venny Rosalina dari Kelompok Payung Sumatera Dance Theater Padang dengan koreografi berjudul “Geometri” pada Sabtu, 23 November 2019 di Gedung Mursal Esten FBS UNP. Pementasan “Geometri” rangkaian Pekan Nan Tumpah 2019 yang digelar sejak tanggal 16-24 November 2019, yang lokasi pelaksanaannya di dua tempat, yakni untuk pameran seni digelar di Galeri Taman Budaya Sumatara Barat sedangkan pertunjukan seni FBS UNP.
Dalam perhelatan dua tahuan yang diinisiasi Komunitas Seni Nan Tumpah ini, dari hasil kurasi. menampilkan 6 kelompok seni, yaitu Teater SKS (Padang), Wan Dance Studio (Pekanbaru), Darak Badarak (Pariaman), Hujan Hijau Dance-Lab (Lampung/Yogyakarta), Fieldtrip Performing Art (Wonosobo), dan Payung Sumatera Dance Theater (Padang) dengan bingkai “Lisan Tubuh. Sedangkan untuk pameran seni rupa mengambil tema “Langgam Rupa” yang diikuti 9 perupa muda Sumatera Barat, yaitu Benny Saputra, Brian Fadli Fahmi, Erik Darma Utama, Gendi Malinyo, Hanif Hamdani, Huddiyal Ilmi, Imam Teguh, Salman Hijrah, dan Thariq Munthaha.
Sementara Komunitas Seni Nan Tumpah (Padang Pariaman) sebagai tuan rumah tampil tapi tidak masuk dalam kurasi.
“Lisan-Tubuh” sebagai Tumpuan Tulisan ini tak membincangkan tujuh karya seni penampil dan karya rupa yang dipamerkan tapi lebih menaruh perhatian pada soal konsep dan pentingnya memberi batasan pada sebuah festival agar isunya lebih fokus. Makanya, “Lisan-Tubuh” yang menjadi dasar kuratorial dan dimaknai penampil seni pertunjukan dalam PNT ini, perlu dijelaskan secara detil kendati sebagian besar dari isi artikel ini sudah ada dalam pengatar buku
Dalam buku Kreativitas Teater: dari Teks ke Pemanggungan ditulis Benny Yohanes (2016) membentangkan tiga ragam orientasi penciptaan karya seni kontemporer.
Pertama, seni melakukan defisation (defisasi) terhadap pengalaman nalar dan kemanusiaannya. Defisasi berkaitan dengan upaya seni mencairkan dan menggemburkan kembali dogma-dogma seni yang mengeras karena adanya sakralisasi, mistifikasi, dan institusionalisasi asas-asas penciptaan seni.
Kedua, seni melakukan interuption (interupsi) terhadap situasi rutin dan kemacetan petualangan nalar dan estetika seni. Ia berkaitan dengan pemecahan struktur internal dan eksternal seni. Orientasi ini mengakselerasi model-model alternatif penuangan gagasan artistik dan menguji kembali pende- katan dan komunikasi seni untuk memperoleh kembali makna hakiki seni.
Ketiga, seni yang bekerja dengan across boundaries (melintas batas) terhadap batas disiplin dan konvensi seni. Dengan melakukan across boundaries dunia seni dapat melakukan korelasi yang progresif dengan ranah pengalaman kontemporer manusia. Orienasi ini memungkinkan pengayaan cara ungkap seni sekaligus membuka tantangan dari ancaman disfungsional seni secara sosial dan kultural.
Tiga kecenderungan di atas menjadi pijakan penting dan utama pada peristiwa budaya yang dinamai dengan Pekan Nan Tumpah (PNT) 2019. Peristiwa budaya ini telah digelar dengan tematik berbeda-beda untuk kelima kalinya dengan konsistensi karya seni pertunjukan kontemporer berbasis tradisi.
Sandaran utama dasar dan basis kerja seni kreatif (kontemporer) bersama segenap ruang-ruang sarat dengan tafsir-tafsir yang mampu menembus kebuntuan, mencairkan sekat dan lalu mewujudkannya sebagai karya seni (pertunjukan), seni rupa, sastra, dan seni media lainnya, merupakan satu metode merawat dan sekaligus penyintas seni tradisi yang dicemaskan akan menjadi artefak masa lalu.
