Site icon

Baribuik Indang; Indang Lapak Galembong Tigo (Proses Pengembangan Kesenian Tradisional)

Bagikan!

Catatan Pertunjukan Komunitas Tari Galang di Pekan Nan Tumpah 2017

Oleh Rio Rinaldi

Proses pengembangan kesenian di Minangkabau seiring dengan proses pengembangan tatanan kehidupan sosialnya, terutama setelah munculnya pendidikan sekuler dan pendidikan madrasah Islam. Mulai saat itu, kesenian tradisional dipandang sebagai produk kaum parewa, yang oleh kalangan berpendidikan sekuler dipandang sebagai kesenian kelas tidak berpendidikan, sedangkan oleh kalangan madrasah dipandang sebagai kesenian orang yang ingkar.

Golongan kalangan sekuler dipengaruhi oleh tradisi Barat. Sementara itu, pihak madrasah mengembangkan kesenian Islam yang mempunyai dua kutub sebagai orientasinya, yakni golongan Mekah yang mengembangkan kesenian rebana, sedangkan golongan Mesir mengembangkan gambus.

Di kalangan masyarakat sendiri, setiap kutub yang ada tetap di tempatnya masing-masing. Meskipun demikian, pemahaman golongan parewa, golongan surau, dan golongan angku-angku tidak lagi mengentara di permukaan kehidupan sosial.

Agaknya, paradigma di atas lantas kini berkembang menjadi lebih dinamis. Dikotomi sudah lama ditinggalkan. Ketika Taman Ismail Marzuki menyediakan kesempatan semuanya bersentuhan, terjadi hubungan. Lewat berbagai festival kesenian tradisi, modern, kontemporer serta bandingan aneka pertunjukan dari mancanegara, tiba-tiba teater tradisi dan teater modern menjadi ”kawin”. Demikian halnya dengan Pekan Nan Tumpah 2017, sentuhan pertunjukan antara seni tradisi dan modernitas berbaur selama tujuh hari.

Meskipun modernitas sudah sejak lama diterima baik untuk bergandengan dengan tradisi, kesenian sebagai permainan rakyat pada dasarnya belum beranjak dari bawaan tradisional. Pembauran antara tradisi dan modernitas yang dimulai sudah sejak lama hingga saat ini, berlangsung tidak hanya dibangku sekolah saja, tetapi sampai kepada kesenian yang tumbuh dan berkembang di lingkungan luar pendidikan. Sebagai salah satu manifestasi kelompok kesenian yang tumbuh dan berkembang di luar pendidikan (bangku sekolah) dan memadukan tradisi dan modernitas, Galang Dance Community yang dinahkodai oleh Deslenda sejak tahun 1991 itu sebermula bernama Kelompok Olah Tari Galang.

Kelompok ini muncul dengan pijakan pemanfaatan potensi dan kekayaan tradisi Minangkabau sebagai landansan pengayaan dalam penciptaan karya tari modern atau kontemporer. Hingga kini, bersama Galang Dance Community, Deslenda telah melahirkan puluhan karya koreografi yang disajikan mulai dari kancah regional, nasional, hingga internasional. Dan kembali, malam itu, tepatnya malam tanggal 24 September 2017, dua pertunjukan koreografi karya Deslenda berlangsung di Taman Budaya dalam rangka Pekan Nan Tumpah 2017. Karya koreografi yang pertama, yakni Baribuik Indang (dapat bermakna berebut nyanyian atau bisa secara pragmatis bermakna mempertengkarkan kepentingan) yang berorientasi kepada struktur narasi tentang kondisi hari ini yang masih berkisah pada persoalan perebutan (apapun) yang relatif, dalam tatanan sosial dan kehidupan yang semakin panas. Persoalan tersebut jika tidak disikapi dengan matang, maka […..]. oleh sebab itu, Minangkabau sebagai wilayah yang sarat dengan pertentangan sering dimanfaatkan sebagai sumber ide dalam penciptaan seni.

