Site icon

Menjelajahi Makna Melalui Penafsiran; Sebuah Catatan Pertunjukan Komunitas Seni Hitam Putih

Bagikan!

Catatan Pertunjukan Komunitas Seni Hitam Putih di Pekan Nan Tumpah 2017

Oleh Rio Rinaldi

“Bapak sedemikian menggolongkan diri ke dalam barisan pembunuh-pembunuh yang memenuhi penjara-penjara. Sedangkan Bapak adalah Seniman. Seorang seniman besar!

Berkali-kali kalimat-kalimat itu dilontarkan oleh tokoh “Anak Muda” yang seterusnya kehadirannya sebagai suspens. Tokoh “Anak Muda” itu berbolak-balik, maju-mundur, berputar arah sambil menenteng multiliur. “Bulan Bujur Sangkar” ditulis oleh Iwan Simatupang dan pernah dimuat pada majalah Siasat tahun 1960. Absurdisme, sebagaimana yang kita ingat pula pada drama-drama Eugene Ionesco, bahwa logika, plot, dan perwatakan bukanlah segala-galanya. Tidak terikat dan tidak pula mau diikat. Vitalitas Iwan dengan gigih mempertahankan individualitas dan kebebasan bermartabat bagi manusia. Dan sebagai individu yang bebas, Iwan mencoba bereksperimentasi dalam kiblat sastra pada masa itu. Filsafat yang dangkal menjadi sasaran atau orientasi isi.

Di malam kelima Pekan Nan Tumpah 2017, oleh Komunitas Seni Hitam Putih, naskah tersebut diolah dan disajikan sedemikian rupa yang pertunjukannya disutradari oleh Dr. Yusril sebagai sebuah pertunjukan yang apik.

Tak diragukan lagi. Sebermula, sebelum masuk gedung pertunjukan, saya sudah mengira. Hasil lekat tangan Yusril malam itu pasti mengejutkan. Tiket yang dibeli penonton tak sia-sia.

Kehadiran dua aktor, “Anak Muda” dan “Orang Tua”, dibarengi dengan instrument musik metal. Sajian musik pengantar itu mengalihkan konsentrasi penonton dari panggung ke posisi pemain musik yang berada di tengah- tengah penonton. Dan selanjutnya, kalimat-kalimat pada kutipan di atas dituturkan berulang-ulang .

Pertentangan, orang muda dengan orang tua, orang tua dengan perempuan, dan orang tua dengan dirinya sendiri, diciptakan mengikuti alur konvesional. Sebagai penafsir kedua, pertunjukan itu telah mengalahkan imajinasi saya terhadap suasana pentas dan proses pemaknaan, yang sebelumnya klise untuk ditafsirkan. Tugas Yusril sebagai penafsir pertama (sutradara) telah bertanggung jawab penuh dalam menafsirkan dan menghidupkan teks sastra (naskah drama) dengan kemampuan visualisasi imajinasinya.

Melalui penafsiran terhadap teks tersebut muncullah kemudian kesan- kesan tertentu sebagai buah dari proses kerja yang panjang. Seluruh hasil perenungan sutradara tentang persoalan yang terkandung di dalam teks membuahkan kesan berupa apa yang tampak (persoalan pementasan dan penyutradaraan).

Yusril, sebagai penafsir pertama, mengongkretkan persoalan manusia, orang tua dan orang muda, yang harus hidup seorang diri (menuju kematiannya masing-masing) di alam semesta. Kehidupan manusia hanya mempunyai makna jika ia dapat melepaskan diri dari semua ikatan dan kebiasaan sosial yang dianut tanpa pikir dan logika oleh masyarakat ramai. Dengan menghindari kebiasaan dan kehidupan masyarakat satu pihak, manusia kesepian, tapi di sisi lain ia bebas.

Sementara itu, penafsir kedua, dimaksudkan sebagai pembaca atau penonton, menafsirkan persoalan sewaktu menyaksikan sebuah pementasan drama. Artinya, pembaca yang dalam hal ini penonton, ketika keluar dari gedung pertunjukan, telah menafsirkan hasil pembacaannya terhadap teks, lalu membandingkan dengan apa yang ia saksikan di atas pentas atau yang diperolehnya dari penafsir pertama.