Untuk mencapai sebuah karya panggung seni pertunjukan (kontemporer), tentu saja perlu membuka lebih luas sudut pandang, melebarkan perspektif, dan mereaktualisasi serta revitalisasi dengan leluasa terhadap semua seni-seni tradisi (lisan) yang dijelmakan sebagai cara kerja proses berkesenian. Cara begini menjadi basis utama dan pokok.
Lisan-Tubuh: Sintas
Berangkat dari hal di atas itu, tema kurasi Pekan Nan Tumpah (PNT) 2019 tak jauh dari problematik penyintas seni-seni tradisi (lisan) eksistensinya yang kian mencemaskan itu.
Pemaknaan “Lisan-Tubuh” dikesankan sebagai upaya menghadirkan seni pertunjukan kontemporer yang titik pijaknya pada seni-seni tradisi (lisan) yang masih bertahan hidup di tengah masyarakat sebagai proses penciptaan seni. Sedangkan “tubuh” merupakan perangkat ungkap dan laku yang sudah men- jadi medium konvensional dalam sejarah pemang gungan seni.
Konstelasi “tubuh” itu sendiri juga akan membuka “teks-teks” visual, bisa jadi visualisasi yang baru, juga bisa repetitif. “Lisan-Tubuh” itu diharapkan konsep garapan kreatif yang terintegrasi dan inheren saat ia menjadi sebuah seni pertunjukan. “Lisan-Tubuh” tak mengungkung dirinya dalam pemaknaan berupa pelisanan teks lisan tetapi ia akan masuk secara leluasa pada bebunyian, tarian-tarian tradisi yang telah lama hadir di tengah masyarakat.
Jauh sebelum batasan seni pertunjukan (modern) dilabelkan seperti saat ini, sesungguhnya seni-seni pertunjukan tradisi yang diperkuat dengan cara pelisanan yang tumbuh di tengah masyarakat, sep- erti pertunjukan randai, salawat dulang, pertunjukan rabab, dan seterusnya, dalam aktivitas kehidupan tradisi di nagari-nagari di Minangkabau, sesungguhnya merupakan seni pertunjukan (performing arts) dalam konteks yang berbeda, tentunya.
Seni tradisi (lisan) sebagai seni pertunjukan telah mengemban sejarah yang panjang di Nusantara ini. Sesungguhnya ia bukan hal baru lagi. Kendati begitu, kekayaan tradisi lisan itu-kendati sudah banyak bertransformasi ke media teks tulis berupa kitab atau buku dan digital-seperti teks-teks lisan kaba/cerita rakyat, interpretasi kreatif seniman terhadapnya, akan membuka dimensi baru.
Kaba yang hidup di Minangkabau merupakan salah satu seni lisan atau cerita-cerita rakyat yang kini telah menjelma menjadi teks buku dan juga digital. Tentu saja ini sedikit membantu kreator member makna pada garapannya.
“Lisan-Tubuh” diharapkan mampu memancing kreator lalu memunculkan beragam gagasan dan ide kreatif terhadap seni pertunjukan di Indonesia.
Bagi publik-taruhlah penonton-“Lisan-Tubuh” yang menjadi peristiwa budaya di panggung, tidak menutup kemungkinan membuka pemahaman baru bagi masyarakat terhadap seni-seni (lisan) Minangkabau yang kaya dengan nilai-nilai sebagai media tontonan seni pertunjukan kontemporer.
Selain itu, “Lisan-Tubuh” sangat terbuka memunculkan gerakan yang inspiratif bagi seni tari, musik, seni rupa, dan sastra.
Maka, dari paparan di atas, “Lisan-Tubuh” dikesankan untuk dapat dimaknai sebagai sistem dan konsep kerja seni kreatif pemangungan seni kon- temporer dalam iven berkala PNT 2019. “Lisan-Tubuh” sistem yang akan menjadi ciri dan identitas sebuah kelompok yang memanggungkan karyanya. Kreator jadi kunci dari semua elemen seni pemanggungannya, baik itu teater, musik, dan tari.
Selain itu, “Lisan-Tubuh” yang dijadikan titik tolak proses kreatif seniman, dalam pengertian lebih luas meriupakan semangat kembali ke identi- tas budaya yang sesungguhnya.
“Lisan-Tubuh” merupakan sebuah reaksi ter- hadap hegemoni budaya yang melekat pada budaya global, berupa homogenisasi atau penyerag aman budaya secara kolosal, yang menyebabkan semakin sempitnya ruang gerak, merosotnya pamor budaya-budaya tradisi (lokal) sehingga menimbul- kan kekhawatiran akan lenyapnya budaya tersebut.