Karya koreografi kedua dari Deslenda bertajuk Indang Lapak Galembong Tigo. Pertunjukan ini dikemas dengan mengolaborasikan dua kesenian daerah, yakni indang dengan (pola) randai. Indang Lapak Galembong Tigo, disajikan dengan sentuhan dua kesenian daerah, yakni indang dengan pola randai. Permainan randai pada dasarnya dibawakan oleh banyak pemain. Mereka membentuk lingkaran sambil melangkah kecil-kecil secara perlahan, lantas diikuti nyanyian secara bergantian. Sebelum menyanyi, mereka membuat gerakan pencak dengan langkah maju, mundur, ke dalam memperkecil lingkaran, lalu keluar lagi.

Lebih lanjut, dalam konvensi permainan randai, ada kalanya mereka menyepak, menerjang, atau upaya untuk memukul dengan tangannya. Sesudah itu, para pemain berjalan sambil bernyanyi. Semua gerakan pencak dituntun aba-aba salah seorang dari pemainnya. Mula-mula seseorang menyanyikan sebait pantun, atau sepotong kisah atau kaba. Setelah itu, kembali mereka melakukan gerak pencak.

Indikasi randai berasal dari kata andai-andai dengan awalan bar sehingga menjadi barandai, yang artinya berangkaian secara berturut-turut atau suara yang bersahut-sahutan. Komposisi ini dilengkapi dengan gerakan tari yang mengandung unsur modernitas. Namun, unsur dominan yang mewarnai Indang Lapak Galembong Tibo adalah gerakan-gerakan tradisional.

Selain pengaruh kebudayaan dari luar itu, perbedaan geografis, yaitu darek (darat) dan pasisia (pesisir) juga menyebabkan adanya perbedaan corak dan gaya permainan rakyat. Perbedaan ini selaras dengan mamangan luhak bapanghulu, rantau barajo. Pengaruh kebudayaan luar sangat kuat di wilayah pesisir sehingga permainan rakyat di wilayah ini lebih beragam. Selain yang bersifat Minangkabau, kesenian yang berasal dari kebudayaan Islam Syiah cukup dominan, seperti tabut, debus, salawat dulang, termasuk indang.

Dengan demikian, permainan rakyat Minangkabau sebagai bagian dari kesenian tradisional bersifat terbuka, oleh rakyat untuk rakyat, sesuai dengan sistem masyarakat yang demokratis, yang mendukung falsafah persamaan dan kebersamaan antara manusia. Oleh sebab karena ia terbuka sebagai milik umum, permainan rakyat mudah berubah akibat persentuhan dengan kebudayaan luar. Pengertian berubah bisa bermakna sebagai perkembangan, memperkaya, atau memperbanyak. Persentuhan dengan kebudayaan luar ialah akibat peranan tradisi dalam sejarah sejarah sebagai bagian dari manifestasi suku bangsa yang menerima hubungan dengan pihak luar. Inilah upaya yang telah dilakukan oleh Deslenda dalam pertunjukan malam itu. Dalam rangka memperkaya dan mengembangkan kesenian dengan tidak melupakan tradisi, modernitas hadir mewarnai dan menambah nilai estetik melalui gerakan- gerakan lain (atau bersifat nontradisi)

Sebagian pengaruh kebudayaan asing atau luar itu menyatu atau mengubah permainan rakyat Minangkabau, tetapi ada juga yang tetap terpisah dalam pelaksanaannya, seperti terpisahnya minyak dengan air dalam satu belanga. Namun demikian, dikotomi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh seniman-seniman kontemporer, seperti hal bagi Deslenda. Dengan digandengkannya unsur tradisional (musik dan gerak) dengan modernitas (gerak nontradisi), kesenian kontemporer telah mencipatakan harmonisasi tersendiri bagi seni koreografi.

Padang, 25 September 2017

Bagikan!
Exit mobile version