Catatan Pertunjukan Seruni Orchestra pada Pekan Nan Tumpah 2015
Oleh Alizar Tanjung
(Pernah diterbitkan di Metro Andalas, 28 Desember 2015)
Sentuhan non konvensional pada artistik panggung. Itulah kesan pertama kali yang ditawarkan kepada penonton ketika memasuki ruangan pertunjukan orkestra yang dibawakan oleh grup Seruni Music Orchestra, Selasa, 22 Desember 2015 di Teater Utama Taman Budaya Sumatera.
Kertas kerja berbentuk gumpalan-gumpalan kertas putih yang diremukkan, menyerupai bola kertas, bertebaran di atas panggung. Bola-bola kertas ini mendominasi panggung. Hampir tidak ada ruangan panggung tersisa tanpa bola-bola kertas. Ranting-ranting disusun sedemikian rupa, sehingga mengelilingi bibir panggung bagian depan kiri dan kanan. Kursi disusun membentuk setengah lingkaran di tengah-tengah panggung. Jarak antara kursi yang satu dengan kursi yang lainnya lebih direnggangkan.
Pertunjukan Seruni Music Orchestra kali ini sangat berbeda dengan lazimnya sebuah per- tunjukan Orkestra. Pertunjukan orkestra yang lazimnya dilakukan lebih menampilkan kesan eksklusif: Penataan panggung dibuat seeksklusif mungkin. Susunan violla, violin, cello, woodwind, brass section, dibuat sangat rapat. Pemisahan hanya terjadi pada piano. Seragam yang dikenakan lebih menggambarkan gaya borjuis.
Pertunjukan Seruni Music Orchestra kali ada keinginan untuk melakukan pemberontakan terhadap konsep orchestra konvensional yang eksklusif. Pemberontakan itu dengan memberikan sentuhan konvensional artistik panggung, baik melalui komposisi kursi, kertas yang bertebaran, ranting-ranting pohon. Tentunya ini semacam keinginan mengugurkan paradigma bahwa orkestra adalah pertunjukan eksklusif yang hanya bisa dinikmati orang-orang borjuis.
Kertas-kertas yang bertebaran di atas panggung, simbol dari ide-ide kreatif sang komposer yang bertebaran sebelum orkestra dipertunjukkan. Tentunya ini sangat berla-wanan dengan interior orkestra selama ini. Simbol kertas-kertas yang ber-serakan, hal yang sama juga ditemukan pada para musikus, pencipta karya: novelis, cerpenis, penyair. Gumpalan itu adalah kertas kerja yang dicoret berulang kali. Dibuang berulang kali. Dibuat lagi berulang kali. Dibuang kali. Kemudian dibuat kali. Sehingga kertas-kertas bertebaran di ruangan kerja. Pekerjaan mencoret kertas, membuang lagi, mencoretnya lagi berlangsung sampai menemukan sebuah karya yang benar-benar bagus menurut selera pencipta karya itu sendiri.
Simbolik ini tepat sekali dengan keberadaan Seruni yang sudah berdiri satu tahun dan melakukan pertunjukan orkestra untuk kali pertama sebelum mereka melakukan launching Seruni, Februari mendatang. Ada keseriusan dalam penggarapan. Ada kerja keras yang harus terus menerus diwujudkan dan dilestarikan. Ada semangat yang dijaga dan cita-cita yang harus diwujudkan satu demi satu.
Simbolik ranting-ranting kayu semakin menguatkan sentuhan konvensional pertunjukan orkestra ini. Ranting kayu identik dengan kehidupan natural. Kehidupan yang tidak jauh-jauh dari kita. Hal Ini juga berarti perlawanan terhadap kota yang penul dengan properti-properti ron-dimiliki oleh orang-sokan yang orang borjuis.
Inilah kesan pertama yang dicoba ditawarkan oleh desain artistik Seruni Music Ochestra yang dikerjakan oleh tim artistik panggung dari Komunitas Seni Nan Tumpah.
Dari 11 repertoar, Carnival of Venice adalah salah satu repertoar yang dibawakan oleh conductor Yensharty, S Sn, M.Sn, berhasil menyihir penonton. Ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan selesai Carnaval of Venice ditampilkan. Carnival of Venice terinspirasi dari Niccolo Paganini pada abad ke-18. Paganini seorang pengarang musik serta pemain biola, viola, dan gitar dari Italia.
Ada 11 repertoar yang dibawakan pada pertunjukan ini oleh conductor Yensharty, S.Sn., M.Sn dan Firnando Sabetra, M.Pd. Sebelas repertoar itu adalah: Song of Minang Popular arranger Yensharty. In the Hall of the Mountain King orkestrasi Yensharty dan Wahyu. Carnaval of Venice arranger Yensharti. The Music of The Night orkestrasi Firnando S. Tanah Airku arranger Yensharti. Piano dan Saxophone oleh Daniel lan Rifqi Hanif. Guitar dan Flute
oleh Tri dan Wanda. Piano Viollin oleh Daniel dan Indra Saputra. Hurt arranger Daniel Guntara. Carravansary arranger Fauzan. Acapella.
Seruni Music Orchestra saat ini, merupakan satu-satunya orkestra yang ada di Kota Padang yang dirintis dan dibina oleh Esi Maestro, dosen UNP. Seruni sedang merintis karir, bagaikan anak yang sudah berumur satu tahun yang belajar merangkak. Siap menjalani dunia yang sebesar daun kelor ini. Tentunya ini merupakan gagasan brilian untuk membentuk dunia orkestra di Kota Padang.
Di balik kelebihan tentunya ada kelemahan yang menjadi tolak ukur untuk perbaikan pertunjukan-pertunjukan Seruni Music Orchestra ke depannya. Secara keseluruhan, wajar jika pertunjukan Seruni yang membuka Festival Seni Pertunjukan Pekan Nan Tumpah 2015 hari pertama ini belum sebaik yang diharapkan. Kesiapan mental dan proses panjang Seruni perlu mendapatkan perhatian serius ke depannya. Begitu juga persiapan pementasan dan pilihan komposisi yang dibawakan. Akan tetapi, Seruni Music Orchestra sebagai satu-satu grup orkestra di Kota Padang, patut untuk diapresiasi. [*]