Kekhawatiran tersebut telah mendorong munculnya berbagai bentuk perjuangan budaya, khususnya perjuangan representasi budaya (cultural representation), yang di dalamnya respek terhadap akar-akar budaya lokal digunakan sebagai senjata untuk menentang kekuatan impersonal, predator dan anonim globalisasi.
Menurut Yasraf Amir Piliang (2003) revitalisasi seni-seni tradisi dapat dipandang sebagai sebuah upaya ‘reteritorialisasi kultural’ yaitu upaya bagi reposisi kultural pasca rezim otoriter (rezim penyeragaman), yang di dalamnya diperjuangkan sifat-sifat kebebasan, otonomi, pluralitas, dan penentuan diri sendiri.
Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah kebudayaan-kebudayaan lokal yang bersifat otonom tersebut tidak berada di dalam sebuah ‘ruang hampa’ yang mempunyai kekuasaan tak terbatas dalam perumusan bentuk dan strategi budayanya masing-masing.
Maka dengan demikian, “Lisan-Tubuh” tak menutup kemungkinan para kreator menciptakan karya seni, dalam pengertian luas kebudayaan, yang ‘lebih kuat, ‘lebih aktif, ‘lebih produktif, ‘lebih sehat, ‘lebih dinamis. “Sistem-sistem budaya lokal harus diperbaharui, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat kontemporer,” kata Yasraf. Singkatnya, ia harus diberi ‘nafas baru’ (new spirit). Akan tetapi, revitalisasi budaya lokal harus dilakukan secara sistematis dan terencana.
Berbagai pertimbangan mendalam pada tingkat filosofis, strategis maupun praksis haruslah dilakukan, agar budaya lokal tidak hanya menjadi ‘obyek’ globalisasi, melainkan ‘subyek’ yang berperan dalam membentuk perkembangan globalisasi itu sendiri, sekaligus memperkuat karakter masyarakat pendukungnya, terutama generasi muda.
Tubuh yang Mengungkap
Tentu itu bukan hanya terjadi di Sumatera Barat. Masalah serupa juga terjadi dan dihadapi daerah- daerah lainnya di Indonesia. Artinya, beragam sastra lisan jenis legenda yang demikian kayanya di negeri ini, belum maksimal dijadikan spirit dan inspirasi seni pertunjukan modern. Tepatnya belum inheren. Masih sporadis.
Perjalanan kesenian (khusus seni pertunjukan) masa depannya adalah seni yang mampu menjelaskan identitas kulturalnya. Seni yang menanamkan sebelah kakinya pada spirit tradisi yang tumbuh bersama dengan sejarahnya. Jika seni pertunjukan tak melihat tradisinya, maka ia dengan sadar menafikan “tubuh” seni itu sendiri.
Yang pasti, sastra lisan dengan beragam jenisnya itu, di dalam masyarakat tradisional bukanlah kegiatan pribadi tapi kegiatan komunal. Sebagai kegiatan komunal, maka kehidupan suatu kesusastraan tradisional banyak ditentukan oleh komunitasnya. Apakah perlu dikembangkan atau akan ditinggalkan, sepenuhnya bergantung kepada khalayak, komunitasnya.
“Lisan-Tubuh” merupakan konsep sebagai salah satu upaya pengembangan sastra lisan dengan mengsinergikan kearsipan baik jenis teks, audio, maupun audio-visual kaba-kaba dan seni tradisi lainnya dengan menghadirkannya dalam seni panggung modern. “Lisan-Tubuh” dalam iven ini PNT 2019 ujungnya akan menghasilkan seni pertunjukan yang sudah melewati reaktualisasi, restorasi, reinterpretasi, revitalisasi oleh para kreator. Di atas panggung terbentang seni-seni lisan (tradisi) dari tafsir kreatif yang baru bagi penonton atau publik.
“Lisan-Tubuh” mempertegas spirit seni lisan yang sudah mengalami metamorfosis, dan muncul- nya simbolisasi baru. Tentu, bagi hal ini memperkaya khazanah seni pertunjukan Indonesia.
Kendati begitu, 7 penampil dalam PNT 2019, tak seutuhnya memaknai lebih jauh penjelasan panjang lebar tentang “Lisan-Tubuh” itu, tapi mereka telah bekerja untuk kesenian. (*)