Sebagai penafsir kedua, saya menginterpretasikan “Bulan Bujur Sangkar” begini. Bulan, benda bulat atau bundar (ingat bentuk tali gantungan), yang  dicita-citakan,  yang  hadir  pada  malam  hari  atau  diujung  waktu (kematian), indah, dan tunggal (ingat perempuan yang datang menemui tokoh Orang Tua). Bila menyebut frasa bujur sangkar, kita diingatkan dengan pintu tiang gantungan yang bentuknya bujur sangkar. Bulan dicita-citakan pada penutup waktu karena keindahannya, dan tentu tunggal oleh seorang algojo atau orang tua di bujur sangkar (di pintu tiang gantungan).

Pendeknya, bila menyebut kata bulan (yang bulat atau bundar) dalam konteks ini, kita tentu diingatkan dengan tali gantungan yang terjuntai pada pintu tiang gantungan yang berbentuk bujur sangkar di atas pentas. Bila dikaitkan dengan isi cerita, Bulan Bujur Sangkar kemudian dapat ditafsirkan sebagai cita-cita, atau yang dikehendaki dan selalu ada dalam pikiran. Konsepsi yang demikian itu mengarahkan pemikiran saya terhadap akhir cerita, bahwa tokoh Orang Tua mengalami konflik bathin. Perempuan yang semula menemuinya tanpa memberi nama atau jejak yang nyata, dikabarkan tewas gantung diri di sebuah pohon dengan kondisi telanjang (barangkali diperkosa, atau mungkin saya salah). Sehingga ia berkata, bulan bujur sangkar tak terbit lagi. Perempuan yang diinginkannya telah pergi. Lantas, karena tak kuasa dengan kecamuk dirinya, algojo itu, orang tua itu, mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Tiang gantungan yang dibuat selama bertahun-tahun, diperuntukkan bagi lehernya sendiri. Untuk kematiannya sendiri.

Barangkali, antara si penafsir pertama dan kedua bisa saja sama persepsinya. Dan tidak tertutup kemungkinan juga, penafsir pertama dan kedua akan berbeda. Untuk itulah, tidak hanya ketika menciptakan saja butuh perenungan panjang, tetapi ketika membaca dan menyaksikan karya sastra pun butuh perenungan yang panjang. Untuk apa? Kita kembalikan saja ke persoalan semula, yaitu untuk menjembatani karya sastra sebagai alat menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia yang sesungguhnya. Pendeknya, jika persoalan itu terjadi di kehidupan nyata (karya sastra), maka begitulah cara menyelesaikan seharusnya (kehidupan nyata).

Penafsiran Yusril terhadap isi cerita dan bagaimana menutup cerita, memiliki persepsi yang sama ketika saya membaca naskah secara berulang-ulang. Namun demikian, konsepsi pentas dan penyutradaraan tetap memiliki nilai tersendiri atas pertunjukan yang disajikan malam itu. Ada yang menyentuh perasaan pada pertunjukan Komunitas Seni Hitam Putih malam itu. Pada tahap resolusi, setelah tokoh “Gembala” memberitakan tentang kematian seorang perempuan, yang diam-diam dicintai oleh “Orang Tua”, yang mati karena gantung diri, ia lenyai. Betul-betul seperti dirasuki rasa sesal. Dan pada akhirnya, tokoh “Orang Tua” memilih mengakhiri hidupnya di tiang gantungan.

Semula saya mengira bahwa akhir dari pertunjukan itu bukanlah berujung dengan kematian, melainkan dengan cara yang lain. Tapi ada hal yang memang tak bisa dibelokkan. Kematian tokoh “Orang Tua” adalah sebuah keharusan. Kematiannya seiring dengan kecintaannya terhadap perempuan yang mati lebih dulu gantung diri di sebuah pohon itu; sama tragisnya. Berarti persepsi dan penafsiran kita sama, Pak.

Ia pembunuh, oleh sebab itu ia ada. Sebelum tubuhnya, logikanya telah lama mati. Ia menciptakan tiang gantungan sebagai awal sekaligus akhir bagi perjuangan dan cita-citanya. Babi hutan berturunan dari pegunungan. Buah delima habis mereka injak-injak. Bulan bujur sangkar tak terbit lagi. Kematian betul-betul menjemputnya, lewat jendela napas yang bertengger di leher “Orang Tua” itu. Dan pada akhirnya, meski sempat berjabat tangan pada Om Yusril usai pementasan malam itu, di kesempatan ini, saya ingin kembali mengucapkan sekali lagi selamat kepada Komunitas Hitam Putih! Sampai jumpa di pentas pertunjukan lain!

Padang, 28 September 2017

Bagikan!
Exit mobile version